Sebelas

Andrea menarik napas dalam-dalam begitu turun dari bus yang membawanya ke sebuah kota yang tak terlalu besar dan asing di telinga kebanyakan orang. Blora. Setelah bernegosiasi dengan tukang ojek di terminal, ia pun akhirnya menuju ke daerah Todanan. Rea sendiri tak tahu persis kenapa hanya untuk sebuah skripsi ia harus jauh-jauh pergi keluar Bali. Bukankan riset sendiri bisa didapat melalui internet? Lebih mudah, praktis dan tidak membuang tenaga.
Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya ia sampai di tempat tujuan. Ia oleh lurah setempat yang telah menunggunya. Andrea tidak merasa asing dengan tempat yang baru ia pijak. Ada sesuatu di sana, perasaan di mana inilah tempat kelahiranku. Tempat di mana ari-ariku dikuburkan di pojokan rumah.
Setelah selesai bebenah, Rea makan bersama dengan keluarga barunya. Makanannya begitu sederhana. Khas kampung. Soto dan lentho goreng. "Mbak Rea, ini yang masak Rini sendiri. Enak gak?" Rini anak perawan pak lurah memuji dirinya sendiri. Ya. Gadis itu memang cantik. Manis dan memang layak dipuji. Rambutnya yang lurus hitam sangat indah. Dan ketika ia mengibas-ngibaskan rambutnya, aroma shampoo bisa tercium oleh hidung Rea. 
Selesai makan Rea ijin untuk masuk kamar. Badannya sangat lelah sehingga perlahan ia memejamkan mata. Berharap apa yang dicarinya ada di sini. Berharap pertanya-pertanyaan yang selama ini bercokol dalam benaknya, menemui titik terang. Ia ingin jawaban ... meskipun kawaban itu menyakitkan ia tak peduli. Karena lebih menyakitkan lagi jika ia tidak tahu apa-apa.

0 Comments