Sepuluh

"Gimana perjalanannya, Mbak?"
"Gimana maksudnya, Pak Mo?"
"Ya itu. Gimana rasanya naik pesawat." Pak Mo terkikik di belakang setir. "Mbak Re kan takut naik pesawat, to? Kok tiba-tiba ke sini naik pesawat."
"Pak Mo mulai meledek lagi, kan? Gak kukasih ayam betutu lho."
"Eitsss ... Mbak Re gak boleh gitu. Namanya amanah itu harus disampaikan. Itu dari bapak, to?"
"Iya deh iya. Tau tuh ... papah masih ingat saja kesukaan Pak Mo."
"Pak Mo gitu loh Mbak." Pak Mo tertawa dengan rasa bangga mrskipun sudah lebih dari sepuluh tahun tidak lagi bekerja dengan Bram, tapi dia masih ingat dengan sopirnya dulu.
Gadis berusia dua puluh tahun itu memandangi keluar jendela. Kota yang begitu asing namun memunculkan kerinduan yang entah dari mana. 
"Mbak Re yakin cuma mau diantar sampai terminal Terboyo? Memangnya mbak Re beranu ke rumah simbah sendiri?"
" Yakin dong pak Mo. Rere kan bukan anak kecil lagi."
"Bukan anak kecil tapi manja kalau sama papanya?"
"Itu mah papa, Pak. Terlalu o v e r p r o t e c t i f e! Kemana-mana harus di kawal papa."
"Yailah overprotectife, Mbak. Mbak Re badannya panas aja bapak sudah panik. Apalagi kalau mbak Re tiba-tiba gak doyan makan, bapak langsung telpon dokter. Itu saking bapak satang sama mbak Re!"
"Hufffttt." Re mendesah. " Pak Mo memang selalu belain papa," lanjutnya kemudian. 
" Lha iya to, Mbak. Pak Mo belum pernah lihat laki-laki yang seperti Bapak. Penyayang, baik dan sangat menyintai putrinya."
Re tersenyum. Bangga dan bersyukur memiliki ayah seperti Bram. Ia tahu bahwa papanya adalah ayah yang sangat baik. Apapun dilakukannya demi putri tercinta. Tapi, betapa menyakitkannya ketika ia tahu bahwa mereja sama sekaki tidak memiliki hubungan darah. Ia kecewa. Marah. Tapi pada siapa? Papa? Orang yang selama ini selalu ada untuk dia dan mencintai tanpa batas? Harusnya ia tidak marah. Tidak pula mendendam pada seseorang yang pergi begitu setelah menanamkan benih di rahim ibunya. Toh, Re mendapatkan penggantinya. Papa! Ayah yang lebih baik dari segi manapun dibanding sarah seorang pria yang mengalir di tubuhnya.

0 Comments