(Cerpen) Di Ujung Perpisahan

Bosan menjalari setiap aliran darahnya. Ia tidak tahan lagi dengan semua yang ada di kehidupannya. Bos yang selalu menuntut semua pekerjaan harus selalu beres tanpa cela. Bawahan yang sulit sekali diajak kerjasama. Maunya gajian tepat waktu tapi kerja leha-leha. Belum lagi rumah tangganya yang mulai hambar, suram dan rasanya sudah tidak ada kenikmatan lagi ketika bercinta.

Henri menyalakan lagi rokoknya. Di tepi ranjang di sebuah hotel melati bersama dengan wanita yang beberapa bulan terakhir ia kencani. Wanita itu memang tidak secantik istrinya. Tapi dia pandai mencairkan suasana dan mampu menghilangkan kekalutan pria berusia 35 tahun itu.

"Belum tidur, sayang?" tanya wanita duapuluhan itu dengan suara manja yang dibuat-buat. Tubuhnya yang hanya terbalut selimut memperlihatkan bongkahan dada yang bulat dan berisi. Henri pun dibuatnya tergoda hingga mematikan rokoknya yang baru saja disulut. Malam itu menjadi malam yang kesekian bagi dua insan manusia yang sedang dimabuk asmara. 

Sementara itu di tempat lain Rania sedang menunggu kepulangan suaminya. Ia tahu bahwa Henri tidak akan pulang malam ini. Tetapi, sebagai seorang istri dia sangat berharap suami yang dinikahi lima tahun lalu mau pulang. Meskipun dengan wajah datar dan tanpa perhatian yang dulu pernah ia berikan, tak masalah. Yang terpenting bagi Rania adalah suaminya pulang dengan utuh. Itu sudah cukup.

Rania sudah bertekad akan selalu menunggu suaminya di sofa dekat pintu. Ia juga sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menjadi istri yang bodoh. Bahkan dijuluki wanita terbodoh di dunia oleh teman-temannya pun ia rela. Jika kebodohan itu mampu mempertahankan suaminya, keutuhan rumah tangganya, kenapa tidak?

Wanita usia 30an itu tahu apa yang dilakukan suaminya saat ini. Pun malam-malam sebelumnya ketika ia berbohong lembur dan ada kerjaan di luar kota. Dia juga sering memergoki suaminya tersenyum-senyum sendiri di depan layar HP. Kalau bukan dari seorang wanita, dari siapa lagi? Bukankah kelemahan sekaligus kekuatan seorang pria adalah wanita?

Ia sangat sadar bahwa suaminya sudah mulai bosan dengan dirinya. Bosan dengan rumah tangganya yang hambar. Bosan dengan rutinitas istrinya yang kuno dan tidak kekinian, dan bosan karena tidak ada suara anak-anak di dalam rumah mereka. Henri menginginkan anak. Ahli waris yang akan mewarisi sifat-sifatnya, dan akan membawa keceriaan di rumahnya yang hampa.

"Ayo kita coba lagi, Mas. Kali ini pasti berhasil," bujuk Rania pada suaminya pada suatu ketika.

"Aku bosan. Lelah. Sudah berapa kali kita melakukan program kehamilan? Semua tidak ada yang berhasil!" Sejak saat itulah Henri mulai jarang pulang. Sikapnya tak lagi hangat dan perhatian-perhatian kecil pada istrinya entah hilang ke mana? Apakah pindah le wanita lain?

***

" Aku ingin kita bercerai." Kata-kata Henri tidak begitu mengagetkan Rania. Ia telah mempersiapkan diri untuk itu. Dia juga tahu apa alasan suaminya hendak menceraikannya. Wanita yang tempo hari pernah ia pergoki pergi dengan suaminya.

"Aku setuju kita bercerai, Mas. Dengan satu syarat."

"Apa?"

"Kita bulan madu lagi untuk kedua kalinya."

Seakan tahu apa taktik istrinya, Henri tidak menolak ajakan itu. Lagipula tekadnya sudah bulat untuk menceraikan Rania dan akan menikahi wanita lain yang kini telah mengandung anaknya.

Henri tahu bahwa istrinya telah mengetahui perselingkuhan dirinya. Namun justru itulah yang membuatnya jengah. Rania tidak pernah marah, protes kalau ia beralasan lembur atau keluar kota, apalagi bertanya aneh-aneh saat ia menerima telepon dari teman wanita. Rania terlalu penurut pada suami. Tidak memiliki inisiatif. Pun ketika di atas ranjang, ia sangat monoton. Hanya mau menerima tanpa ada keinginan untuk memberi.

" Lombok masih sama seperti dulu ya, Mas?" Rania memulai pembicaraan ketika mereka baru saja sampai di penginapan. Kamar itu menjadi saksi ketika lima tahun lalu suaminya memecahkan dara Rania.

"Aku jadi ingat saat pertama kali kita datang ke sini lima tahun lalu. Mas masih ingat aku pakai baju tidur warna apa pada saat malam pertama kita?"

Henri menyalakan rokoknya kemudian berdiri di dekat jendela. Istrinya mengoceh hal-hal itu saja. Tidak menarik. Ia sangat kolot karena tidak pernah membicarakan tentang fashion, artis atau hal-hal yang sedang menjadi trend. Tidak seperti Amalia yang sealu modis dan tahu hal-hal baru yang terjadi dunia ini. Henri tak pernah bosan dengan celotehan wanita itu. Apalagi ketika mendengar racauannya yang tak jelas ketika sedang berada di puncak surgawi. Amalia begitu agresif dan menantang untuk ditaklukkan.

"Mas ... coba lihat sini deh! Aku gendutan, ya?! tanya Rania pada suaminya.

Henri pun menoleh pada istrinya yang baru keluar dari kamar mandi. Dia mengenakan baju tidur transparan warna merah hati. Baju tidur yang pernah ia pakai lima tahun lalu saat bulan madu. Rania masih terlihat sexy memakai baju itu. Justru terlihat semakin menantang. Badannya sedikit berisi, pun dengan bongkahan dadanya. Henri bisa melihat puting kecoklatan itu dengan sangat jelas. Ia baru menyadari bahwa dada itu terlihat begitu berisi, bulat dan menantang.

"Aku tidak menolak melakukannya sekali lagi. Meskipun kita akan bercerai, bukankah ini bulan madu kita? Kita masih sah sebagai suami istri."

Pria itu tak mampu menolaknya. Entah kenapa ia menyukai istrinya ketika berbadan monthok. Seperti seorang wanita yang sedang hamil. Malam itu terasa berbeda. Rania seperti tak dikenalinya. Ia begitu agresif, dan entah kenapa kali ini Rania yang menguasai permainan. Henri sampai dibuatnya tak berdaya. "Mas ... pelan-pelan. Aku sedang mengandung," ujarnya lirih ketika Henri bangkit untuk yang ketiga kalinya.

Hamil? Entah kenapa Henri bahagia mendengarnya. Ia memelankan ritmenya. Seolah-olah memegang gelas yang rapuh, Rania diperlakukan dengan lembut. Ia tidak ingin menyakiti Rania. Ia juga tidak ingin kehilangan anaknya. Henri ingin melihat anak itu lahir.

***

"Amalia ... Laki-laki itu mau tanggung jawab?"

"Tentu saja! Henri adalah pria baik-baik. Tidak sepertimu!"

"Mana ada laki-laki baik menyelingkuhi istrinya?"

"Setidaknya ia lebih baik darimu yang tidak mau bertanggung jawab atas janin yang ada di perutku! Kamu yang menghamili, laki-laki lain disuruh tanggung jawab!"

-Tamat-


Comments

Popular Posts