Never Ending story (1)

"Mak. Suatu saat ketika sudah dewasa aku akan jadi orang yang besar."

"Yo mesti to, Nduk. Namanya sudah besar yo jadi orang yang besar. Bukan orang cilik."

Sedikit percakapanku dengan Emak, Kang. Kurang ingat berapa umurku saat itu, kira-kira masih duduk di bangku SD. Setiap siang pulang sekolah, kami duduk di teras rumah 'sebelah kulon'. Menyenangkan bersandar pada pangkuannya. Tidak pernah ada keraguan tentang cinta seorang Emak.

"Mak. Suatu saat aku akan jadi orang kaya. Punya rumah, mobil, dan uang yang banyak. Emak sama Bapak gak usah kerja lagi. Nikmati masa tua kalian," kataku sambil meringkuk mengarah ke kiblat. Sementara tangan orang yang melahirkanku terus saja mengelus rambutku.

"Heeh to, Nduk? Tak aamiinkan ya. Semoga Gusti Allah ngijabah. Anakku sehat dan bahagia. Tidak pernah kekurangan satu apapun."

Aku sangat bangga, Kang. Lahir dari rahimnya. Tak pernah marah ataupun menuntut dari anaknya. Setiap kali ia melepon, hanya serentetan doa yang ia panjatkan. Kadang aku mikir, sak abot-abote dalanku kok isih lancar ya? Masih ada jalan.

Kalau sudah begitu, yang aku lakukan hanya diam. Teringat semua tentang emak di kampung. Orang yang tidak pernah tertawa, senyumnya pun sangat mahal. Suaranya lembut. Mata yang sayu, juga sentuhan tangannya yang sangat hangat. Ia tak pernah bilang kalau aku nakal. Padahal aku anak yang nakal, saat itu.

"Anakku wedhok ora nakal, kok. Ayu tur pinter. Suk mbiyen pinter karo Emak lan Bapak." Itu yang selalu dikatakannya. Bahkan sampai sekarang.

Ia tak pernah mengajariku secara langsung. Tapi aku belajar darinya melalui tindakan-tindakannya. Tak pernah ada teori aku harus ini harus itu. Ia selalu memintaku melakukan hal yang kuinginkan dan mampu membuatku bahagia. Meskipun, aku masih belum mampu seperti emak.  Wanita yang kuat, pekerja keras, dan tak banyak mengeluh.

Waktu kecil ia selalu melarangku menerima pemberian orang lain. Entah itu berupa barang ataupun uang. katanya," Nduk. Gak usah diterima. Kalau hanya seperti itu, aku isih isa untuk membelikan."

Aku selalu mrengut saat emak bilang seperti itu. Kenapa tidak boleh? Lambat laun aku mengerti alasannya. Yaitu, jangan terlalu sering menerima pemberian orang lain yang nantinya akan membuat malas dan malah memiliki keinginan untuk meminta.

Terkadang saat aku merasa bosan, kuputar memoriku waktu kecil. Ternyata banyak yang Emak ajarkan. "Nduk. Jadi perempuan itu yang halus. Ngomong yang halus, jangan kasar. Tindak tanduk yang halus. Kalau tertawa seperlunya." Itu kalimat Emak yang selalu dilontarkan padaku ketila teman laki-lakiku main kerumah. Dan tentunya kalimat itu sangat menggangguku. "Mak. Aku bukan almarhun Kang Herman yang selalu Emak banggakan. Yang pintar, rajin, dan pekerja keras. Yang peringainya lembut. Aku seperti ini. Suaraku keras. Berjalanpun tidak bisa pelan. Kalau aku menjadi wanita yang Emak inginkan, bagaimana aku bisa bekerja dengan pekerjaankanku yang sekarang?" Sanggahku meninggikan suara. Tak mau kalah.

Kalau sudah seperti itu aku langsung pergi dari rumah. Meninggalkannya dengan air mata yang tertahan. "Maaf, Mak. Aku hanya ingin tertawa. Setidaknya sebentar saja. Saat hanya kita bertiga di rumah, tidak ada suara orang tertawa di rumah kita. Tidak ada ....

-sebuah potongan cerita yang tak pernah selesai kutulis. Bukan karena malas, tapi memang tak bisa. Terlalu takut untuk menuliskannya dan terlalu takut akan persepsi orang-orang. Cerita ditulis menggunakan POV 1 yaitu aku. Cerita ditujukan untuk almarhamum kakak.-


Singapura, 2016

0 Comments