(Cerpen) Lukas

Pria berpostur tinggi dan tegap itu hampir memasuki gerbong kereta sebelum satu hal menghentikan langkahnya. Di ujung gerbong ada seorang wanita yang tak lagi muda memarahi seorang pria.
"Kamu mau mencopet, ya?!"
"Jangan menuduh sembarangan dong, Bu! Enak saja bilang saya pencopet."
"Lalu kenapa pegang-pegang tas saya kalau bukan mau nyopet?" 
Karena suara wanita itu begitu lantang, orang-orang pun tersedot perhatiannya. Termasuk security. Sementara itu, Lukas memperhatikan kerumunan itu dari jauh.
Dari tampangnya pria yang sedang beradu argumen dengan wanita berkacamata itu memang bukan pencopet. Penampilannya rapi bak seorang eksekutif. Tapi dari gelagatnya, gestur tubuh dan cara bicaranya yang tak bisa tenang, menandakan dia memiliki niat buruk pada wanita tersebut.
Security akhirnya membawa pria tertuduh juga wanita yang menuduh ke kantor security. Kereta sebentar lagi akan berangkat, tapi Lukas justru berbalik arah. Mengikuti security itu dari kejauhan.
Selang 30 menit, dua orang polisi pun datang. Masuk ke kantor security kemudian leluar membawa pria eksekutif itu. Lukas manggut-manggut, ternyata bukan maling uang negara saja yang berpenampilan rapi. Namun, seorang pencopet pun melakukan hal yang sama agar tak ada yang curiga. Ya, selama ini yang diketahui bahwa pencopet biasanya bernampilan buruk, tampang preman, sehingga jika orang-orang bertemu mereka maka akan menghindari. Padahal, belum tentu. Tak selamanya manusia yang terbungkus rapi baik pula tindak tanduknya. Juga dengan orang yang bertampang urakan, punk, bertato, belum tentu tidak ada kebaikan dari dalam dirinya.
Setelah menunggu kereta selama dua jam, akhirnya yang ditunggu datang juga. Lukas melangkahkan kaki masuk ke gerbong. Dan di gerbong lain, wanita yang tadi menangkap pencopet pun naik.
Wanita itu tidak cantik apalagi modis. Semuanya biasa-biasa saja. Rok sepan warna hitam selutut, sepatu bertumit rendah dan juga blazer warna krem. Tak lupa kacamata yang membuat wajahnya terlihat makin tua. Rambutnya yang panjang dan berombak diikatnya rapi ke belakang. Lukas menduga bahwa usianya memasuki kepala empat.


"Boleh duduk di sini?" Tanyanya pada seorang wanita yang terlihat sedang membaca buku. Setelah hampir sejam di dalam kereta, ia akhirnya memutuskan duduk di samping wanita yang membuatnya tertarik. Meskipun kereta sedang lenggang dan dia bisa duduk di mana saja, itu tak masalah. Toh pemuda itu tak berniat dudul di kursi-kursi kosong tersebut.

"Hmmmmmmm," jawab wanita itu tanpa melihat kepada Lukas. Lukas tanpa basa-basi lagi langsung duduk di samping perempuan yang sama sekali tidak ramah itu. 

"Kamu pasti belum menikah." Pertanyaan Lukas tak mendapat jawaban. Tapi wanita itu menoleh. Dan sorot mata tajam dari balik kacamata seperti hendak menerkam pria berusia tigapuluhan itu. 

"Benar kan dugaanku. Kamu langsung melotot ke arahku." Lanjut Lukas yang semakin ingin menggoda wanita di sampingnya.

"Memangnya apa urusanmu?" Si Betina, begitu Lukas mulai memberi julukan. Makin galak dan judes luar biasa. Tapi karena kejudesannya itulah Lukas seperti terkena sihir. Sebagai seorang pria yang terkenal tampan dan mapan, tak pernah sebelumnya menggoda wanita. Justru ialah yang digoda.

"Tidak ada. Aku hanya menduga-duga, pria sial mana yang mau menikahi wanita jutek dan judes sepertimu." Lukas tertawa kecil dalam hatinya sebagai tanda kemenangan karena si Betina terlihat makin geram . Sorot wajahnya juga mengisyaratkan kebahagiaan. Rambut-rambut halus yang sengaja dibiarkan tumbuh liar di wajahnya membuatnya seperti pria yang sulit untuk diabaikan.

Comments

Popular Posts