(Short Story) Love is Love



Dikatakan atau tidak, diakui atau dipungkiri, cinta tetaplah cinta. Tak ada yang bisa mengelak darinya bahkan Tuhan sekalipun tak mampu mencegahnya? Ya ... soal mampu atau tak ingin mencegah itu adalah urusanNYA. Toh ketika Adam dan Hawa memakan buah terlarang di surga, Tuhan membiarkannya begitu saja. Iya, kan? Karena memang dari awal maunya Tuhan seperti itu agar sepasang manusia pertama di bumi itu beranak pinak memenuhi bumi yang entah di mana ujung pangkalnya. Sekali lagi itu urusanNYA bukan urusanku. Karena, jujur dengan sejujur-jujurnya otakku ini tak bisa berpikir sampai ke sana.

Kemarin lusa ketika aku bertemu dengan seorang teman yang baru beberapa kali kujumpai ia mengajakku minum kopi di salah satu kedai kopi depan MRT Paya Lebar. Obrolan kami mulai dari hal remeh temeh kenapa aku tak mengenakan make-up ketika sedang keluar rumah, soal si anu yang sulit sekali ditagih hutang, si B yang lupa dengan anak dan orangtua di kampung, soal negara sendiri yang makin carut marut karena elit politik tak pernah berhenti berebut kekuasaan hingga kasus pembunuhan yang baru-baru ini terjadi di Singapura. 

"Yaelah, Cin ... pagi-pagi itu ngopi. Rileks. Bukan bahas soal politik apalagi pembunuhan. Ngeri ah!" Aku menyeloroh karena sebenarnya aku sedang malas membicarakan hal-hal yang tak berkaitan langsung dengan kehidupanku.

"Sesekali lah, Cin. Daripada mainan henpon sambil baca tulisan kecil-kecil begitu, lebih baik ngobrol biar gak kayak manusia android!" Aku manggut-manggut. Untuk poin itu aku setuju soanya manusia jaman sekarang memang lebih suka dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan telepon seluler mereka daripada mengobrol dengan sesama makhluk yang bernama manusia.

"Menurutmu gimana soal pembunuhan itu?" Ia bertanya menggebu sambil menata rambutnya yang baru sebulan direbonding. 

"Ya biasa saja."

"Biasa?" Ia mengulangi perkataanku dengan nada kaget sekaligus nada yang bisa kubaca. Kejengkelan. 

"Iya. Biasa. Sudah sering terjadi, kan? Baik di Indonesia ataupun luar negeri hal semacam itu terjadi. Jadi, rasanya tidak adil kalau rame-rame ngejudge A atu B. Dengan kata lain semua itu adalah takdir!"

"Kamu diajak ngomong mah gitu! Kalau sudah sampai takdir ya gak bisa ngomong apa-apa lagi."

"Makanya bahas yang lain saja. Toh itu urusan masing-masing. Hidup ini terdiri dari dua hal. Baik buruk. Hitam putih dan lain sebagainya. Nah, begitu juga orang Indonesia, Bangladesh, Amerika, Singapore atau dari hutan Amazon ada yang baik ada yang gak baik. Kalau orang lain mau ngejudge ini itu sama tkw atau orang-orang Bangladesh, ya biarin aja. Yang penting jaga diri, jaga pergaulan dan jaga mulut jangan suka gosip sana sini."

"Tapi kan ceweknya dirugikan."

"Memang kamu tahu cerita yang sebenarnya? Kalau dia merasa dirugikan, gak mungkin saat itu mereka berdua di kamar hotel. Lagian mereka sudah dewasa. Sudah tahu hal yang menurut mereka baik atau buruk. Mereka sama-sama menginginkan hubungan itu. Sama-sama membutuhkan."

"Butuh itu sama gak sih sama cinta?"

"Tergantung siapa yang menilai. Cuma ... cuma nih ya, sebagian besar perempuan hanya mau disentuh oleh pria yang memang ia cintai. Memang ia inginkan."

"Terus gimana soal psk?"

"Itu beda cerita dong. Mereka gak dapat cinta, dapat duit sebagai gantinya. Intinya nih ya, gak semua orang Bangla jahat, orang Indo baik. Cukup didik sendiri dulu aja. Ngaca diri sendiri aja dan gak usah ikut-ikutan. Kalau soal bunuh membunuh, masih ingat gadis yang diperkosa lalu kemaluannya dimasukin gagang cangkul?"

Temanku itu bergidik ngeri. Ya ... cinta tetaplah cinta. Sebagai orang luar, tak pernah kutahu kenapa sepasang kekasih yang pernah saling berbagi kasih, bisa memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup pasangannya. Sekali lagi aku memang malas mengurusi hidup orang lain yang tak bersinggungan denganku. 


Comments

Popular Posts