(Cerpen) Orang Ketiga

"Maaf ya, Mbak. Ganggu makannya."  Seorang penjaga rumah makan tempatku mengisi perut yang keroncongan meminta maaf karena merasa mengganggu acara sakralku. Sebenarnya ia tidak salah, aku yang duduk di dekat tempat sampah padahal masih banyak meja yang kosong.

"Sini lho, Mbak! Jangan duduk di dekat tempat sampah!" Seseorang di meja depanku menimpali. Wanita usia empat puluhan yang masih terlihat energik dengan rambut kepirangan namun fasih berbahasa ngapak.

"Enggak ah, Mbak. Bokongku sudah nempel." Aku menyahut tanpa melewatkan ayam penyet yang ada di tanganku. Karena dari pagi tidak memasukkan apa-apa ke dalam perut, alhasil begitu matahari tepat di atas kepala, badan ini jadi gemetar.

"Aku jengkel sama suami. Kalau telepon, selalu minta uang. Katanya beli inilah. Itulah. Ada aja alasannya. Kita gajian kan sebulan sekali ya. Masak suami tiap minggu minta duit!"

Weeitzz! Alamat curhat ini emak-emak kekinian. Dan aku sendiripun tidak kaget dengan hal semacam itu. Di dunia pertekawean, dunia sudah terbalik. Suami yang harusnya menjadi nahkoda rumah tangga, menjadi tulang punggung keluarga, justru bisanya meminta tanpa berusaha. Sementara, perempuan disuruh kerja jauh dari keluarga, diperas keringatnya, bahkan tidak sedikit yang dihujani kecurigaan dan cela.

Katanya, sejak bekerja di luar negeri banyak tingkah. Lupa keluarga. Lupa sopan santun dan mulai main dengan laki-laki lain. Dan hal-hal semacam inilah yang pada akhirnya menjadi akar sebuah perceraian.

Aku tidak mau menyalahkan pihak perempuan. Bukan karena aku adalah bagian dari kaum mereka. Tapi aku bisa melihat bahwa tuduhan-tuduhan itu tidak benar adanya. Wanita-wanita itu hanya berusaha menyenangkan dirinya sendiri karena suami tak bisa mencukupi. Andai suami tahu dan melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawabnya, tidak mungkin kan mereka pergi jauh dari keluarga hingga taruhan nyawa?

"Suaminya gak kerja, Mbak?"

"Halah ... boro-boro kerja. Di rumah kerjanya cuma makan dan tidur. Belum lagi kalau diajak teman-temannya karaoke?"

"Lha! Kenapa gak diceraikan saja sih, Mbak?" Aku mulai mengutuk diriku sendiri karena mengeluarkan pertanyaan itu tanda basa basi. Minimal, tahu bahwa yang kuajak bicara adalah orang yang baru pertama kali kujumpai. 

"Ya ... mau gimana lagi, Mbak? Sudah ada anak. Sudah tua begini malulah kawin cerai kawin cerai. Dulu pernah selingkuh terang-terangan saja kumaafkan. Nyatanya masih bertahan sampai sekarang."

"Gimana perasaannya, Mbak?"

"Gak bisa dijelasakan! Ibaratnya, pedes enggak, manis enggak, pahit juga enggak! Kalau Mbak pernah ngalami mungkin tahu rasanya." 

"Hahaha. Jangan sampe deh, Mbak!" Kali ini bukan sambal yang terasa pedas di lidah. Namun juga hati yang teriris lalu dikucuri jeruk nipis! Pedih! Benar kata orang ... wanita memang mudah memafkan, tapi akan sangat mustahil bisa melupakan. Ya, cinta dan rasa sakit hati itu berbeda. Aku melihat lagi surat itu ... surat yang menandai luka batinku yang terdalam. Surat dari orang ketiga yang mampu mengoyak hatiku yang tadinya baik-baik saja.

2 Comments