Terompet. Haram Buatmu Jalan Rejeki Buatku.

Jaman semakin modern. Dunia industri, elektronik, serta internet semakin menggeliat. Namun, di sisi lain banyak hal mengalami kemunduran.

Isu-isu miring mengenai RAS semakin tak terbendung. Bagi kebanyakan orang mungkin tidak terkena imbasnya. Namun, bagaimana dengan beberapa orang yang benar-benar mengalami dampak atas isu-isu yang sepanjang tahun selalu bergulir?

Natal dan tahun baru adalah perayaan yang dirayaan banyak orang diberbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Namun, beberapa tahun belakangan banyak yang bilang mengucapkan natal haram, tahun baru haram, terompet juga haram. Padahal, diantara perayaan natal dan tahun baru itulah banyak orang yang mengais rejeki dari dagangan berupa terompet yang terbuat dari kertas maupun plastik.

Sebut saja seorang ayah yang Tidak bisa mencari rejeki karena syariat. Di mata banyak orang kegiatan menjual terompet adalah haram. Pun banyak isu yang mengatakan bahwa terompet menjadi alat penyebaran penyakit. Tapi, tanpa disadari ada keluarga yang menunggu untuk diberikan makan.

Kalau memang tahun baru diharamkan. Atribut-atribut seperti pohon cemara, terompet, juga diharamkan. Adakah solusi lain tanpa harus mematikan rejeki orang lain? Daripada hanya memberi ceramah, mencela, kenapa tidak memborong terompet-terompet yang dijajakan oleh tangan-tangan tua yang berusaha mencari makan untuk keluarga kemudian terserah jika terompet itu hendak dibakar atau dihancurkan. Karena yang terpenting bukanlah terompetnya. Melainkan sedikit rupiah dari penjualan barang yang disebut haram tersebut bisa mengisi perut-perut yang kelaparan. Terompet. Haram bagimu, jalan rejeki buatku. (*)

Referensi: Liputan6, Tribunnews.

Comments

Post a Comment

Popular Posts