Antara Aku, Mamak dan Pangeran.

Mamak adalah sosok yang paling kurindukan jika berada di luar rumah. Wanita tua yang kini hanya bisa tidur di pembaringan. Mata yang sayu dan mengiba, tidak akan bisa kulupa. Pernah kutanya, "Mak. Kenapa hidungku pesek?". Karena aku anaknya mamak. Itu katanya. Wanita itu tersenyum, menarik hidungku hingga memerah. Katanya, biar mancung.
.
Saat sore, kami sering duduk berdua di teras. Aku menamainya 'Teras Kodok'. Suatu ketika mamak menggerutu. Kenapa harus Teras Kodok? "Karena aku takut kodok, Mak," kataku pelan.

"Berarti kamu takut rumah ini?" tanya mamak, mengelus rambutku yang bergelombang.

"Iya. Takut kehilangan rumah ini. Juga Mamak."

Udara Lereng Gunung Muria cukup dingin di sore hari. Dan akan bertambah dingin saat musim Kembang Kopi atau Randu. Sebagian penduduk hidup dari tanaman Kopi. Cukup terkenal dengan ' Kopi Colo'.

"Kamu masih ingat Mamak kalau sudah dewasa nanti?" tanya mamak mengelus pipiku yang berada di pangkuannya.

"Tentu. Karena Mamak adalah Mamak terbaik di dunia!" jawabku sedikit berteriak.

Aku bangun dari pangkuannya. Berdiri dan berlari menuju jalan. Setelah agak jauh kemudian aku berbalik arah. Memandangi tempat di mana aku dilahirkan. Rumah Jawa dengan atap mengerucut, 'cagak' yang banyak dan menyangga atap teras. Serta lantai berwarna putih dengan gradasi warna hijau dan biru. Dan tidak lupa rumput Jepang yang tumbuh subur di halaman rumah. Benar-benar seperti kodok rumahku. Karena 'ndoprok'.

Perlahan kudekati mamak. Ia tersenyum. Tidak kaget melihatku yang tiba-tiba berlari. Kubantingkan tubuh kelantai. "Nduk!" sentak mamak. Katanya aku tidak boleh melakukan hal itu. Nanti badanku sakit. "Ini menyenangkan, Mak," kataku dengan senyum lebar. Kukepakkan kedua tangan dan kedua kakiku secara bersamaan. Seperti kupu-kupu yang sedang terbang.

"Mak. Nanti ketika aku dewasa akan ada pangeran yang menjemputku."

Senyumku semakin melebar. Melihat sarang laba-laba di kayu 'reng'.

"Memang ada yang mau sama anakku yang jelek ini?"

Mamak mendekatiku. Memencet hidung kemudian membaringkan tubuhnya di sampingku. "Mak. Jangan di sini. Aku mau terbang ...," aku berusaha menjauhkan tubuhnya.

"Tentu banyak, Mak. Kata Bapak aku cantik. Kuperlihatkan gigiku yang berjejer rapi padanya. "Heem. Juga kulit yang putih seperti, Mamak," ujarnya. Dia mendekapku. Dekapan mamak yang hangat dan akan selalu kurindu. Orang yang selalu memanjakanku dan memenuhi setiap keinginanku. Ia tidak pernah membentak ataupun menyalahkan saat aku nakal. Mamak itu matahari. Besar, hangat dan sangat menakjubkan.
.
Ya ..., itulah yang kurindukan dari seorang mamak. Yang selalu membangunkanku ketika Shubuh. "Sembahyang, Nduk." Juga saat makanan-makanan kesukaanku terhidang saat pulang sekolah. Sayur bayam, tempe goreng, sambal pindang dan tidak lupa lalapan petai. "Kamu manja! Sudah besar tapi tetep kayak anak kecil!" omelnya ketika aku pulang ke rumah. "Mak. Karena aku anak Mamak. Itu sebabnya aku manja."
.
 Kupeluk ia erat-erat ketika aku di pembaringan. Ia benar-benar tua sekarang. Matanya semakin sayu, mamakku yang selalu kurindu. Tangannya tak sehangat dulu, tapi kasihnya tetap abadi di sepanjang jalanku ....
.
Masih kuingat dulu. Ia sangat bahagia melihat putri satu-satunya mengenakan kebaya pengantin warna merah hati. "Kamu cantik," ujarnya. Ia memelukku erat.

"Iya, Mak. Karena aku anak Mamak." Air mataku tidak terbendung lagi. Bapak yang mengenakan Beskap berwarna hitam, memegang bahu mamak. Kemudian merangkul kami berdua. "Wis. Aja nangis," ucap bapak menepuk-nepuk bahuku. "Tolong dijaga putriku satu-satunya ya, Le," pinta bapak pada pria di belakangku. Tubuh tinggi dan tegap, juga wajah yang dipenuhi jambang. "Nggih, Pak," jawabnya pelan. "Pangeranmu ganteng." Mamak tersenyum dan mengusap air mataku. Bapak yang mendengar langsung nyeletuk. "Masih ganteng Pak'e to Mak." Kami tersenyum. Tidak ada hari yang lebih indah daripada itu.
.
"Mak, ada Pangeran kecil di sini." Kuletakkan tangannya di perutku. Ia tersenyum dan mengucap syukur. Kaliamat syahadat mengantar kepergiannya ....

Singapore, 12 Juli 2016.

Comments

Popular Posts