Mendadak Politik


Tergelitik rasanya ingin menuliskan tentang Tenaga Kerja Wanita dan politik setelah membaca status seorang teman di Facebook yang kesal lantaran berandanya dipenuhi dengan perdebatan politik sesama buruh migran terutama yang di Singapura.

Beberapa tahun belakangan setelah bergulirnya kasus mantan Gubernur DKI Jakarta yang tersandung kasus hukum, di jagat maya maupun nyata memang dihebohkan dengan isu-isu politik. Dampaknya tak hanya di Jakarta dan seantero dalam negeri. Akan tetapi orang-orang yang di luar negeri pun heboh karenanya.

Mulai dari kaum intelek yang notabene berpendidikan tinggi hingga yang tak berpendidikan sekalipun. Mulai dari pejabat negara hingga pembantu rumah tangga pun tak mau ketinggalan untuk membicarakan isu-isu terkini mengenai pergolakan politik dari dalam negeri. Bahasa kerennya, 'Mendadak Politik!'


Memang, semua orang memiliki hak untuk berpendapat mengenai politik. Namun, jika berlebihan dalam mengunggulkan paslon bukankah itu menjadi hal yang tidak baik? Terlebih lagi jika terlalu ngotot bahwa jagoan kita lah yang paling baik dan tanpa cela hingga tak peduli teman atau saudara, kalau beda pendapat ya wajib didebat.

Siapapun yang terpilih menjadi presiden, hidup kita tidak akan berubah jika bukan kita sendiri yang merubahnya

 Dampak debat politik di media sosial bagi tenaga kerja wanita di bidang rumah tangga.


Bagi para pekerja rumah tangga yang pada hakekatnya bekerja di dalam rumah hampir 1x24 jam tak sedikit dari mereka yang mengalami kegelisahan hingga stress yang berkepanjangan. Terlebih, bagi mereka yang tidak mendapatkan off day dari majikan. Tingkat stress itu akan makin meningkat karena tak ada lawan bicara, tidak menghirup kebebasan di luar rumah, belum lagi jika majikan marah-marah.

Lalu, apakah debat politik di media sosial memiliki dampak untuk mereka? Tentu saja!
  • Kerja tidak konsentrasi karena sedikit-sedikit menengok hp.
  • Menjadi lebih sensitif di media sosial, mudah tersinggung dan gampang marah.
  • Putusnya tali silahturahmi antar teman dan saudara.
  • Pekerjaan rumah tidak beres karena sibuk mendadak politik. Akibatnya boss marah.
  • Kurang istirahat baik di siang maupun malam hari karena waktunya hanya diisi dengan debat di media sosial.
  • Sakit kepala, mudah lelah karena stress berlebihan.
  • Ini yang paling ektstrim. Bukan hal mustahil bisa diciduk polisi seperti beberapa waktu lalu karena saking fanatiknya terhadap simbol agama tertentu.
Debat politik di media sosial sama sekali tidak ada untungya. Justru menimbulkan masalah di dunia nyata dan yang pasti buntung karena boros kuota. Supaya tenang dalam hidup di media sosial, coba deh lakukan ini.

Bagi teman-teman sejawatku, yuk kembali ke kodrat kita sebagai pekerja rumah tangga. Kerja yang baik agar di sayang boss, nabung sebanyak-banyaknya, setelah pulang mari membangun di kampung kita masing-masing. (*)

Comments

  1. politik sepertinya sudah menjadi virus mengakar, dan akan muncul gejala nya yg menguat saat mau pemilu hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Setelah pemilu pun sepertinya makin ramai­čśź

      Delete

Post a Comment

Popular Posts