Cerpen (Pernah diikutkan lomba Indonesiana): Mencari Jejak di Surga yang Tersembunyi.

Mencari Jejak di Surga yang Tersembunyi.
.
Jalanan begitu riuh. Panasnya begitu angkuh hingga membuat sesiapa saja menundukkan kepala. Debu-debu jalanan bebas masuk ke paru-paru orang-orang yang menghirupnya. Mereka tak kenal ampun dan entah virus apa saja yang disebarkan udara yang tak lagi segar. Memang, tidak sesesak Jakarta. Tapi, tetap saja ketara bahwa pemanasan global itu sesuatu yang nyata.

"Bin? Kamu yakin kita sudah sampai di Blora?"

"Yakinlah. Ituh tulisannya. Alun-alun Blora." Abin menunjuk tulisan besar di seberang jalan sambil memegangi sepedanya.

"Terus kita ke mana lagi? Kamu yakin yang kita cari ada di sini?" Bagas bertanya dengan wajah berpeluh.

"Aku yakin. Itu yang tertulis di sini," sahutnya sambil menunjukkan KTP usang milik seorang lelaki yang kini pasti usianya sudah lebih dari empat puluh tahun.Abin dan Bagas kemudian menyeberang jalan. Menuju kerumunan orang-orang di tengah lapangan Alun-alun.

Cuaca yang ekstrim tidak menyurutkan masyarakat Blora untuk melihat Barongan.Sebagai anak kota, Abin dan Bagas sangat jarang melihat kesenian-kesenian khas Indonesia secara langsung. Bukan karena tidak ingin, tapi memang sudah jarang acara-acara seperti itu dijajakan di pinggir jalan.

Abin dan Bagas menyenderkan punggungnya pada pohon di pinggir alun-alun sambil menikmati para pengamen barongan yang dikerumuni oleh orang-orang yang tertarik melihatnya.

"Kamu mau minum?" tanya bagas mengeluarkan botol air dari tasnya. Mereka benar-benar merasa seperti petualang cilik sekarang ini. Dari Jakarta mereka naik bus sampai ke terminal Blora. Setelah sampai di Blora, setelah bertanya-tanya di mana alun-alun Blora, akhirnya ada orang yang berbaik hati mengantarkan mereka. Dari alun-alun inilah perjalanan sebenarnya akan dimulai. Mencari syurga yang telah lama Abin rindukan. Ayahnya. Orang yang tidak pernah ia lihat semenjak lahir.

"Kita harus ke sini nih, Gas." Abin menunjukkan layar handphone yang sudah dipenuhi peta. Google maps. Jaman sekarang, untuk mencari sebuah lokasi, tidak sesulit dulu.

"Kalau naik motor sekitar 1,5 jam. Kalau naik sepeda berapa jam,
Bin?" Bagas mengernyitkan dahinya. Dari awal dia sudah tidak setuju dengan rencana ini. Kabur dari rumah.

"Jangan khawatir! Anggap saja kita sedang berpetualang!" Seakan tahu kegelisahan sahabatnya itu, Abin berusaha menyemangati. Berbekal uang yang Abin kumpulkan dari uang sakunya, akhirnya cita-citanya untuk ke tanah Jawa berhasil. Tapi, Abin dan Bagas tidak tahu betapa khawatirnya orangtua mereka ketika mengetahui anak-anaknya tiba-tiba pergi tanpa pamit.

"Ini Gas desanya!" Teriak Abin riang ketika ojek yang mereka tumpangi telah sampai di desa."

"Sudah sampai, Dik." Tukang ojek itu menurunkan sepeda Abin yang ditaruh di tengah-tengah motor.

"Ini namanya bukan petualangan, Bin. Kirain kita bakalan naik sepeda sampai sini." Bagas pura-pura protes pada temannya itu. Abin sering membicarakan petualangannya mencari ayah kandungnya di Blora dengan menaiki sepeda.

"Yah ... mau gimana lagi? Habisnya lama sih kalau naik sepeda dari alun-alun. Bahaya pula. Kan mending ngojek aja. Iya kan, Pak?"

“Hehehe ... Iya, Den. Sekalian ngasih rejeki Bapak, ya?” sahut tukang ojek itu ramah.

“Aden berdua logatnya seperti bukan dari dari jawa. Memang ke sini mau ketemu siapa, Den? Ada saudara di sini?”

“Gak ada saudara, Pak. Ke sini mau nyari ayah. Ini orangnya. Benar kan alamatnya di sini?” Abin menyodorkan KTP ayahnya. Orangtua paruh baya itu pun manggut-manggut.

“Benar, Den. Ini alamatnya. Bapak tanyakan ke ketua RTnya mau? Kebetulan bapak kenal sama beliau,” tawarnya dengan logat jawa yang medhok.

“Benar, Pak? Mau mau mau!” dua bocah itu pun berseru dengan gembira. Terutama Abin. Ia sangat senang akhirnya ia bisa juga bertemu dengan ayahnya yang selama ini dia rindukan.

****
“Oh, Pak Hendri sekarang tidak tinggal di dusun sini lagi. Beliau sudah pindah. Tapi bapak kurang tahu pindahnya ke mana.” Wajah Abin terlihat lesu. Kegembiraan yang tadi terlihat kini lenyap sudah.

“Tapi jangan khawatir. Seminggu sekali biasanya beliau ke sini untuk menengok kebunnya,” lanjut pak rt yang dibarengi wajah sumringah Abin dan Bagas.

“Syukurlah, Pak.*Kulo nderek bingah. Soalnya den bagus dua ini datang dari Jakarta. Kasihan kalau sampai gak ketemu apa yang dicari.”

Bagas tahu akan kesedihan sahabatnya itu. Ia pun merangkul Abin yang seolah-olah berkata, tenang saja sahabatku, apapun yang terjadi aku akan menemanimu mencari ayahmu. Itulah janjiku. Sontak Abin pun menoleh. Ia tersenyum pada Bagas yang rela kabur dari rumah demi persahabatan mereka.

“kalau begitu kalian menginap saja di sini. Sekalian bapak tunjukkan hal-hal yang belum pernah kalian lihat,” kata pak rt riang tanpa menanyakan apa alasan dua bocah itu ke Blora sendirian tanpa pendamping orang dewasa. Menurutnya, banyak hal di dunia ini yang tak perlu ditanyakan namun akan ditemui jawabannya seiring dengan berjalannya waktu. Lagipula, itu sudah jadi tugasnya melindungi dan mengayomi siapapun yang datang ke rumahnya. Pun sebagai manusia, sudah wajib dia membantu orang-orang yang membutuhkannya. Apalagi bagi anak-anak seusia mereka, barangkali inilah cikal bakal seperti apa kehidupannya kelak. Semoga kehidupan di kampung memberikan gambaran bahwa bumi ini harus dilestarikan. Bukan hanya gedung-gedung bertingkat yang boleh menghuninya, tetapi juga pepohonan yang rimbun juga hewan-hewan kecil yang hidup di dalamnya.

“Itu Bukit Pencu namanya. Kalau kita naik ke atas sana, kita bisa melihat langsung kota Tuban.”
“Tuban itu Jawa Timur kan, Pak?” tanya Abin dengan takjub memandangi hamparan tanah berkapur di hadapannya. Dia tidak tahu bahwa di desa Gayam ada tempat seindah ini.
“Warga di sini banyak yang menambang batu kapur ya, Pak? Bagas bertanya ketika ia melihat orang-orang menambang dari kejauhan.
“ Betul sekali. Selain bukit Pencu di desa Gayam di kecamatan Bojonegoro, di Blora juga masih banyak tempat wisata yang tidak kalah menarik.”

“Wah ... Mau dong, Pak. Keliling Blora pasti asik. Iya kan, Bin?” Bagas terlihat sangat bersemangat. Pun dengan Abin. Selama dua minggu di Blora, mereka menjelajah banyak tempat. Mulai dari Goa Trawang yang terbentuk daru endapan batu gamping yang kira-kira terjadi sepuluh juta tahun yang lalu. Waduk Bentolo yang berfungsi sebagai irigasi dan wahana pembinaan atlet-atlet nasional. Tidak lupa Gunung Manggir Tonadan yang ada di perbukitan Manggir desa Ngumbul pun mereka kunjungi. Dan yang paling disukai Abin dan Bagas adalah Lokomotif wisata yang ada di kawasan Cepu. Kereta-keretanya sudah terlihat usang, maklum, karena lokomotif itu peninggalan jaman Belanda.

“Bapak kagum dengan kalian karena sangat tertarik dengan wisata-wisata lokal. Sejauh yang bapak tahu, anak kota itu lebih suka main game, sosmed atau dufan.”

***

Dua pekan berlalu. Namun, orang yang paling ditunggu kedatangannya tak jua datang. Abin dan Bagas hampir putus asa. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena orangtua mereka pasti sangat khawatir. Bila pun memaksakan mencari, ke mana mereka harus mulai? Karena tidak tahu alamat jelasnya. Ia sudah pindah dan warga sekitar tidak ada yang tahu.

“Besok pagi kita pulang aja, Gas. Mungkin kakek benar, ayah sama sekali tidak menyayangiku. Itu sebabnya ia pergi meninggalkanku dan mama.”

“Kamu mau bawa balik sekalian sepedanya?”

“Enggak ah. Aku akan tinggal di sini. Itu hadiah dari ayah waktu usiaku enam tahun.”

Ketika sedang mengepak pakaian di kamar, pak rt mengetuk pintu kamar dua bocah yang bermuka masam itu. “Den ... Ada yang nyariin, nih. Ayo keluar.”

Ayah? Abin hampir copot jantungnya karena terlalu gembira. Secepat kilat ia membuka pintu. Dan yang didapatinya berdiri di depan pintu bukanlah ayahnya. “Mama!” Abin memeluk mamanya sambil menangis. Ia merasa bersalah karena telah membuat orangtuanya khawatir.

“Ayah ... Bunda. Jangan marahin Bagas, ya. Bagas dipaksa sama Abin.” Bagas merengek di pelukan orangtuanya. Ia senang sekaligus merasa bersalah karena menimbulkan kecemasan. “Sudah ... Sudah ... Yang penting kalian tidak apa-apa. Ucapkan terima kasih pada pak rt karena telah menjaga kalian,” ujar ayah Bagas dengan senyum ramah.


***

Abin bersandar pada mamanya. Sedangkan, Bagas telah tidur di kursi depan bersama ayah bundanya. “Mama kok tahu Abin ada di Blora?”

“Tahu dong ... Mama kan yang melahirkan kamu.”

Mama mengelus kepala Abin. Ia tahu anaknya itu cukup terpukul dengan kenyataan yang ada. Namun jauh di dalam lubuk hati Abin, ia tahu bahwa semua ini adalah jalan Tuhan yang terbaik bagi ayahnya.




Maafkan Mama, sayang. Mama tidak pernah cerita sebelumnya kalau ayahmu telah meninggal beberapa saat sebelum kamu pergi ke Blora. Pak RT yang menjagamu selama ini adalah sahabat Mama. Sahabat Ayahmu juga. Percayalah, kami sangat menyayangimu. Suatu saat ketika kamu sudah dewasa, kamu akan mengerti dengan sendirinya.

-Tamat-





















Comments

Popular Posts