Cerpen (Cerpen yang terpilih untuk dibacakan di acara Singapore Writers Festival) : Langit yang Menangis di Sore hari.


Langit yang Menangis di Sore Hari

Aku bertemu dia kemarin. Hari minggu pertama pada bulan September. Ia sedang duduk di taman dekat dengan stasiun MRT. Dan anehnya, tidak biasa aku tertarik pada orang asing. Apalagi yang berkulit gelap. Maaf, bukannya aku rasis. Tapi, terkadang pikiran manusia memang unik. Apa yang terlihat buruk, maka buruk pula di dalamnya. Padahal, belum tentu. Lihat para koruptor. Apakah ada dari mereka yang berpenampilan buruk? Pun cara bicara pasti sangat sopan dan halus. Terlebih lagi, mereka adalah orang yang berpendidikan. Selain itu, warna kulit tidak bisa dijadikan patokan untuk menilai sesrorang itu baik atau buruk.

“ Hi, Brother? Can i sit for a while? I think my leg is get injure.” Tanpa dipersipakan aku pun duduk di sebelahnya. Kursi kayu bercat biru. Pria itu tidak melihat ke arahku. Juga tidak membalas pertanyanku. Kulihat dia hanya memandangi sebuah foto dari telepon selulernya. Ada foto seorang wanita dan anak kecil yang tersenyum menunjukkan gigi putihnya. Kupikir, itu adalah anak dan istrinya.

Lama kami duduk bersebelahan. Namun tidak ada dari kami yang memulai pembicaraan. Hingga akhirnya pria yang tak lagi muda itu membuka mulutnya. “They are my family. Today, they are pass away by car accident. I do not know what should i do. I want crying, but my heart doesn’t have tears anymore. I want to see them, but i don’t have money. I tried do my best to earn money. I tried do make my kids happy. Everyday i pray, everytime i breath i call His name. Allah Allah Allah, but now, what His give to me? I am dissapointed with Him. He never listen my doa. He never love me. So, that’s why He take my beloved peopple!” kata pria itu dengan wajah yang penuh kepedihan.

Tidak terasa sore pun tida. Matahari mulai menghilang ditelan awan yang menghitam. Saat itu hujan pun turun. Seakan-akan langit sedang bersedih untuk seorang ayah dan suami yang telah kehilangan anak dan istrinya.

-tamat-


Comments

Popular Posts