Empat

"Tadi sore bapak nyariin Mas Anton. Sepertinya ada yang penting."
"Soal apa, Dik?"
"Gak tahu, Mas. Coba besok tanyakan sendiri."
Mas Anton tidak menyahut lagi. Ia sibuk dengan laptop di depannya. Sejak sore pulang kerja, hanya itu yang dia lakukan. Baru akan beranjak dari kursi jika ia sedang ingin ke kamar kecil atau makan.
Suamiku memang pendiam. Seperti kebanyakan laki-laki pada umumnya. Jarang bicara dan terkesan cuek. Ia sangat jarang bercengkrama dengan orangtuaku, apalagi tetangga.
Pernah sekali ia diundang untuk pengajian syukuran. Sampai di rumah Mas Anton langsung mengomel. Katanya, jaman modern kok masih ada syukuran semacam itu. Motor baru, selamatan. Bikin rumah, selamatan. Mau pergi kerja ke luar daerah, selamatan. Belum lagi pada hari-hari tertentu ketika tepat di hari kematian salah satu keluarga, anggota keluarga lain yang masih hidup tidak boleh melakukan pekerjaan, bepergian jauh, apalagi memiliki hajat. Pamali kalau kata orang Jawa.
"Memang sudah adat orang sini, Mas. Mau bercocok tanam atau panen juga selamatan. Katanya, biar berkah. Pun mengingat Maha Besar Sang Pencipta Alam." Aku menjawab sebisaku. Karena sejujurnya, meskipun aku orang Kawa aku tidak terlalu paham hal-hal kejawen semacam itu.
Aku yang sedari tadi duduk di atas tempat tidur pun merebahkan diri. Saat mulai memejamkan mata, aku merasakan tangan Mas Anton menyentuh kulit. Aku menarik napas dalam-dalam ketika pria bertubuh jangkung itu mulai melepaskan satu persatu kain yang melekat di tubuhku. Ia mulai memelukku, menjadikan kami satu hingga ia benar-benar menumpahkan maghmanya di samudra yang sering ia selami. Aku mencintaimu ... Bisiknya ketika terkapar lemas di atas tubuhku. Keringatnya membanjir dan aku basah karenanya.
Pertemuan kami sangat singkat sebelum akhirnya kami memutuskan menikah. Mas Anton adalah adik temanku di Jakarta. Katanya ia sedang mencari jodoh. Tanpa malu-malu aku pun menawarkan diri. Tentu bukan karena aku tertarik ketika diperlihatkan fotonya untuk pertama kali. Tapi karena orangtuaku sudah sangat ingin melihat putri semata wayangnya menikah.
Pernikahan kami berlangsung sederhana. Tadinya ia tidak mau tinggal di kampung, apalagi berdekatan dengan mertua. Tapi, itu satu-satunya syarat yang kuajukan sebelum kami memutuskan ke pelaminan.
Aku tidak tahu banyak tentang Mas Anton. Apakah dia pernah memiliki kekasih atau tidak. Siapa saja yang pernah dekat dengannya. Makanan kesukaan, hobi, atau alasan kenapa ia mau menikah dengan seseorang yang tidak dikenalnya. Teman kakaknya sendiri.
"Aku juga mencintaimu, Mas." Aku menjawab getir. Cinta? Benarkah aku mencintainya? Atau hanya di bibir saja cinta itu? Meskipun hampir dua bulan menikah, tidak ada hal-hal yang mampu menggetarkan hatiku. Tidak ada ... bahkan, aku tidak pernah memikirkannya. Dan yang kulakukan selama ini hanya tugasku sebagai seorang istri. Melayaninya dengan ikhlas meskipun tak sepenuh hati.
Belum kering air hujan yang Mas Anton tumpahkan, bibirnya mulai mencari-cari sela bibirku. Napasnya yang memburu menerpa wajahku. Ia menghujamkannya lagi, lagi dan lagi. Mulutnya meracau. Erangannya semakin keras ketika ia menumpahkan air surgawi itu untuk kedua kalinya. Dan sekali lagi ia tergeletak lemas. Kali ini di sampingku. Dan dengkurnya perlahan mulai terdengar. Sedangkan aku masih menatap ke langit-langit. Menikmati kehampaan. Keterpaksaan dan juga rasa perih yang tidak bisa terelakkan.

0 Comments