Singapura, Negeri yang Penuh Harapan

Setelah perjalanan yang cukup lama mulai dari kota Pati, Jawa Tengah hingga ke bandara Juanda, Jawa Timur dan akhirnya sampai juga di negeri yang tidak pernah kukunjungi sebelumnya. Takut, deg-degan, seandainya dapat bos yang tidak baik gimana nasibku? Secara, selama ini banyak sekali berita seliweran di televisi menyoal pembantu yang disiksa majikannya. Duh ... ngeri!

Pertama kali menginjak Changi Airport

Begitu sampai di Changi, terus terang aku kebingungan. Aku belum pernah naik pesawat sebelumnya. Belum lagi bandara sebesar di negeri singa ini. Alamak! Bingung sebingung-bingungnya. Setelah dari imigrasi, aku langsung mengikuti orang-orang yang di depanku. Mereka pasti mau ambil bagasi. Dengan keringat dingin aku mengikuti mereka. Setelah berjalan jauh, naik turun tangga berjalan, akhirnya aku melihat beberapa pramugari Chinese Airlines yang aku tumpangi. Lega rasanya ... meskipun yang kubawa hanya tas kecil berisi beberapa potong pakaian, sarung dan mukenah, tetap saja barang itu sangat berharga buatku. 

Sedikit berjalan ke depan, banyak sekali kertas serta papan nama yang diangkat. Aku merasa diriku sedang di film-film yang ada adegan dijemput di bandara (hahaha). Aku mencari-cari namaku di kertas itu, kemudian mendekati seorang perempuan yang cantik dan mungil. 


Ia tersenyum kemudian membawakan barangku lalu kami sama-sama berjalan ke MRT terdekat. Setelah naik kereta, ia menjelaskan bahwa sebelum kami ke kantor agensi di Bugis, aku harus cek up dulu di klinik. 

Setelah antre selama beberapa jam di klinik, akhirnya pemeriksaan selesai dan hasilnya pun langsung keluar.

Kami berdua berjalan cukup jauh menuju MRT terdekat, entah apa namanya aku tidak tahu. Setelah itu kami naik kereta kemudian turun di stasiun Bugis. Aku mengikuti langkah kakinya dari belakang karena tak tahu arah. Cara berjalannya sangat cepat sekali dan aku kuwalahan karena sulit sekali mengimbanginya.


Ketika sampai di kantor agensi, ternyata di sana banyak sekali teman sejawatku. Dan kebanyakan dari mereka sudah bekerja cukup lama di Singapura. Ketika aku bertanya apa alasan mereka ada di agensi, berbagai alasan pun mereka ceritakan. Mulai dari yang orangtua dijaga telah meninggal sehingga ia tak dibutuhkan lagi, ada yang kabur karena tidak cocok dengan majikan sehingga ia kabur ke KBRI lalu dari KBRI ia dikembalikan ke agen, adapula yang berkali-kali ganti majikan tapi tidak ada yang cocok.

Boss akan mengambilku seminggu kemudian, sehingga aku harus berada di rumah pemilik agensi terlebih dahulu. Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya aku dan beberapa temanku sampai di rumah pemilik agen. Rumah itu mewah namun suram dan gelap. Pun kotor karena banyak barang menumpuk dimana-mana. Aku tak melihat tempat khusus untuk para tkw. Kami semua hanya berkumpul di dapur dan duduk di lantai."Mbak, nanti kita tidurnya di mana?" Tanyaku pada salah seorang diantara kami yang tak kuketahui namanya. "Itu ada tumpukan kasur. Nanti malam kita angkat ke ruang tamu dan tidur di sana." Hufft ... ternyata tak jauh beda dengan agensi di Indonesia. Di mana kami harus tidur berdesak-desakan. (Rata2 tempat agensi tidak memiliki tempat tidur khusus. Namun, ada juga yang seperti agensiku di mana satu orang satu ranjang. Dan ranjang itu bertingkat. Itu pun kalau lagi sepi. Kalau rame, maka ada juga yang tidur di lantai.


Malam mencekam di negeri yang asing

Matahari mulai tenggelam dan hewan-hewan di hutan belakang rumah terdengar mengerikan. Ada suara burung, monyet, dan entah apalagi. "Setelah hutan itu, di seberangnya adalah kota Batam." Aku mendengar takjub. Batam? Indonesia ... aku sudah merindukannya. 

Kami beramai-ramai makan malam. Menunya tak usah ditanya lagi. Jarang sekali agensi yang memberikan makanan layak. Kami harus puas dengan makan nasi yang kualitas berasnya sangat buruk! Nasi aking atau nasi jagung rasanya jauh lebih enak. Sementara, untuk lauknya sendiri adalah tulang ayam yang yang dicampur dengan gingseng. Jangan tanya bagaimana rasanya. Jika saja nasi itu terbuat dari beras layak makan, pasti rasanya lebih enak. Tapi ini? Ah sudahlah ... yang merasakannya bukan cuma aku seorang. Bahkan ada yang sampai berbulan-bulan memakan makanan itu karena tak kunjung mendapat bos baru.

Setelah selesai makan si pemilik rumah pulang dari kantor agen. Kaget bukan main. Sikapnya sangat berbeda ketika masih di kantor. Di sana manisnya bukan main apalagi jika ada calon orang yang ingin mencari pembantu. Ia teriak-teriak tak jelas, mulutnya mengumpat dengan segala macam nama binatang. Katanya, kami orang Indonesia pemalas, bodoh, bahasa Inggris saja tidak bisa serta makian-makian lain. Beda dengan orang Filipina yang dianggap rajin dan cerdas.

Aku yang belum pernah melihat pemandangan itu sebelumnya pun kaget bukan main. Sangat takut bagaima jika mendapatkan majikan seperti itu. Jika itu di Indonesia, aku bisa langsung pulang. Tapi ini Singapura. Negeri asing yang tak pernah kuimpikan sebelumnya.  "Jangan dengarkan. Biasa si lampir memang begitu." Mbak-mbaknya yang tau aku sedang memikirkan suatu hal berusaha menghibur. "Orang filipina kalo kerja itu pas ada bossnya. Pura-pura rajin. Kalau gak ada boss ya dia leha-leha. Nanti kan kamu tahu sendiri," ujar salah seorang diantara kami.

Sementara itu, pemilik agen teriak-teriak di depan saat sudah selesah makan. Katanya rumahnya kotor. Banyak debu. Padahal setiap hari sudah dibersihkan. Kami semua yang terdiri dari 20 orang dipanggil dan disuruh mengepel. Jika ditotal, rumah itu kami pel sampai 10 kali. Jika air bekas pel belum putih bersih, kami tidak boleh berhenti.

Setelah selesai mengepel dan dimaki, kami menggotong kasur dari gudang ke ruang tamu. Kami semua sama-sama memiliki kecemassn masing-masing. Aku tidur di depan pintu yang memang pintunya selalu terbuka. Tak ada yang mau tidur situ karena dingin.

Saat itu aku tak berharap muluk-muluk. Semoga majikanku baik sehingga aku bisa menikmati pagi hari yang bahagia dan wanginya embun pagi yang memeluk rumput-rumput karena aku percaya akan selalu ada harapan baru di sana.(*)

All pict by Canva

0 Comments