My Name Is ....


Sepuluh tahun lebih aku tak bertemu dengan Alesa dan suaminya. Sejak ia melahirkan anak pertamanya, aku memutuskan untuk pergi ke Sydney. Ya, melanjutkan S2 sekaligus bekerja di sana adalah keputusan yang paling tepat kuambil. Di sana tak akan ada yang menanyaiku kapan menikah? Gak pengen punya anak? Gak takut jadi perawan tua? Dan segenap pertanyaan lain yang menurutku sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia pada umumnya. Ya, kebiasaan buruk yang mengurusi hidup orang lain.

Setelah perjalanan sempat tertunda beberapa jam karena seorang berandal yang menyamar sebagai eksekutif, akhirnya sekarang aku dalam perjalanan ke Jogja. Sudah lama aku tak menginjakkan kaki di sana, penasaran, apakah ada yang berubah? Atau, justru masih sama seperti dulu?

Aku mengambil hp dari dalam tas. Melihat album foto berisi Alesa dan keluarga kecilnya. Di foto itu Alesa tetap cantik meskipun tanpa riasan. Ia masih tetap bersinar meskipun telah memiliki dua anak. Dan Budi, ia seperti pria pada umumnya yang setelah menikah tubuhnya berisi terutama pada bagian perut. Sementara kedua putri kecilnya sama sekali tidak mirip Alesa. Wajah Budi lebih dominan. Aku pernah mendengar bahwa anak perempuan wajah dan sifatnya lebih banyak menurun dari ayah.

Senang melihat mereka meskipun hanya dari foto dan kadang-kadang video call. Tadinya kupikir bahwa sahabatku itu tak akan bahagia bersama dengan pria pilihannya, ternyata aku salah, Alesa terlihat sangat menikmati hidupnya. Meskipun serba pas-pasan, tak pernah ada keluhan ketika kami saling bertelelepon ria.

"Foto pacarmu yang meninggalkanmu dengan perempuan lain dan sekarang sudah punya anak?" Suara pria di sampingku mulai mengganggu lagi setelah sempat beberapa saat tak terdengar karena ia sedang tidur. Cepat-cepat kumasukkan hp ke dalam tas dan menyapu air mata keharuan yang sempat menetes dari balik kacamataku. Aku tak sadar ternyata dari tadi ia memerhatikanku.

"Sudahlah. Masih banyak laki-laki lain di dunia ini. Aku bisa mencarikannya seratus untukmu. Atau ... aku saja? Lagipula aku cukup tampan dibanding foto pria tadi."

Hah. Aku berharap dia tertidur kembali. Aku lebih senang mendengar sia mendengkur daripada mengoceh. Entah mimpi buruk apa sampai hari ini dihadapkan pada dua pria yang menjengkelkan. Satu pencopet. Satunya lagi burung Beo.

"Baiklah kalau tak mau menjawab pertanyaanku. Lagipula itu bukan urusanku." Memang bukan urusanmu, Beo! Jadi tidak usah bertanya lagi! Aku berusaha menahan kata-kataku di dalam dada. Aku sangat sangat sangat tidak menyukai pria yang cerewet. Dia memang tampan. Maksudku, sekilas wajahnya terlihat lumayan. Tubuhnya tinggi, tegap dan bulu-bulu halus dibiarkan tumbuh liar di wajahnya.

"Apa sekarang kau sedang memikirkanku? Kamu mulai berpikir bahwa aku pria yang tampan? Aku tidak akan menolaknya jika kamu memujiku." Gggrrrr!!! Aku tidak tahan tahan lagi! Aku tidak ingin dia menggangguku. Tapi kuakui dia memang tampan. Maksudku lumayan.

"Apa kasetmu sedang rusak sehingga tak bisa berhenti bicara?" Aku melotot ke arahnya tapi dia justru cengengesan.

"Ya. Kasetku memang sedang rusak dan aku membutuhkan seseorang untuk memperbaikinya."

"Cari saja di tukang loak! Singkirkan kakimu! Aku mau ke kamar kecil." Posisi dudukku yang dekat jendela cukup menyulitkan kalau ingin ke toilet. Aku malas harus melewati pria itu. Selain itu juga kakinya panjang dan aku tak tahan berada di dekatnya!

"Silakan lewat, nyonya." Ia berbicara dengan mengejek sembari berdiri agar aku bisa lewat. Baru saja aku akan melangkah tiba-tiba keseimbangan badanku menghilang. Dan pria itu menangkap tubuhku yang hampir tersungkur. "Kamu sengaja ya menjegalku agar jatuh?" Aku melihatnya dengan marah. Ia sengaja merentangkan kakinya. "Kalau iya kenapa?" jawabnya sambil mendekati tubuhku yang semakin mundur. Tangan kanannya meraih pinggangku dan tiba-tiba sorot matanya berubah drastis. Mata jenaka dan kekanakan yang tadi kulihat kini berganti dengan mata harimau yang tajam dan hendak menerkam mangsanya. Ia mendekatkan pinggangku ke tubuhnya. Tangan itu terasa mencengkram dengan kuat. Aku sudah tak bisa berkata apa-apa lagi ketika wajahnya didekatkan padaku. Aku bisa merasakannya. Hembusan napasnya di kulitku. Tapi sayangnya aku tak bisa merasakan lagi denyut jantungku. Apakah aku sudah mati? 

Mata kami saling terpaut satu sama lain untuk beberapa detik. Sekarang dia bukan lumayan lagi. Dia memang tampan.
"Namaku Lukas. Pria tertampan di seluruh jagat raya." Selorohnya kemudian melepaskan tangannya dari pinggangku yang membuatku terjatuh di kursi. Sial!

Comments

Popular Posts