(Cerpen) Sebuah Cerita Dari Barat.

Kemarin sore ketika sedang membawa Dinky untuk berjalan-jalan, aku bertemu dengan seorang wanita usia limapuluhan sedang duduk dan mengelus-elus anjingnya yang berwarna putih.

"Indonesia?" Pertanyaan singkat itu sudah otomatis meluncur dari mulutku ketika berpapasan dengan teman-teman sejawat. Dan entah perasaan itu datang dari mana, seolah-olah ada kebahagiaan tersendiri menyusup ke dalam relung-relung batin ketika bertemu dengan sesama orang Indonesia. Mungkin ini yang disebut Indonesianis. Perasaan yang yang membuat kita menjadi saudara hanya berdasarkan kita memiliki darah yang sama. Indonesia. Percayalah, perasaan itu menyenangkan dan membuat orang-orang yang sedang di perantauan seperti di negara sendiri.

"Indonesia, Mbak. Jawa." Ia menjawab dengan suara yang halus dengan senyum yang sumringah.

"Kula nggih Jawa kok, Bu. Pati. Sampun dangu ting mriki?"

"Kula Purwodadi, Mbak. Setahun Ting mriki. Sakbelume ting Arab mriko lho, Mbak. Tapi mboten betah. Omahe gedi-gedi ...." jawabnya dengan suara terbata. Seperti menyimpan cerita dibaliknya.

"Selain omahe gedi, majikane galak. Ora betah. Kerjaan akeh, apa maneh nek pesta, Mbak. Kerjaan ora bar-bar. Urung maneh nek majikan lanang njaluk dilayani. Ora dilayani ya kita dipukul, diancam dilaporkan polisi dan ora dibayar. Yen dilayani, keterusan. Wedi ketahuan karo majikan wedhok."

Aku manggut-manggut dan menyimak ceritanya dengan baik. Aku tidak berpikiran bahwa dia murahan atau yang lain, aku sangat mengerti posisinya dan memang seperti itulah kebiasaan di Saudi Arabia sana. Memang, tidak semua seperti itu. Tapi kebanyakan para TKW/TKL mendapat perlakuan yang hampir sama. Layani atau dilaporkan polisi? Kalau ketahuan anggota keluarga lainnya, ya disuruh ngelayani juga. Kalau tidak mau, ancamannya tetap sama. Polisi.

Bukan hal yang sulit menggiring seorang pembantu (yang menurut mereka adalah budak seperti jaman nabi; yang bebas diapa-apakan karena tidak memiliki harkat dan martabat) ke dalam jeruji besi. Mereka majikan. Punya kuasa dan memiliki uang. Terlebih lagi, mereka bukan warga asing. Mulai dari alasan pencurian, pembunuhan, atau minimal disiksa dan dipulangkan tanpa gaji yang dibayarkan. Buat orang sepertiku, cerita-cerita semacam itu adalah cerita klasik yang tak pernah usai di negeri yang banyak ditumbuhi pohon kurma tersebut. Usang dan selalu menjadikan kami korban.

"Mripun rasane, Buk? Enak?"

"Yo kaya njenengan yen ngupil ngangge gagang sapu, Mbak."

Ahaha! Gelak tawa kami menggiring senja makin melingsir ke barat. Tidak ada sakit hati yang muncul ketika pertanyaan itu muncul. Tidak ada rasa malu. Dan tidak merasa ditertawakan. Aku dan dia sama-sama tahu. Kami menertawakan takdir, menertawakan kehidupan. Bukan tertawa mengejek. Tapi, jalan Tuhan itu memang sangat lucu dan patut ditertawakan.


Comments

Post a Comment

Popular Posts