Enam

Ketika pagi datang, biasanya sepi semakin menerkam. Tenggelam dalam kesibukan hanya untuk bisa melupakan kisah-kisah terdahulu. Tidak sepatutnya diingat, memang. Tapi tidak ada salahnya untuk kutuliskan. Aku ingin menuliskannya untuk anak yang baru lahir dari rahimku. Ia lah cinta. Keajaiban dunia yang hanya tercipta oleh tangan Tuhan. Napasnya memberikan arti baru bagiku, aku seperti hidup kembali dari kematian. Kulitnya yang masih memerah membakar semangatku untuk menjalani kehidupan. Aku tidak sendiri lagi. Ada dia, Zahra Andreadinata.
Setelah Andrea berusia beberapa minggu, aku mengajaknya pindah ke Bali. Meninggalkan kampung halaman dan hidup berdua dengan putriku semata wayang. Tadinya orangtuaku menentang, tapi akhirnya mengijinkan demi kebahagianku. Katanya, sudah cukup selama ini aku mengorbankan diriku dan hidupku untuk mereka. Dan di usia senja mereka ingin melihat putri satu-satunya bahagia dengan jalan dan cara yang dia pilih.
Bapak ibuku merasa malu pada diri sendiri karena telah gagal membahagiaakn anaknya. Gagal dalam membimbing anaknya untuk mempertahankan rumah tangga. Aku sama sekali tidak menyalahkan mereka untuk itu, karena aku tahu itu salah satu jalan Tuhan yang ditetapkan untukku.
Ketika usia kandunganku menginjak tujuh bulan, ada orangtua murid yang datang ke rumah. Wajah mereka terlihat sedang marah sedangkan seorang gadis remaja terlihat bersembunyi di balik kedua punggung orangtuanya.
"Mbak, Pak Antonnya ada?" tanyanya seketika tanpa basa basi saat aku sedang membereskan warung. 
"Sudah seminggu ini di Jakarta, Pak. Belum pulang." Aku menjawab setengah melihat ke arah gadis yang usianya masih sangat belia namun perutnya sudah membuncit sepertiku. 
" Anak saya sedang mengandung anak Pak Anton!" Suara pria jangkung yang kulitnya menghitam krena sengatan matahari mulai meninggi. 
"Laki-laki itu harus tanggung jawab!"
Mas Anton? Menghamili muridnya sendiri? Sejak kapan? Apakah selama ini pelayananku kurang? Atau karena aku sudah tidak muda lagi itu sebabnya dia mencari bunga yang masih belum mekar. Duniaku gelap dan runtuh dalam sekejap mata.

****
"Mas harus tanggung jawab. Ceraikanlah aku dan nikahi Ani. Dia masih belia dan masih sangat butuh perhatian." 
Pria yang tengah duduk di depanku mematung. Aku tidak ingin terlalu menghakiminya meskipun aku kecewa. "Itu kecelakaan, Dik. Mas khilaf," jawabnya menitikkan air mata. 
Khilaf? Tentu saja aku tidak percaya. Namun, aku juga merasa tidak berhak memarahinya jika teringat aku kerap menolak untuk bersenggama dengannya. Apalagi sejak mengetahui aku hamil, untuk urusan tempat tidur aku selalu punya alasan untuk menolak. Mulai dari kelelahan, pusing, sakit, hingga takut kalau si jabang bayi kenapa-kenapa.
Tentu saja Mas Anton tidak marah. Tapi dari sikap dan raut wajahnya, aku tahu dia kecewa. "Kecelakaan atau bukan, Mas Anton tetap harus bertanggung jawab."
"Tapi, Dik?"
Seakan tahu apa yang ingin dia bicrakan, aku pun memotong pembicaraannya. "Soal hutang-hutang kelurga, Mas. Aku akan membantu melunasinya." Mas Anton pun seperti bernapas dengan lega. Ketegangan di wajahnya mulai memudar. Mungkin dia takut ketika kami bercerai, tidak ada lagi orang yang membantu melunasi hutangnya. Dan semua itu baru kutahu belakangan ini. Aku membaca pesan dari kakaknya secara tidak sengaja. Dan dari situ aku baru tahu bahwa tidak ada cinta dari pernikahanku ini. Mas Anton tidak mencintaiku. Dia menikahiku hanya agar aku bisa membantunya melunasi hutang-hutangnya.

Comments

Popular Posts