Lima

"Minggu depan aku akan menikah," ucapku getir tanpa melihat ke arah pria yang sedang menyantap nasi putih dan ayam sambal ijo di depannya.
"Terus?" tanyanya tanpa menghentikan ritual mengunyah makanan yang pasti kurang dari tigapuluh dua kali.
"Tidak apa-apa. Aku harap kamu bisa datang." Kalau bisa, tidak usah datang ke pernikahanku. Katakan sekarang juga bahwa kamu ingin aku menghentikan pernikan ini. Katakan bahwa kamu mencintaiku, ingin bersamaku hingga waktu tidak lagi menginginkan kita ada. Katakan jangan sampai pernikahan itu ada. Katakan hanya kamu yang berhak memilikiku. Katakan ....
"Oke. Aku akan datang." 
Aku melihatnya dengan terkejut dengan dada yang memanas. Bagaimana dia bisa setenang itu dan tidak memiliki kekhawatiran apapun. Tidak cintakah dia padaku? Tidak sakitkah hatinya? Apa arti dari lina tahun yang kita jalani bersama? Atau ... semua ini memang tidak ada artinya?
Dengan kepahitan aku meninggalkannya. Berusaha tidak menitikkan air mata yang sedari tadi kubendung dan mencoba untuk tidak menoleh ke belakang. Menghapus kekecewaan dengan harapan-harapan baru. Prinsipnya adalah mutlak. Cara berpikirnya sekokoh gunung Merbabu. Cara berpandangnya jauh ke depan. Namun, tidak ada aku di sana. 

0 Comments