(Cerpen) Nawang.

Suasana di sebuah kedai sedang ramai-ramainya. Maklum saja, jam makan siang telah tiba. Belum lagi lokasi kedainya memang strategis. Berada di dekat perkantoran dan pusat perbelanjaan. Meskipun begitu, sepasang suami istri itu tetap melayani pelanggannya dengan baik.
"Nawang jadi ke sini?" tanya pemilik kedai kepada istrinya yang sedang membersihkan piring-piring di meja. Jam istirahat kantor telah selesai. Jadi warung mulai sepi.
"Jadi, Mas. Tapi belum tahu sampai Jogja jam berapa. Katanya tadi sempat ada masalah di stasiun."
"Oalah ... tapi dia gak kenapa-kenapa, kan?"
"Mas tenang saja. Memang laki-laki mana yang bisa membuat dia kenapa-kenapa? Dia kan jago beladiri. Sampai-sampai pria-pria takut mendekati."

Suami istri itu pun tertawa. Bukan mengejek, melainkan senang karena akan bertemu dengan teman lama. Sudah lebih dari sepuluh tahun Alesa tak bertemu dengan Nawang. Sejak kelahiran anak pertamanya dengan Budi, Nawang memutuskan untuk ke Sydney. Selain untuk melanjutkan S2, dia juga bekerja di sana. 

"Les, gimana kalau kita jodohkan Nawang dengan temanku?" Ide cemerlang itu datang begitu saja di otak Budi. Alesa yang mulai membereskan siasa makanan karena sore hampir tiba pun mulai berbinar. Ia merasa kelelahannya menguap.

"Ide bagus, Mas! Tapi ... teman yang mana? Memangnya Nawang mau dijodoh-jodohkan?"

"Gantenglah pokoknya. Cocok sama Nawang. Yang satu terlalu serius, yang satu gak da serius-seriusnya."

Mendengar perkataan suaminya, Alesa tiba-tiba lesu. "Mas serius? Pria yang tidak ada serius-seriusnya, masak mau dijodohkan dengan Nawang?"

Mengetahui istrinya cemberut Budi menggeletakkan piring yang sedang dicucinya. Ia pun memeluk istrinya. Budi merasa sangat beruntung memiliki istri seperti Alesa. Tak pernah mengeluh, marah, dan baik budinya. Ia sangat perhatian dengan sahabat dan keluarganya. Budi berjanji dengan dirinya sendiri ketika membawa perempuan itu untuk pertama kalinya ke kontrakan kecil sebagai istrinya. Apapun akan ia lakukan untuk kebahagiaan istri dan anak-anaknya. 

"Mas bauk!" Alesa pura-pura menutup hidungnya. Suaminya memang bau air cucian piring. Tapi bukan itu alasan ibu muda yang tak luntur kecantikannya meskipun hanya mengenakan daster menutup hidungnya. Melainkan rasa haru yang tak tertahankan. Air matanya hampir melesat jatuh. Alesa merasa keputusannya menikahi Budi adalah keputusan yang benar. Meskipun harus meninggalkan kemewahan dan keluarga, Alesa tak menyesalinya.

"Gak apa-apa bau. Yang penting kamu cinta."

Comments

Popular Posts