Delapan

Aku tahu menjadi orang tua tunggal bukanlah hal mudah. Tetapi menikah hanya karena faktor ekonomi bukanlah hal yang cukup bijaksana. Aku pernah gagal, meskipun aku tidak menyesalinya, aku tidak ingin kegagalan dalam berumah tangga terulang kembali.
"Minggu depan aku mau ke Jepang. Semoga kamu dan Rea mau ikut. Sebulan tidak ketemu Rea, aku bisa jadi zombi," kata Bram ketika selesai menidurkan Rea. Belakangan Rea memang sangat deka dengannya. Mungkin dia merindukan sosok ayah yang tidak pernah ia miliki sejak lahir.
"Pikirkan lagi tentang permintaanku menjadi suamimu. Aku tahu kamu tidak mencintaiku. Tapi, paling tidak Rea butuh sesosok ayah yang bisa menjaga dan melindunginya."
Benar. Apa yang dikatakan Bram memang benar. Dan seperti yang dia tahu, uang tabunganku mulai menipis. Aku menjual rumah dan toko untuk melinasi hutang-hutang mas Anton. Dan sisa uang yang kumiliki kugunakan untuk mengontrak rumah di Bali dan hidup sini. Sempat terpikir untuk berjualan makanan, tapi itu mungkin karen karena Rea masih balita. Bayi seusinya masih butuh perhatian dari ibunya. Mas Anton tidak pernah menanyakan kabar Rea, pun tidak pernah menyantuninya. Aku memintanya untuk bercerai, jadi aku tidak mau menuntut banyak. 
"Aku tidak bisa, Bram."
"Kalau begitu, tinggallah di rumahku setelah kontrak romahmu habis. Aku tahu kamu memiliki problem dengan keuangan."
"Nanti kupikirkan lagi. Pulanglah. Sudah larut." 
Seakan tahu bahwa aku tidak suka dengan perkataan Bram, ia pun undur diri. Sebagai orang yang berpunya, Bram tidak tinggal di komplek perumahan mewah. Rumahnya sederhana. Hanya satu lantai. Dan dia tidak memiliki pembantu. Semua ia kerjakan sendiri kecuali memasak. Dia tidak bisa. Selain itu di rumahnya juga tidak ada peralatan memasak. "Aku takut keracunan kalau belajar memasak sendiri." Candaan Bram tempo hari.
***
Rea tumbuh menjadi anak yang menggemaskan. Kini usianya menginjak dua tahun. Matanya besar, rambut lebat dan lurus, serta kulit putih putih dan lembut. 
"Din, aku berangkat dulu. Aku akan pulang larut. Tidak usah ditunggu."
Waktu memang bisa mengubah banyak hal. Pikiran, sifat seseorang, dan bukan mustahil hati manusia. Pun dengan diriku. Keadaan merubah pendirianku. Merubah pemikiranku yang akhirnya menerima Bram sebagai ayah dari Rea. Sebagai pelindung kami dan tangan yang selalu ada untuk menggenggam. Karena itu yang dibutuhkan wanita. Dada yang lapang untuk bersandar ketika beban kehidupan terasa berat.

Comments

Popular Posts