Standar Kecantikan Di Indonesia.

Standar kecantikan Indonesia
Credit: Canva

Standar kecantikan di Indonesia sampai detik ini tuh masih jadi momok bagi banyak wanita mulai dari remaja hingga dewasa.

Meskipun, sudah banyak sekali perempuan-perempuan yang menyuarakan dan bahu-membahu membantu wanita lainnya agar memiliki mindset bahwa cantik itu tidak harus putih, langsing, kulit mulus, rambut panjang, yang pakai baju feminin, yang pintar dandan.

Tapi, pada kenyataannya masih banyak juga yang mengatakan bahwa,"Elo gakal ada di kategori ini. Jadi lo gak cantik."

Isu-isu semacam ini terlihat sepele dan basi karena sudah terlalu sering dibahas. Namun, pada kenyataannya makin ke sini justru standar kecantikan yang ada di Indonesia makin menggerogoti kepercayaan diri perempuan yang mana disebabkan oleh perempuan itu sendiri (sebagian besar) dan selebihnya adalah oleh kaum lelaki.

Diskriminasi kecantikan bisa memengaruhi psikologi seseorang.

Mari kita flasback ... di tahun 2017 ada berita bahwa seorang gadis remaja usia 18 tahun bunuh diri diduga tidak percaya diri karena memiliki jerawat yang sulit disembuhkan (Satelitpos.com).

Jerawat? Terlihat sepele ya? Memang. Tapi sayangnya tidak setiap wanita apalagi dalam usia remaja memiliki psikologi yang kuat. Tidak semua remaja siap memiliki jerawat. Terlebih lagi jika jerawat itu justru menjadi sumber ejekan 'Standar kecantikan'.

Ih, kamu jerawatan. Jadi terlihat jelek!

Maaf kamu bukan tipe aku. Kamu jerawatan. Itu tandanya jorok.

Kok jerawatan, sih. Makanya cuci muka.

Jerawat itu disembuhkan. Bukan ditutupi.

Barangkali Cantik di rumah gak asing yang dengan ejekan-ejekan yang seperti di atas? Gak cuma bikin malu dan minder. Tapi, ke depannya akan membuat kita memiliki krisis kepercayaan diri.

Akibatnya, kita tidak PD bertemu orang lain atau bahkan keluarga sendiri, sulit mendapat pekerjaan karena minder, bahkan jika dibiarkan berlarut-larut, bukan hal mustahil ada pemikiran untuk mengakhiri hidup.

Baca jugaBerpikir Sederhana Membuat Bahagia
Standar kecantikan yang ada membuat seseorang kehilangan jadi dirinya. 

Tidak bisa dipungkiri kecantikan wanita tidak terlepas dari yang namanya kosmetik dan perawatan.

Dulu sekali ketika masih bekerja di kota kretek ada seorang teman yang bercerita bahwa ia galau setelah melakukan perawatan kecantikan di klinik yang cukup terkenal di Indonesia.

Alasan dia melakukan perawatan-perawatan itu adalah karena ingin seperti teman-teman kantornya yang terlihat cantik dan punya kulit wajah yang mulus.

Dia merasa malu karena tidak secantik teman-temannya. Oleh sebab itu, dengan gaji yang pas-pasan, ia selalu kehabisan uang karena perawatan yang dilakukan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Alhasil, ia minta jatah pada orangtua.

Tadinya temanku ini orang yang sederhana sekali. Dandan sewajarnya. Tapi, mungkin karena standar kecantikan yang ada di tempat kerjanya, dan juga ingin mendapat pujian cantik, membuatnya ingin menjadi orang lain dan tak puas dengan apa yang dimiliki.

Aku memintanya untuk menghentikan perawatan rutinnya demi menghemat biaya hidup. Dan jawaban yang diberikan adalah tidak. Katanya, sudah terlanjur. Kalau dihentikan kulitnya tidak mulus lagi dan kepercayaan dirinya akan hilang.

Memang, tak masalah melakukan perawatan demi kebutuhan kita. Tapi yang harus diingat adalah sesuaikan dengan budget yang ada. Agar selain cantik penampilan kita, juga cantik pikiran kita karena tidak lagi memikirkan biaya hidup dari mana?

Kecantikan sejati ada dalam diri.

Kebanyakana wanita pasti pernah mengalami krisis kepercayaan diri. Termasuk aku.

Ketika usia remaja hingga dewasa, aku termasuk minder. Alasannya klasik. Karena aku merasa aku tidak secantik dan sepintar teman-teman sebayaku. Pikiranku saat itu adalah kalau aku gak cantik, minimal harus pintar. Tapi aku bukan keduanya.

Bibir ala Kylie Jenner yang pada saat itu sebutannya adalah bibir tebal atau ndomble. Tak jarang bibirku ini jadi ejeken teman bahkan pacar (bibit tipis masih menjadi trend).

Tidak hanya bibir, aku juga malu karena memiliki tahi lalat yang besar di pipi. Rambut keriting, pantat tepos, punya banyak sekali bekas cacar di kaki yang bikin gak pede ketika sedang mengenakan rok pendek.

Selain itu juga gusiku kalau bicara atau tertawa kelihatan. Jadi kesannya itu seperti tonggos (Tahu Dinda Kanya Dewi, kan? Postur gusiku mirip dia. Sayangnya, dia cantik banget dan terlihat pede). Dan karena masalah struktur gusiku beberapa teman sekolah (laki-laki) memanggilku Omas.

Entahlah, saat itu apapun yang ada dalam diriku aku cenderung membencinya. Dan kebencian itu ada karena perlahan-lahan dibangun oleh orang-orang sekitar dan aku yang memupuknya karena memasukkan kata-kata mereka ke dalam hati.

Namum datang pada suatu saat ketika memasuki usia dewasa, pemikiranku perlahan berubah. Aku tak lagi mempedulikan apa yang dikatakan orang lain. Menyadari semua itu di usia 25 tahun bisa terbilang telat. Tapi namanya juga proses. Ya, kan ....

Aku mulai membentuk kalimat-kalimat positifku sendiri di dalam otak. Bahwa cantik tak perlu harus seperti A. Melainkan cantik itu ada pada diri sendiri. Ketika kita nyaman dengan kekurangan yang ada di dalam tubuh kita. Ketika kita percaya diri dan meyakini bahwa kita ini ciptaan Tuhan yang paling sempurna.

Menulis membuatku cantik. Berdandan membuatku menarik.

Kenapa justru menulis yang membuatku merasa cantik? Bukan sebaliknya.

Alasannya sederhana. Karena dengan menulis kita bisa mengeluarkan apapun unek-unek yang bersemayam di dalam kepala maupun hati. Bisa mengeluarkan pendapat, berbagi, juga protes-protes tentang apa yang sedang terjadi.

Menulis memiliki kekuatan sangat besar. Selain membuang sampah di dalam otak, juga otomatis kita akan banyak membaca. Mustahil sekali seseorang yang tak pernah membaca bisa menulis.

Selain itu, tanpa disadari kita juga akan bertemu dengan orang-orang yang positif. Iya, orang yang suka menulis, suka membaca, cara berpikir dan menilai akan sesuatu hal pun sangat berbeda dengan orang-orang yang tak menyukai keduanya.

Sedangkan kalau urusan dandan, dua tahun lalu aku mengambil kursus makeup (self makeup, glamour, juga wedding). Berbekal bisa dandan inilah kepercayaan diriku makin meningkat meskipun pada dasarnya aku sendiri tidak begitu suka mengenakan makeup, tapi aku sangat suka merias wajah orang lain.

Membuat orang lain menjadi cantik karena makeup juga kesenangan tersendiri. Makeup juga sama seperti menulis. Membutuhkan ketelitian, kehati-hatian dan juga cinta. Iya. Cinta. Cintailah diri kita. Cintailah hobi-hobi yang kita miliki. Dengan seperti itu kita akan mencintai kehidupan dan seolah-olah kehidupan itu juga mencintai kita. Lalu, bagaimana caranya tahu kehidupan mencintai kita? Gampang. Kita akan lebih merasa bahagia, lebih tenang, positif, dan bersyukur.

Kamu sudah merasa percaya diri belum? Kalau belum, tidak masalah. Mari berproses. Pelan-pelan, karena mutiara yang indak bisa dihasilkan dalam semalam. Terima kasih sudah mampir, sampai ketemu lagi .... (*)

0 Comments