Hingga Waktu Tak Lagi Kupijak

Dua
Pagi ini masih seperti biasa. Mentari terbit dari timur dan perlahan akan lengser ke barat. Tidak ada yang istimewa di dalam keseharianku. Semua terasa biasa. Datar. Dan dingin ....
"Mau bawa makan siang apa, Mas? Nasi campur atau mi goreng?" tanyaku kepada suami yang tengah memakai sepatu kerja yang telah kusiapkan subuh tadi. Sepatu kulit mitasi yang telah kusemir sampai licin dan mengkilap. Kaos kakinya pun wangi pelembut pakaian. Aku selalu menggantinya setiap hari meskipun suamiku bilang cukup tiga hari sekali ganti kaos kakinya. Tentu saja aku tidak menuruti kata-katanya. Karena, kakinya sangat cepat berkeringat sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap di sepatu dan kaos kakinya.
"Terserah," jawabnya singkat. Aku yang sedang menyiapkan dagangan warung pun berhenti sejenak. Mendengus. Aku sangat tidak suka kata-kata terserah. Karena di sana tidak ada kepastian.
"Nasi campur ya, Mas? Kemarin kan sudah mi goreng."
"Iya, Dik. Cepetan dikit, ya? Mas kesiangan."
Dengan segera aku menata makanannya di kotak makan yang kusiapkan. Juga sebotol air putih. Suamiku tidak pernah sarapan atau minum kopi di rumah. Ia selalu kesiangan bangun dan buru-buru saat akan pergi kerja. Jadi aku berinisiatif membawakannya bekal. Toh aku berjualan makanan di warung. Jadi, sekalian saja menyiapkan untuk suami.
Mas Anton bekerja sebagai guru SMA di tetangga desaku. Sebagai guru honorer, tentu gajinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan kebetulan, aku sudah memiliki usaha kecil-kecilan di rumah jauh sebelum menikah. Jadi, tidak terlalu khawatir tentang ekonomi.
Aku masih tinggal bersama kedua orangtuaku. Rumah kami bergandengan karena akan sangat mudah merawat mereka. Meskipun mereka masih bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan mereka sendiri, aku tetap ingin melayani mereka selagi bisa. Karena bagaimanapun juga, hanya aku yang mereka miliki untuk bersandar dan sebagai pelabuhan hidup. Dan karena mereka juga, aku rela menikah dengan orang yang mengajakku menikah. Dengan seseorang yang tidak pernah kucintai dan meninggalkan pria satu-satunya yang mengisi jiwaku. Menyita seluruh pikiran dan cintaku.
Mas Anton pergi begitu saja. Perlahan ia berlalu dari hadapan dan aku mulai kembali ke rutinitas melayani para tetangga yang membeli sarapan atau hanya sekadar mampir untuk minum kopi.
Matahari mulai tepat di atas kepala. Masakan untuk pagi sudah habis dan waktunya bersih-bersih. Aku selalu berusaha membunuh waktu dengan kesibukan. Aku tidak ingin menghabiskan waktu hanya untuk berdiam diri. Bahkan, lamunanpun tidak kuijinkan masuk.
Jam empat pagi menyiapkan baju kerja suami, kemudian memasak untuk dijual, menyiapkan sarapan untuk bapak ibuk di rumah mereka, melayani pembeli sampai siang, setelah itu bersih-bersih dua rumah. Mencuci baju dan memasak untuk makan siang jika tidak ada sisa dagangan. Menyetrika baju. Memasak untuk makan malam, melayani kebutuhan suami dan orangtua, memotong-motong sayuran untuk dimasak waktu subuh, bersih-bersih lagi dam seperti itu rutinitas setiap hariku.
"Anton belum pulang, Ndhuk?" tanya bapak ketika melihatku menyapu halaman.
"Belum, Pak. Mungkin banyak kerjaan di sekolah."
Bapak pun masuk ke dalam rumah. Tubuhnya yang meskipun sudah tua, tetapi masih terlihat gagah kupandangi dari belakang. Mas Anton biasanya jam dua sudah pulang. Tapi ini sudah hampir jam tiga. Pesan yang kukirim pun belum dibalas.
Selesai menyapu halaman aku duduk di meja kerja di dalam toko. Mengecek toko onlineku dan menambahkan lagi foto-foto baju yang sudah selesai kuedit. Di samping warung makan, aku membuka toko kecil. Ada pakaian, tas, sepatu dan pernak pernik. Selain berjualan offline, aku juga berjualan online. Hasilnya lumayan dan bisa menjangkau pembeli lebih luas.
Setiap kali berselancar di dunia maya, tubuhku selalu gemetar. Ada ketakutan di sana. Ada rasa rindu yang entah. Dan juga kepiluan yang selalu ingin singgah. Aku masih ingat janji-janjiku. Masih ingat betapa hangat ketika menciummu untuk pertama kali. Cinta itu masih sama. Tidak ada yang berkurang. Dan rindu ini semakin bersarang.

0 Comments