Tak Harus Melahirkan Dulu Untuk Berbicara Soal Parenting.

Parenting

Teman-teman saya kebanyakan adalah seorang ibu. Ada yang umurnya jauh dibawah saya, sepantaran maupun yang lebih tua. Kami kerap membicarakan soal rumah tangga, masalah-masalah yang ada di dalamnya, keseharian ketika di tempat kerja, bermasyarakat serta parenting.

Saya memang belum pernah melahirkan. Namun, bukan hal haram kan jika bicara tentang anak-anak dan seluk beluknya?

Namun, ketika seorang kawan nyeletuk " Kamu kan bukan seorang Ibu. Tidak pernah melahirkan, jadi tidak akan mengerti bagaimana kondisi rumah tangga, kesetresan seorang ibu hingga dunia anak-anak." Duhhh ... entah sengaja atau tidak dia mengucapkan hal itu, sebagai seorang manusia biasa hati saya tetap berdegup nyeri. Untuk mengetahui permasalahan rumah tangga, anak-anak, apakah harus menikah dan melahirkan dulu? Untuk percaya bahwa di dalam laut ada berbagai jenis ikan apakah harus menyelam dahulu?
             Parenting
Pekerjaan saya adalah pembantu rumah tangga. Saya sudah empat tahun lebih bekerja di Singapura. Saya menjaga tiga orang anak, dua laki-laki yang ganteng, dan satu perempuan yang cantik tapi nakal dan aktif bukan main. Meskipun mereka sudah sekolah yang kalau di Indonesia setara dengan SMP, namun tugas saya tetap menjaga mereka. Memastikan makanannya, belajar, serta keseharian mereka. Belum lagi jika mereka mulai bertengkar kemudian berkelahi, meskipun bukan lagi anak kecil, tapi mereka tetaplah anak-anak. 

Kedua orangtua mereka sibuk bekerja dari pagi sampai malam hari. Mereka hanya berkumpul saat akhir pekan. Dan meskipun begitu, mereka tetap masih sibuk di dalam kamar masing-masing. 

Si bungsu yang manja, apa-apa harus dilayani dan tidak mau merapikan kamar sendiri. Pakaian kotor kadang berserakan di kolong meja, atas kasur, lantai serta kamarnya dipenuhi eksperimen-eksperimen yang entah apa namanya. 

Si perempuan yang sedikit mandiri tapi sulit sekali diajari untuk menjaga kebersihan kamar dan pakaian. 

Dan si tertua yang perfeksionis, tidak suka diganggu saat di dalam kamar dan suka pulang tengah malam. 

                Parenting
Bertahun-tahun menjadi penjaga mereka, mengajari saya banyak hal. Salah satunya, jangan berbicara dengan kasar terhadap anak-anak. Mereka memang akan mendengarkan, tapi tak ada ikatan di hati mereka. 

Anak-anak adalah sosok peniru. Bukan pendengar. Mereka akan meniru apa yang dilakukan orangtuanya. Mereka akan mengingat-ingat hal apa saja dilakukan ayah ibunya. Jadi jangan heran jika suatu saat si anak memiliki kebiasaan orangtuanya. 

Hal lain yang paling ingin saya tuliskan adalah anak-anak tak melulu menginginkan uang. Melainkan kebersamaan dan kasih sayang. Luangkanlah waktu untuk keluarga terutama anak-anak. Ajaklah mereka bercerita, mengobrol, atau hal lainnya. Yang paling penting jangan sekali-kali memarahi anak apalagi dengan nada kasar hingga anak-anak menangis sesenggukan. Percayalah, hal itu akan diingatnya sampai dewasa. Kemarahan tak akan membuat anak-anak patuh, melainkan membuat mereka berpikir bahwa orangtua tak menyayangi anak. 

Anak-anak ibarat papan kayu. Lalu kemarahan orangtua adalah paku. Setiap kali marah orangtua menancapkan paku pada papan kayu. Semakin sering marah, semakin banyak paku yang tertancap. Kalaupun suatu saat paku-paku itu tercabut, apakah tidak akan meninggalkan bekas?

Mari sayangi anak-anak kita. Mereka adalah anak-anak penurut asalkan sebagai orangtua memiliki cukup kesabaran untuk menghadapinya. Bukankan kita para orangtua juga pernah jadi anak-anak? (*)

0 Comments