(Cerpen) The Way Love


Aku sering mendengar bahwa cinta akan selalu menemukan jalannya. Ia juga akan mempertemukan dengan seseorang yang memang ditakdirkan untuk kita. Aku tidak percaya pada hal yang demikian itu. Pun tidak percaya dengan apa yang dinamakan cinta. 

Buatku, cinta adalah omong kosong. Cinta adalah pembodohan. Cinta adalah kompeni yang memperbudak kaum hawa agr mau melakukan apapun demi laki-laki atas nama cinta. Tidak! Aku tidak mau menjadi bagian dari perbudakan itu. 

Aku tidak ingin menjadi seperti Alesa. Sahabatku semenjak kami sama-sama duduk di bangku SMP. Dia adalah wanita tercerdas dan tercantik yang pernah kukenal. Namun, tiba-tiba saja kecerdasannya hilang seperti ditelan lautan saat ia mengenal cinta.

Yang tadinya ia adalah seseorang yang logis, yang menganggap bahwa seharusnya seorang wanita sekelas Alesa seharusnya berpasangan dengan pria tampan, mapan dan juga pintar, tapi malah sebaliknya. Ketika semester terakhir ia justru kepincut dengan pedagang nasi kucing dekat kampus. Padahal, jika disandingkan mereka seperti lamgit dan bumi. Alesa bidadari, dan pria itu adalah orang suruhannya.

Semenjak mengenal pria itu, kebiasaan Alesa pun berubah. Yang tadinya pakaiannya modis dan selalu mengikuti tren, kini terlihat kuno dan ketinggalan jaman. Ia mulai tak mengenakan makeup, high heels dan juga nada bicaranya menjadi sopan. Yang tadinya lo gue menjadi aku dan kamu.

Tidak berhenti hanya di situ. Alesa juga mulai meninggalkan mobil mewah kesayangannya. Ke mana-mana diantar pria itu menggunakan motor butut. Katanya, ia merasakan kebahagiaan yang tak permah ia dapakan sebelumnya. Pria itu, meskipun tidak tampan tapi sangat penyayang. Ia menyukai perempuan yang bisa menjadi ibu bagi anak-anaknya. Bukan seorang foto model yang tubuhnya bisa dinikmati oleh mata pria seluruh dunia. Tidak heran Alesa meninggalkan pekerjaannya dan sekarang cara berpakaian sangat sangat sangat tidak modis!

"Aku dan Budi akan menikah," selorohnya suatu ketika setelah lama kami tidak bertemu. Padahal, kami kuliah di tempat yang sama. Ya, mau gimana lagi? Dia memang sedang gandrung dengan penjual nasi kucing. Setelah kuliah selesai, dia datang ke kontrakan pria itu. Membantu masak dan juga mempersiapkan barang dagangan.

"Kamu yakin?"
"Yakin"
"Tidak akan menyesal di kemudian hari?"
"Tidak akan."
"Orangtuamu setuju?"
"Tidak."
"Terus bagaimana?"
"Aku akan membuat mereka menyutujuinya!"

Wah ... cinta memang gila! Aku ta pernah melihat Alesa berbicara dengan kobaran api seperti itu. Namun, beberapa bulan kemudian ia membuktikan ucapannya dengan secarik undangan pernikahan. 
"Bagaimana caramu membuat mama papamu setuju?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja. 
"Anak dalam perutku!" Senyumnya mengembang dengan penuh kebahagiaan. Alesa ... Alesa ... sahabatku yang malang. Ia dibutakan cinta hingga akhirnya kehilangan dirinya sendiri.

*****


"Boleh duduk di sini?" Seorang pria menganggu lamunanku. 
"Hmmmmm," jawabku. Seharusnya ia tak perlu tanya. Toh kereta sedang lenggang. Duduk atau tidak itu urusannya. Mau duduk di manapun terserah. Dilantai kek, kursi kek, atau di atap gerbong sekalian.
"Kamu pasti belum menikah." Kata-katanya singkat padan dan jelas.
"Benar kan dugaanku. Kamu langsung menoleh dan melotot ke arahku."
"Apa urusanmu?"
"Tidak ada. Aku hanya menduga-duga. Pria sial mana yang mau menikahi wanita jutek dan judes sepertimu."


S, 2018


0 Comments