Tujuh

"Takdir atau pilihan, aku akan memilih mencintaimu karena kuanggap itu semua bagian dari hidupku." Bram berkata lembut untuk kesekian kalinya."Jadilah istriku, dan mari kita tinggal bersama," lanjutnya lagi.
Bram menyeka keringatnya dengan tangan. Ia sedang duduk di teras rumahku sambil memangku Rea. 
"Rea mau ya jadi anak Om?" Rea hanya tertawa melihat wajah bram yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Tentu saja Rea tidak mengerti apa yang Bram tanyakan. Ia hanya suka mengelus-elus orang yang mengajaknya bermain. Barangkali Rea menganggap orang itu adalah ayahnya.
"Tuh kan ... Rea saja mau ya jadi anak Om. Masak mamanya nolak, sih ...." Bram menjawabnya sendiri. Pertanyaan yang diajukan ke Rea. Sementara itu balita yang giginya tumbuh empat buah itu tertawa terbahak-bahak. Sangat bahagia ketika Bram mengangkatnya tinggi-tinggi sambil sesekali diciumi tubuhnya.
Bram memang sosok pria yang baik. Pun sepertinya dia sangat menyukai anak-anak. Aku mengenalnya semenjak aku pindah ke Bali. Rumah kami kebetulan berdekatan dan hampir setiap hari setelah pulang kantor, Bram pasti menyempatkan diri untuk mengunjungi Rea.
"Papanya ke mana? Masih di Jawa, ya?" tanya Bram ketika sudah seminggu aku tinggal sebagai tetangganya. Dalam seminggu itu tidak ada orang yang mengunjungiku ataupun ada penghuni lain selain aku dan Rea, itu sebabnya Bram memberanikan diri bertanya demikian.
"Kami sudah bercerai."
Wajah Bram terlihat menyesal ketika mendengar jawabanku. "Maaf ...," katanya penuh kekhawatiran kalau-kalau aku tersinggung.
"Tidak apa-apa. Aku sering ditanya hal itu ketika ketika sedang keluar dengan Rea. Tentu saja kujawab dengan jujur. Bukan agar semua orang tahu bahwa aku janda, tapi agar mereka tidak menanyakannya lagi."
Usia Bram denganku terpaut cukup banyak. Laki-laki yang usianya hampir lima puluh tahun itu memiliki perawakan yang bagus. Tubuh tinggi dan berotot karena ia sering pergi gym. Pun rambut yang berwarna putih seperti enggan mampir di kepalanya. Kulitnya bersih, rahangnya kokoh dan terlihan jantan dengan bulu-bulu halus yang sengaja dibiarkan ada di sana. 
Aku tidak tahu persis kapan hubungan kami semakin dekat, yang kutahu ia kerap memintaku untuk menikah dengannya. Tentu itu bukan candaan, umurnya sudah tidak pantas lagi bercanda tentang pernikahan. Beberapa kali itu juga aku menolaknya. Bram seorang pengusaha properti yang sukses, tentu aku tidak akan kekurangan materi. Tapi, aku ingin membesarkan Rea sendirian. Aku ingin melimpahkan seluruh cintaku untuknya. Mungkin ini terdengar egois. Tapi itu yang kuinginkan. Aku bisa menjadi seorang ibu sekaligus seorang ayah. Dan aku sudah melakukannya.

0 Comments