(Cerpen) Bus Kota

"Arem-arem, Mbak. Tahu goreng, kacang plintis nggih wonten, nopo gedhang godhok, Mbak?"

"Paringi arem-arem'e kalih. Tahu gorenge setunggal mawon. Pinten?"

"Kabeh menika gangsal ewu, Mbak."

Aku memberikan selembar uang sepuluh ribuan kepada bapak-bapak penjual asongan yang berdiri di sampingku. Setelah menerima kembalian dan jajanan yang kubeli tadi, kumasukkan lembaran lima ribuan ke dalam dompet.

Entah berapa lama aku tidak merasakan gerahnya di dalam bus kota. Ya, tidak ada pilihan lain karena menunggu bus patas selama dua jam lebih tidak ada satupun yang lewat di depanku. Satu-satunya penyemangatku di dalam bus yang sumpek tanpa ac, debu-debu jalanan bisa leluasa hilir mudik, pedagang asongan bebas naik turun, orang yang merokok kedal kedul tanpa rasa sungkan, belum lagi bau keringat yang menyengat entah milik siapa dan lagi aroma muntahan anak-anak yang baru pertama kali naik bus adalah arem-arem dan tahu goreng.

Arem-arem dan tahu goreng adalah penyelamatku dari serentetan peristiwa yang tidak mengasikkan. Tentu saja aku tidak memakannya di dalam bus. Tapi akan kumakan setelah turun dari bus.

"Permisi bapak-bapak, ibu-ibu, mbak-mbak dan mas-mas ... numpang ngamen, nggih. Diparingi limangatus nggih matursuwun, pringi rongewu nggih alhamdulillah, nanging ampun keturon nggih. Mangkih kebablasen." Asem! Baru saja mau tidur e sudah ada pengamen yang masuk dan meminta recehan dengan lagu andalnnya. Akhirnya dengan terpaksa aku membuka mata. Padahal sudah ngantuk berat dan tidur adalah obat mujarab penghilang rasa eneg.

Setelah bernyanyi lagu yang tidak jelas, aku memberikan uang seribuan kepada pengamen yang rambutnya kayak pelangi itu sebagai balas jasa menyakiti telingaku yang sebenarnya sudah tidak berfungsi dengan baik. Setelah suasana aman, aku mulai memejamkan mata dan beberapa saat kemudian hadirlah pengamen lagi. Seorang ibu yang membawa gitar mini entah apa namanya sambil menggendong anaknya. Yasalam! Cobaan apa lagi ini. Lebih dari empat tahun tidak naik bus, cobaannya berat! Memangnya pengamen itu punya managemen, ya? Kok bisa dalam satu bus bisa dua sampai tiga pengamen tampil? Belum lagi mas-mas yang duduk di depanku tidak peka. Rokoknya dari tadi menyala padahal aku sudah berpura-pura terbatuk.

"Mas ... tolong matiin rokoknya, dong. Aku terganggu nih." Karena tidak tahan aku pun menegurnya. Meskipun menggerutu, akhirnya dia buang puntung rokok itu keluar jendela. Ya ampun! Itu puntung rokok kalau mengenai pengendara motor gimana?

Ketika bus melaju meninggalkan area Demak, sampailah di daerah Genuk, Semarang. Seperti biasa, macet selalu menjadi makanan pokok. Tidak adakah solusi untuk kemacetan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun? Aku tidak berharap Indonesia memiliki infrastruktur dan lalu lintas seperti Singapura. Namun, setidaknya ada peningkatan ke arah yang lebih baik. Masak iya dari tahun ke tahun masih sama?

Belum lagi sepanjang sungai dari Demak ke Genuk yang belum bebas dari sampah. Entah manusia macam apa yang membuang sampah sembarangan seperti itu. Padahal, Demak sendiri dikenal sebagai kota wali. Yang seharusnya memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya kebersihan. Belum lagi kali-kali di Demak itu tiap kemarau tiba dijadikan sebagai tempat mandi, cuci baju, perabotan dan tidak ketinggalan buang air besar. Apakah di Indonesia yang katanya kaya untuk air bersih saja masih langka?

Ketika bus berbelok ke terminal, hawa panas dan aroma tak sedap makin terasa. Air di selokan yang bercampur dengan sampah hingga berubah warna menjadi hitam. Jalanan kering yang jika tersapu angin maka debunya akan terbang dan terhirup oleh manusia yang bisa saja bikin bengek. 

Di terminalnya sendiri pun tak kalah menyedihkan. Meskipun kemarau, genangan air rob tetap ada. Ya, wajar sana tanah mulai amblas. Bangunan-bangunan di kota atlas makin bertambah banyak. Mengakibatkan ketimpangan sosial yang sangat ketara. Jika kamu beranggapan bahwa Semarang adalah kota yang indah. Itu salah. Indah di kotanya, namun memprihatinkan di daerah pinggiran. 


Perjalanan dari kota Pati-Semarang cukup melelahkan. Dan akhirnya beberapa hal terlintas di pikiranku. Kapan bisa menikmati kota yang bersih dan kendaraan umum yang nyaman? Kapan para politisi mengedukasi soal sampah dan pentingnya penghijauan di tengah kota? Bukan hanya berambisi menguasai negara dengan berbagai macam cara.

Comments

Popular Posts