Takdir Tuhan dan Lingerie



Terkadang, saya itu ingin sekali mengutuk Tuhan. Tidak ingin lagi berdoa dan menyembah padaNYA. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, tidak ada gunanya saya melakukannya. Sia-sia. Tetap saja saya jelek. Buruk rupa dan melarat.

Saya sering merasa iri dengan teman-teman saya yang memiliki tubuh seperti biola. Kaki yang panjang dan mulus, payudara yang montok, pantat yang padat, perut rata dan pinggul yang aduhai. Alamak! Saya merasa seperti orang yang mati segan. Hidup tidak mau.

Kecantikan itu modal utama untuk hidup. Itu menurut saya. Entah menurut kalian. Itu bukan urusan saya. Meskipun teman-teman saya tidak memiliki otak yang pintar, kalau sekolah tidak pernah mengerjakan PR, hobinya cuma dandan dan merawat diri sehingga otak makin tumpul karena tidak ada yang dipirkan selain penampilan. Tapi, pada kenyatannya mereka sukses dalam hidupnya. Dan semuai itu sangat berbanding terbalik dengan kehidupan saya yang dahulu kala mendapat julukan komputer berjalan.

Tas Hermes, baju Chanel, parfum, make up sampai celana dalam pun semuanya barang-barang mewah. Mobil kinclong. Rumah mewah dan kuku-kuku mereka warna warni dan kelap kelip seperti lampu disko. Semua hal itu makin membuat saya berpikir bahwa Tuhan benar-benar tidak adil. Mereka yang tidak bekerja dan tolol tapi bisa menjadi orang kaya. Sedangkan saya yang berotak pintar, kerja kantoran, tetap saja miskin dan sendiri!

"Ani! Tahun baru ada pesta di rumah. Kamu datang, ya?!" Tulisan di layar androidku yang kacanya sudah pecah karena jatuh saat turun dari angkot.

"Gak janji, Sus." Saya menjawab singkat. Malas nulis panjang-panjang. 

"Oke. Gak masalah kalau kamu sibuk. Ini Victoria Secreet baruku. Bagus, kan?"

Benar kan  yang saya pikirkan?! Lingerie yang tadi dipamerkan di instastory sudah menempel pada tubuhnya. Jangankan pria. Saya saja berdecak kagum. Tidak ada cacat di tubuhnya. Sangat sempurna menonjolkan tubuhnya yang bak gitar spanyol. Lingerie berwarna merah cerah itu bisa menggaet pria mana saja yang ia inginkan.

Apakah saya menginginkannya? Memakai lingerie mahal dan berdandan dengan rapi, wangi dan sexy ala-ala sosialita? Tidak! Lagipula, sampai mati juga saya tidak akan mampu membeli pakaian dalam dengan harga jutaan itu. Selain itu, buat apa saya mengaguminya? Toh sebenarnya saya iri. Itu saja. Ya, saya sangat iri. Mungkin orang lain akan bilang seperti ini," Sudah jelek lahir, jelek pula hatinya." Oh, itu tidak masalah. Toh kejelekan saya tidak merugikan siapapun.

Saya menghapus pesannya. Muak membacanya. Dan semakin muak ketika berdiri di atas timbangan dan angka menunjuk ke 85.

S, 2017


Comments

Popular Posts