Satu

Satu
Mengenalnya membuatku mengerti cinta yang sebenarnya. Mengenalnya, membuatku tahu apa itu pengorbananan, janji, dan juga impian. Dia membuatku banyak bermimpi. Menggiringku kepada keinginan-keinginan yang tidak seharusnya kujelajahi. Mimpi itu tidak seharusnya ada. Keinginan itu harusnya tidak pernah menyapa dan menimbulkan kebimbangan.
Aku tidak menjanjikan pernikahan dalam hubungan kita. Masih kuingat betul kata-kata itu. Kala itu, tepatnya tiga tahun lalu, tentu aku tidak masalah. Aku merasa masih muda dan ingin mengejar cita-citaku yang belum terlaksana. Tapi, sekarang semua berbeda.
Aku yakin semua wanita di dunia ini mendambakan sebuah pernikahan dengan orang yang dicintai dan mencintainya. Dan aku juga yakin, jika cinta itu tulus, maka tak peduli lagi harta benda. Tapi, sekali lagi itu hanya pemikiran wanita. Berbeda dengan pria.
Dua kali gagal menjalin hubungan, tidak lantas membuatku mengerti tentang laki-laki. Pemikiran mereka tidak terdeteksi radarku. Sulit kutebak. Tapi sayangnya, pria-pria yang pernah menjadi kekasihku menyuruhku untuk mengerti.
Aku belum siap menikah. Aku belum punya cukup uang. Dan beberapa alasan lainnya. Itu kekasihku yang pertama. Dan kekasihku yang kedua, kami hanya tinggal pergi ke pelaminan karena cincin sudah tersemat. Dan kemudian, takdir membawaku ke sini. Ke tanah yang tidak seharusnya kupijak. Mencintai yang teramat hingga sulit kulepas.
Jika aku ingin menikah. Aku langsung akan melamarnya. Dan kemudian menikah. Katanya lagi sambil menyebutkan nama orang yang dinikahinya dahulu. Aku tidak bisa merasakan bagaimana perasaanku saat itu. Haruskah aku marah, senang, atau sedih? Kemudian aku teringat kalimat yang pernah kuucapkan. Aku akan mencintaimu, selamanya. Tidak peduli apapun yang terjadi, aku akan tetap bersamamu.

Comments

Popular Posts