(Cerpen) Surat Untuk Kekasihku; Abimanyu.

Kekasihku, Abimanyu. Dalam bentang ribuan kilometer ini aku sangat ingin menuliskan sebuah surat padamu. Surat yang barangkali akan sedikit mengobati kerinduanku padamu. Ya, sedikit. Karena kerinduan ini terlalu banyak jika harus kutuliskan kata-kata. Aku tidak akan sanggup menorehkannya pada sebuah kertas kekuningan, dan aku yakin, kaupun tak akan mampu membaca kerinduan yang sebanyak itu.

Kekasihku yang yang selalu kusebut namanya dalam setiap denyutan nadiku. Aku baru saja menyaksikan sebuah hal yang hampir menggoyahkan keimananku. Ketika melewati sebuah gedung yang masih dalam proses pengerjaan, aku menyaksikan kerumunan para pekerja bangunan yang rata-rata kulitnya legam dan berkilau-kilau seperti air danau di dekat rumah kita ketika matahari mengerlingkan sinar padanya.

Ketika kumelihat ada mobil Ambulance datang, barulah kutahu bahwa yang dikerumuni pria-pria berbadan kekar itu adalah salah seorang temannya yang kecelakaan ketika bekerja. Ambulance itu pun berlalu melewatiku. Kuberanikan diri sekuat tenaga bertanya pada salah seorang diantaranya. Apa yang terjadi?

Begitu selesai mendengar pemaparan pria yang tak kukenal itu, perutku mual. Ingin muntah. Kakiku lemas dan dadaku memiliki detak yang tak lagi beraturan. Aku tidak tahu bagaimana cara mengejewantahkannya.

Dari gedung yang sedang dibangun itu, seorang pekerjanya jatuh dari ketinggian sepuluh lantai. Meskipun pengaman telah diberikan, tapi apa daya jika Izrail tak mau berpaling? Seketika itu juga aku berpikir. Bagaimana jika anak dan istrinya tahu bahwa tulang punggung yang dinanti-nantikan kepulangannya, kembali tak bernyawa. Bagaimana perasaan ibu yang mengandung dan melahirkannya? Anak yang dibesarkan dengan taruhan nyawa, kini meregangkan nyawanya di negeri orang. Lalu, bagaimana ayahnya? Apakah ia akan menerima dengan ikhlas kematian putranya, tumpuhan jiwanya, tempatnya bersandar ketika usia telah senja?

Abimanyu, kekasihku. Aku terlalu rapuh menyaksikan semua itu. Jiwaku tidak sekuat batu karang yang dengan sigap menantang ombak  di lautan. Tidak, kekasihku. Aku tak sekuat Gunung Merbabu yang menopang bumi ini agar tidak goncang. Aku rapuh. Lemah. Bahkan, di hadapan rindu saja aku bertekuk lutut memohon ampun.

Aku melanjutkan lagi perjalananku dengan gontai. Tak ada lagi semangat untuk melangkahkan kaki. Aku takut, kalau-kalau di depan sana aku melihat hal yang mengerikan lainnya. Dan ketakutanku itu menjadi kenyataan, Abimanyu.

Aku melihat orang-orang berkerumun. Kali ini bukan orang-orang berkulit legam yang tertangkap oleh netraku. Tapi, orang-orang dengan pakain yang bagus dan bersih dengan telepon-telepon pintar di genggamannya. Aku penasaran, apa yang sedang mereka lakukan.

Aku pun mendekat dengan dada berdebar. Seorang wanita tengah dipukul seorang laki-laki, yang kukira itu adalah suaminya. Sedangkan, wanita itu sedang menggendong bayi yang tak henti-hentinya menangis. Aku heran, kenapa tidak ada yang menolong wanita itu? Yang kutanyai menjawab. Itu adalah urusan rumah tangga orang itu. Kita orang lain tak berhak ikut campur.

Benarkah seperti Abimanyu? Tapi, kenapa mereka menonton dan mengabadikannya dalam ponsel? Apakah seorang perempuan yang dipukul oleh suaminya adalah tontonan? Bisa disebar luaskan di media sosial dengan caption-caption agar kita yang mempostingnya terlihat bijak?

Diam-diam aku menelpon polisi, Abimanyu. Dan aku bersyukur, polisi itu datang dengan cepat. Dua orang berseragam itu kemudian membekuk laki-laki itu ke dalam mobil. Sementara seorang berseragam lainnya terlihat memberikan bantuan medis terhadap wanita yang telah babak belur itu. Sedangkan bayinya tak lagi menangis. Barangkali dia tahu bahwa ibundanya kini telah terselamatkan.

Asal kau tahu, Abimanyu. Aku menuliskan surat ini dengan jari-jari yang gemetar. Tak habis pikir olehku, kenapa manusia begitu acuh pada orang-orang yang teraniaya di depan mereka. Yang kutahu, Tuhan menciptakan manusia dengan sempurna. Memiliki hati dan akal. Lalu, apa bedanya dengan hewan jika manusia-manusia itu tidak melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan?

Abimanyu, pujaanku. Tidak ada senja untuk menggambarkan kesedihan di kota ini. Senja yang kau puja-puja, tak laku di antara gedung-gedung mewah bertingkat di depanku. Senjamu yang suci di remehkan di sini. Aku harap kau tidak patah hati jika suatu saat mengunjungiku di sini. Tenang saja, meski aku tak memuja senja, aku menyimpannya satu untukmu. Kalau kita bertemu, aku akan memberikannya padamu sebagai hadiah. Akan kutambahkan kecupan hangat pada bibirmu sebagai pengingat bahwa aku tak pernah melupakan apa kesukaanmu.

Jangan tertawa jika aku menceritakan sebuah cerita padamu. Janji? Sewaktu makan tadi, aku mendengar suara kentut dari orang di sebelahku. Sambil memperlihatkan gigi-giginya yang rapi, wanita paruh baya itu meminta maaf. Aku bisa membaca ketulusan dalam setiap kata-katanya.

Kemudian, ia bercerita. Ia baru saja bisa kentut setelah berhari-hari minum obat dari dokter. Perutnya seperti gunung merapi yang mengeluarkan maghma. Lega. Aku ikut bahagia mendengarnya. Dan baru kusadari, ternyata angin yang berbau itu sungguh berharga.

Aku akan menunggumu, Abimanyu. Kukirimkan surat tanpa perangko ini melewati lautan. Semoga kau menerima suratku dengan utuh meskipun telah terkoyak ombak yang berdebur. Aku akan mengunjungimu jika aku telah siap melepaskan segala ketakutan.

Dari kekasihmu. Rindu yang kau tinggal pergi dalam dunia yang hampa.


0 Comments