Hingga Waktu Tak Lagi Kupijak

Tiga
Bagi seorang wanita, usia tigapuluh dan masih menyandang status belum menikah bukanlah hal yang mudah. Di usia itu, dibilang muda, tetapi usia sudah kepala tiga. Dibilang tua, menikah saja belum.
Di umurku yang sekarang, adalah masa-masa yang rentan terhadap omongan orang. Pun renyan dengam ketersinggungan. Ketika bertemu dengan teman, tetangga dan bahkan guru sekalipun, pertanyaan mereka hanya satu. Kapan menikah?
Ketika pertanyaan itu terlontar entah secara sengaja ataupun tidak. Entah niatnya baik atau tidak, aku hanya bisa tersenyum dan menjawab doakan saja, ya. Supaya jodohnya dekat.
Banyak sekali kabar burung yang tertangkap oleh telingaku. Katanya aku ini perawan tua yang tidak laku. Terkena guna-guna. Sampai-sampai ada yang bilang bahwa aku trauma menjalin kasih. Itu sebabnya aku tidak menikah.
Trauma? Tentu saja tidak. Aku memiliki kekasih. Mencintainya. Memujanya. Bahkan aku menyerahkan hidup dan matiku untuknya. Hanya saja aku menyembunyikannya. Aku tidak ingin keluargaku tahu bahwa aku memiliki kekasih. Aku tidak ingin tahu bahwa anaknya menjalin hubungan dengan seorang pria yang tidak ingin menikahinya.
Aku juga wanita biasa. Memiliki hati dan naluri keibuan. Tentu saja aku iri melihat teman-teman sebayaku sudah memiliki anak. Aku juga iri ketika setiap reuni mereka membawa pasangan dan buah hati, sementara aku masih sendiri.
Aku juga tahu bahwa orangtuaku terbebani dengan statusku. Hanya saja, mereka tidak pernah mengatakannya. Tapi, aku bisa melihat jelas di mata mereka. Seolah mereka berbicara padaku untuk segera menikah. Setidaknya mereka ingin melihat cucu mereka sebelum meninggal.
"Aku tidak mau membahas pernikahan! Mengurus hidupku saja tidak bisa. Apalagi menikah?!" Aku tidak lagi kaget ketika pria di di seberang telepon berbicara seperti itu. Bukan kali pertama aku mendengarnya.
"Kan aku sudah bilang berkali-kali. Aku tidak memikirkan pernikahan kalau hidupku belum bener!" Sambungnya lagi. Aku berusaha menguatkan hatiku. Kugigit bibirku ahar tidak ada tangis yang pecah. Aku tidak ingin menangis. Aku tidak mau mengemis dan mengejar-ngejar untuk dinikahi.
"Tapi orangtuaku ingin aku menikah, Mas. Kasihan mereka sudah tua."
" ... juga karena kamu ingin menikah?"
Kalimatnya yang terakhir sangat pelan. Lembut. Dan menghujam tepat di jantungku. Iya ... aku ingin menikah. Denganmu. Bersamamu hingga menua dan rambut kita memutih. Seperti lagu kesayanganmu. Seperti harapanku. Tapi, apa bisa? Apa mungkin? Jika aku tidak ada dalam rencana masa depanmu?
"Iya, Mas. Aku ingin menikah. Tapi tenang saja. Aku tidak akan memaksamu menikahiku." Air mataku mulai berguguran. Sekuat apapun aku berusaha, hatiku tetap merasakan sakitnya. Bibirku bisa saja bipang begitu. Namun jauh di dalam lubuk hatiku aku sangat ingin bersamanya seperti apa yang telah kujanjikan.
"Kalau kamu ingin menikah, menikahlah dengan orang lain. Aku tidak memikirkan pernikahan dan aku tidak suka membahas pernikahan."
Jatuh sudah impianku. Tubuhku seperti tak memiliki tulang. Lantai satu-satunya tempatku bersandar. Bumi ini seperti berhenti berputar dan langit runtuh tepat di atas kepalaku. Mencintaimu, haruskah sesakit ini?
"Makasih, Mas. Aku pasti akan mengundangmu kalau aku menikah."
Aku menutup teleponnya. Mengusir bayangannya dari kepalaku. Mengusir cinta yang kubangun selama bertahun-tahun. Mengusir janji yang kuucap. Mengubur kenangan, impian, dan kehangatan saat memeluknya. Mungkin benar kata orang, mencintai itu takdir, dan menikah adalah pilihan. Dan takdirku, menikah dengan orang yang tidak kucintai.

Comments

Popular Posts