(Cerpen) Leona



"Kalau ada yang lebih kuat dari saya, tolong tunjukkan orangnya."

Setelah mengatakan demikian, wanita itu meninggalkanku duduk sendiri di ruang tengah. Termenung dan mencari nama-nama yang yang kuanggap kuat. Hulk? Manusia berbadan hijau? Ia memang sangat kuat. Lebih kuat daripada Thor. Tapi dia laki-laki dan hanya tokoh fiksi. Wonder Woman? Dia memang perempuan, tapi tak pernah menyabet gelar seorang istri. Akhirnya pikiranku stuck pada jawaban "tidak ada". Tidak ada yang lebih kuat dari Leona. Aku mengenalnya jauh sebelum aku mengenal diriku sendiri. Ia seorang istri yang kuat dan menurutku ... tidak ada perempuan yang sekuat dia.

Berkali-kali ia memergoki suaminya berdua dengan wanita lain di kamar ketika Leona pulang kerja. Saat aku bertanya apa yang dia lakukan ketika dalam situasi seperti itu, jawabannya sederhana dan santai. " Saya membuat kopi di dapur dengan sedikit creamer dan gula, lalu duduk di depan kamar dan mendengarkan musik."

"Musik apa?"

"Suara lenguhan mereka yang sedang bercinta."

Astaga!! Aku benar-benar gila dibuat olehnya. Musik? Kugelengkan kepala berkali kali.

"Kamu tidak marah?"

"Tidak. Barangkali sayalah yang salah. Tidak mampu memuaskannya di ranjang. Jadi wajar jika ia mencari selingan."

Wajar? Aku tidak mengerti dengan kata yang disebut wajar. Jika aku yang berada di posisi Leona, tidak perlu berpikir panjang untuk meminta cerai.

"Adele?" Suara Leona terdengar mendekat. Ia membawa segelas kopi yang dicampur dengan sedikit creamer dan gula. Leona duduk di sebelahku, dan kopi telah berpindah di tanganku.
"Iya." Kutatap wajahnya yang ayu. Lipsticknya merah menyala, ia mengenakan blus warna putih dan celana jins biru donker. Rambutnya hitam dan bergelombang dengan poni yang menutupi sebagian wajahnya. Terlihat sempurna. Ia begitu pandai merawat diri bahkan di usianya yang menginjak empat puluh tahun, badannya masih singset dan terlihat sempurna.

"Kamu terlihat kusut siang ini. Ada apa? Barangkali saya bisa bantu."

"Tidak. Aku kan memang seperti ini. Seharian ngurus rumah dan anak-anak. Apalagi kalau hari minggu, jangan harap sempat dandan necis seperti kamu."

Kuteguk kopi yang ada di tanganku dan kutaruh di meja setelah gelas kosong. Wajah Leona begitu sumringah. Tidak biasanya ia seperti itu.

"Ada kabar gembira? Sepertinya kamu terlihat senang hari ini."

"Iya. Saya senang sekali hari ini karena akan bertemu dengan seorang temana lama. Saya pergi dulu ya ...  ini uang yang kamu minta. Semoga anak-anakmu bisa sekolah dengan tenang pekan besok. Tidak perlu lagi ditagih-tagih SPP sama wali kelas."


Leona melesat meninggalkan rumah. Sementara aku masih terpaku. Ia teman yang baik, hanya saja pernikahannya memang tak semulus wajahnya. Seberapapun aku meminjam uang padanya, tidak pernah Leona menggerutu. Dia tahu persis karena aku adalah single mother yang harus menghidupi tiga anak. Hanya mengandalkan toko kelontong pun tidak cukup, jadi hanya kepada Leona aku berkeluh kesah. Dan ia tidak pernah keberatan.


Sewaktu hendak pulang kudengar ada suara yang tidak asing. Toni suami Leona. Kupikir ia tidak ada di rumah. Seketika itu aku berlari menuju kamarnya di belakang. Dekat dengan dapur. 

Pintunya sedikit terbuka dan begitu aku melongok ke dalam, Toni dan seorang wanita tengah telanjang dengan tangan terikat di kedua sisi tempat tidur. Wanita telentang dan Toni tengkurap. Mereka seperti kehabisan tenaga karena hanya kata mmmmmmpphhh yang keluar dari mulut mereka. Terlihat percikan darah di sprei dan si wanita sedang menangis. Kudekati mereka dan kulepaskan ikatan mereka dengan perlahan.

"Leona sudah gila!" Ujar Toni lemas. Aku berusaha untuk tidak menyahut.

"Istrimu sakit, Ton!" Wanita itu tiba-tiba beringas. Didorongnya tubuh Toni hingga tersungkur ke belakang.

"Memang apa yang Leona lakukan?" tanyaku pelan mematap sinis wanita di depanku.

"Dia gila! Sakit! Dia menodong kami dengan pistol dan menyuruh kami bercinta tanpa jeda kemudian mengikat kami seperti ini. Wanita sialan!"

"Kalau aku jadi Leona, sudah kutembak mati kalian. Kucincang tubuh kalian dan kuberikan pada anjing jalanan. Itupun kalau mereka tidak muntah karena jijik melihat daging kalian."

****

Aku meninggalkan mereka. Tersenyum sinis, seperti yang dilakukan Leona tadi ketika meninggalkan rumah. Seperti pesannya yang tertulis di dalam amplop, sebelum pergi aku harus membakar rumah Leona. Perjanjian itu sudah ada ketika aku tidak mampu melunasi hutang-hutangku padanya. Sebagai gantinya, Leona memintaku melakukan hal ini untuknya. Tapi, aku benar-benar tidak tahu bahwa hari inilah hari yang dimaksudkan sahabatku itu.


S, 2016

4 Comments

  1. Masih terlalu dipaksakan endingnya, Ci. Keliwat nge-jump. Coba baca lagi, menjelang akhir ada logika kalimat yang tidak nyambung.

    Semangat 😊

    ReplyDelete
  2. Memang malas ngedit bun😂masih asli yg kutulis di 2016

    ReplyDelete
  3. Tengkyu yah bun. Nanti bakalan kuedit dari awal awal😍

    ReplyDelete
  4. Sudah kuedit bun. Makasih😘😘

    ReplyDelete