Sembilan

Impian kecil yang pernah ingin kuukir bersamamu ....

Apa arti aku bagimu? Hanya sebuah kursi yang mengisi kekosongan kamarmu atau hanya sebuah lukisan yang terpajang di tembok rumahmu?  Aku merasa tidak berarti apa-apa buatmu. Apalagi merasa ada tempat buatmu di kehidupanmu. Di masa depanmu. Aku tidak ada di sana , bahkan jika aku ingin.

Hatimu sedalam samudra. Tak mampu aku menyelaminya. Pemikiranmu setinggi Himalaya. Tidak sanggup aku mendakinya. Sementara, cintaku sangat sederhana. Bisa bersamu hingga akhir hayat dan memiliki rumah yang diisi dengan tangis dan tawa anak-anak.

Di rumah itu, kita akan mengukir setiap kebahagiaan. Di tembok, lantai, atap rumah, bahkan perabotnya akan kita lukis dengan cinta. Sesekali kita akan bertengkar kemudian saling merindukan. Dan di sana, akan ada maaf yang tak perlu terucap. Seluruh udara yang mengisi rumah adalah cinta. Napasku, napasmu, hanya ada kerinduan meskipun kita berdekatan.

Kita akan menyaksikan anak-anak kita tumbuh dewasa. Saat rambut kita mulai memutih dan hanya menghabiskan waktu di beranda rumah dengan tawa dan tangis cucu kita yang mungil, kita akan sadar bahwa kita sudah hidup terlalu lama. Meskipun begitu, seribu tahun lagi pun tak masalah asal kita selalu bersama.

Namun, aku sadar satu hal. Semua itu hanyalah keinginanku. Hanya impianku yang bahkan, secuil saja tidak terwujud. 


***

Rea menutup bukunya. Kemudian melangkahkan kaki ke kamar mandi. Hari senin begitu melelahkan meskipun tidak melakukan apa-apa. Ia hanya ingin berada di dalam kamarnya, membaca hingga tertidur kemudian bangun dan memandangi bunga-bunga kamboja yang bermekaran di belakang rumah. 

"Rea? Ayo siap-siap. Papa akan mengantarmu sampai bandara." Suara papa terdengar sangat ketara di telinga Rea.

"Bentar, Pah. Rea lagi ngeringin rambut. Lima menit lagi selesai." Rea menyahut diiringi suara pengering rambut yang bising. 

"Papa tunggu di mobil." 

Rea pun bergegas. Hari ini dia akan pergi ke Jawa untuk mencari bahan skripsinya. Ia pasti akan merindukan rumahnya, kamarnya, serta papanya yang tidak pernah beepaling darinya. Cinta papa hanya miliknya satu-satunya. Andrea Dinata.


0 Comments