Cerpen. Perempuan Tukang Kentut.



Kalau ada orang yang tidak tahu malu, itu adalah kamu! Anak perempuan kok kentut sembarangan. Itulah kata-kata emak waktu aku sedang pulang kampung. Memang apa salahnya sih kentut? Gak ada kan?! Lagipula tidak ada undang-undang yang mengatur bahwa kentut di tempat umum akan dikenakan hukuman sekian bulan maksimal sekian tahun dengan denda maksimal sekian ratus juta. Mak! Ini kentut, Mak! Kentut itu anugerah. Kentut itu ciptaan Tuhan yang terindah. kalau gak bisa kentut, berarti ada masalah sama lambungnya, Mak. Mamak tahu apa artinya? Kalau sudah gak bisa kentut berarti harus dibawa ke rumah sakit. Kalau sudah urusan sama yang namanya rumah sakit, orang miskin kayak kita gak bakalan bisa masuk ke sana, Mak! Mahal! BPJS gak punya. Minta surat keterangan miskin, di kelurahan malah suruh bayar. Kalaupun bisa masuk, ujung-ujungnya dipersulit. Pelayanan tidak maksimal dan bukan tidak mungkin bisa mati, Mak. Itu anaknya kang Ojo meninggal karena kehabisan darah. Katanya lagi stok di rumah sakit gak ada. Tapi pas aku dengar-dengar bisikan para suster di tempat jaga kok karena pasien gak punya uang buat beli darah. Yang benar mana sih, Mak? Bingung, kan?! Tapi kalau ada yang tanya, kenapa aku kentut terus, jawabannya gampang. Tuhan sudah menuliskan takdir Surti agar Surti selalu kentut setiap saat di manapun. Udah gitu, lagian kita kan warga ilegal, Mak. Sudah berapa tahun setelah kita poto ramai-ramai naik mobil kol yang AC nya alami dan berdesak-desakan untuk ke Kecamatan bikin KTP? Lama, Mak. Lama sekali. Dari anakmu ini kurus kering karena ditinggal kawin kang Rahman hingga sekarang gembrot karena sudah melahirkan buntut tiga. Kan Mamak tahu sendiri, aku kawin waktu itu Cuma di depan penghulu. Iya, kan?! Sudah gitu ternyata kang Somat istri sama anaknya segudang di Jakarta sana. Lebih baik mana, Mak? Tukang kentut seperti anakmu ini atau tukang tipu? Kira-kira seperti itu juga omelanku pada emak.

Sore ini langit kian mendung. “Banjir lagi banjir lagi.” Sekilas aku mendengar kata-kata itu dari Denok. Istri pertama kang Somat. Aku yang duduk di teras sambil memandangi kali yang baunya minta ampun hanya melengos sambil bicara dalam hati. Gubuk reot ini kan memang langganan banjir. Kok masih ngeluh. Yang namanya sudah biasa ya harusnya dinikmati. Iya, kan? Kalau gak mau tinggal di tempat kumuh gini ya ayo kita semua tinggal di tempat lain. Jual itu semua perhiasanmu untuk sewa rusun atau beli rumah lapis. Kan enak. Gak ada lagi banjir waktu kita lagi enak-enak ngorok atau rebutan dikelonin kang Somat.

“Kenapa, Sur? Kok ngelamun?” aku tersentak kaget. Si Denok tahu saja aku sedang menggerutu di dalam dada. Memang repot jadi istri muda. Yaitu ketiga. Kalau tahu kang Somat sudah punya banyak istri, mana aku mau jadi bini muda? Jelek-jelek begini juga punya harga diri. Tapi apa mau dikata? Sperma kang Somat sudah membuahi sel-sel telurku. Langit tak dapat diraih, lihat rumah yang diisi tiga istri dan sembilan anak bikin perih.

"Kang Somat belum pulang?" tanya Denok sambil makan kerupuk yang bunyinya krauk krauk krauk. Kadang-kadang aku suka heran. Denok itu makannya paling banyak di rumah ini. Tapi dia yang paling kurus. Entah dibuang ke mana lemak-lemak dan protein segala macam yang dimasukkan ke dalam mulut yang bibirnya selalu diolesi lipstick matte yang belepotan. Halah, prettt!! Istri tukang becak aja gaya-gayaan pakai matte matte segala. Emangnya situ oke?

“Makanya. Cari suami itu yang kaya. Jangan tukang becak biar hidupnya enak,” marah emakku suatu ketika saat menelpon lewat wartel. Mak ... mak ... kayak di sinetron aja ada pangeran ganteng nan kaya raya menikahi si buruk rupa yang miskin. Lagipula yang Surti keluhkan bukan masalah kerjaan kang Somat. Tapi kenapa tidak pernah terus terang kalau aku ini istri yang ketiga!. Tapi sekali lagi omongan seperti itu hanya ada dalam dadaku. Itu sebabnya payudaraku makin hari makin montok yang membuat kang Somat makin menyayangiku. Katanya aku istrinya yang paling bohay. Iyalah bohay. Orang istri muda itu istri paling menderita. Saking menderitanya, harus makan banyak biar kuat mengerjakan pekerjaan rumah yang seperti kandang kambing sementara istri kang Somat yang lain asik selfi sambil upload-upload di media sosial. Bleeeh ... kalau ada yang bilang jadi istri muda itu enak, bisa jadi suaminya itu kaya. Coba kalau suaminya kere? Mimpi saja ogah!!!


Singapura, 2017.

Comments

Popular Posts