Pentingnya Edukasi Pra-nikah.

pict: Canva

Menikah adalah impian setiap wanita. Namun sayangnya pernikahan yang dijalani tak seindah impian. Alih-alih alasan pernikahan adalah cinta, namun siapa sangka biduk rumah tangga kandas di tengah jalan?

Pernikahan dini sampai sekarang masih terjadi. Alasannya beragam. Mulai dari adat setempat hingga ekonomi. Kalau perceraian sudah di depan mata, siapa yang hendak disalahkan? Memang, perceraian tak pandang bulu. Itu sebabnya edukasi pra-nikah sangat diperlukan agar para muda-mudi yang ingin menikah tidak hanya menghayalkan yang indah-indah.

Menikah Memang Indah. Tapi, Tak selamanya Akan Berjalan Mulus.

Sering sekali menemui gadis-gadis baik itu secara langsung atau melalui media sosial yang usianya itu beragam dari 17 hingga 30an membahas tentang keinginannya yang ingin menikah.

Memang, wajar jika pada usia itu seorang wanita memiliki keinginan untuk memiliki pasangan hidup. Namun ada satu fenomena yang tidak bisa dianggap wajar. Yaitu, ingin menikah dan memiliki pasangan seperti idolanya. Seperti contoh; memiliki suami yang tampan, kaya, pintar mengaji. Atau pernikahan-pernikahan seleb dengan segala keromantisannya yang dipublish dan mereka menjadikan hal itu sebagai acuan bahwa nikah itu seperti itu, loh! Asik, romantis, indah, kemana-mana berdua dan kayak drama-drama Korea. Padahal? Nikah itu tidak seperti itu! Tidak seperti yang kita lihat di layar televisi maupun media sosial.

Dalam pernikahan itu ada yang namanya bertengkar, selisih pendapat, marah, kesal dan tidak jarang akan datang pada suatu saat di mana kita akan berpikir "Kayaknya aku salah pilih, nih." Well, sebesar apapun cinta kita terhadap pasangan, tidak akan bisa menjamin pernikahan itu akan manis selamanya. Pasti akan ada yang namanya lika-liku rumah tangga!

Baca juga : Pasca Perceraian ; Anak Adalah Alasanku Untuk Bangkit

Pertimbangkan Hal-hal Berikut Sebelum Menikah.

Sebagai wanita yang hidup di era modern, jangan pernah tergiur dengan iming-iming nikah muda dan bahagia selamanya. Sekali lagi jangan. Tapi pikirkanlah juga masalah-masalah yang ada di dalamnya. Tanyalah kepada orangtua kita, apasih itu nikah? Kalau malu, tanyalah kepada teman-teman yang sudah nikah. Jangan tanyakan apa enaknya. Tapi tanyakan juga apa dukanya. Jika merasa malu, tanyalalah pada internet. Ya, sekarang apa sih yang gak bisa ditanyakan pada Google? Iya, kan?!

1. Apa alasan kita menikah? Tanyakanlah pada diri sendiri kenapa kita menikah? Apakah karena cinta, dijodohkan, materi, atau yang lainnya. Kemudian pikirkan dan tanamkan pada hati bahwa apapun alasan dimiliki, tetap ada risikonya. Tak ada pernikahan yang berjalan mulus.

2. Bepikirlah jauh ke depan. Kebanyakan di masyarakat kita (terutama kaum jomlo) beranggapan bahwa pernikahan itu selalu indah dan menyenangkan. Itu sebabnya banyak sekali pemahaman-pemahaman untuk nikah muda dan bahkan seminar-seminar poligami yang banyak diikuti oleh wanita muda. Pernikahan itu kompleks. Minimal berpikirlah di mana kita akan tinggal setelah menikah? Ngontrak atau tinggal di rumah mertua? Apakah kerja atau tidak? Apa plus minusnya menjadi ibu rumah tangga yang sekaligus bekerja? Bagaimana jika ada perselingkuhan di dalamnya? Bagaimana cara menghadapi situasi seperti itu?

Tak dapat dipungkiri sebagian besar para suami pasti pernah selingkuh bahkan banyak pula yang menikah lagi diluar sepengetahuan istri. Di sinilah bentuk kedewasaan kita diuji. Belum lagi jika dihadapkan dengan LDR? Nah ... makin complicated, kan?

Berpikir ke depan bukan berarti berprasangka buruk. Tapi menyiapkan diri atas segala kemungkinan yang akan terjadi. Karena, pada kenyataannya banyak pasangan yang bercerai dengan usia pernikahan dibawah 10 tahun dan bahkan baru seumur jagung saja sudah dipenuhi masalah-masalah.

Beberapa waktu lalu aku cukup tertegun dengan pasangan muda-mudi yang menikah. Rumah mereka satu kampung denganku. Awal-awal pernikahan, di akun facebooknya terlihat sempurna sekali. Tawa dan kebahagiaan terpancar dari sepasang suami istri, saling bercanda di kolom komentar, dan saling tag ketika mengunggah foto.

Hingga pada suatu saat, status-status di facebooknya mulai gak enak, nih. Ternyata, si suami sedang bekerja di luar negeri. Mulailah pertengkaran kerap terjadi. Saling curiga karena hanya berhubungan lewat HP. Rentang beberapa waktu, aku melihat bahwa si suami memiliki gandengan baru yang diupload di media sosialnya yang diikuti foto pertunangannya.

Meskipun bukan hal baru lagi di masyarakat, tetapi bukankah pernikahan seperti itu (berumur pendek) justru memperlihatkan betapa tidak matangnya kedua belah pihak? Jika hanya karena jarak, bukankah bisa disiasati? Sebenarnya, yang memisahkan kita dengan pasangan itu bukan jarak dan waktu. Melainkan rasa tak percaya, perhatian yang hilang, dan kurangnya tanggung jawab sebagai pasangan.

Pernikahan itu bukan perlombaan
Tak perlu lari agar tidak keduluan yang lain
Pernikahan itu seperti sekolah
Kita harus belajar dan mengikuti ujian
Jika lulus ujian maka akan naik kelas
Jika gagal? Keputusan ada di tangan kita
Apakah berhenti atau mencoba lagi (*)

0 Comments