Kapan Hami? (Bab 6)


Novel kapan hamil

 "Kamu yakin suami dan anakmu akan ikut?" bisik Virna di telinga Tara ketika Raymond sedang menyiapkan keperluan Cleopatra. Pria itu bergerak dengan semangat. Memasukkan popok, baju ganti, tissue basah dan kering, dan juga mainan ke dalam sebuah tas yang ukurannya cukup besar. Benar-benar Papa baru yang teladan!


"Ya. Aku aku tidak bisa melarangnya," jawab Tara santai sambil memperhatikan Cleo yang ada di pangkuan Mamanya. " ... dan Mbak Virna tahu, kan? Di mana ada Raymond, di situ ada Cleo. Di mana ada Cleo, di situ ada Raymond! Mereka adalah amplop dan perangko! Harus nempel!"


"Memangnya masih jaman orang pakai perangko?"


"Entahlah ...." Tara mengangkat kedua bahunya. Kalau Raymond sudah bilang mau ikut, badai yang. Isa mencegahnya. Jangankan lautan yang berisi air asin. Lautan lahar pun akan diseberangi!


Raymond yang sudah selesai menyiapkan keperluan bayi di dalam tas pun akhirnya menghampiri istri dan kakak iparnya. "Kalian sudah siap?"


"Sudah, Tuan! Dari tadi kami menunggu Anda!" jawab Virna dan Tara secara bersamaan. Sejak tadi, mereka lah yang menunggu lelaki itu. Bukan sebaliknya!


***


Mobil yang dikendarai Virna pun akhirnya berhenti di parkiran sebuah cafe yang memang sudah dipesan oleh teman-temannya. Sebuah cafe yang cukup elit dan terletak di pinggiran kota Jakarta.



Akhirnya sampai juga," keluh Virna sambil meluruskan pinggangnya hingga berbunyi. Belakangan ini tubuhnya memang sering pegal karena sering bekerja dari pagi hingga malam. Ia bahkan jarang bertemu dengan Mama dan Papa karena saat Virna pulang, orangtua angkatnya telah tidur.


Virna menoleh ke belakang. Tempat di mana Raymond dan Tara duduk."Adik ipar, kamu mau bergabung dengan kami?" 


Raymond yang sedang memangku Cleo pun menjawab tanpa melihat ke arah saudara kembar istrinya itu. "Tidak. Aku akan duduk di tempat tak jauh dari kalian. Benar kan kesayangan Papa?" 


Seolah paham dengan perkataan Raymond, Mata Cleo pun terlihat melebar dan bibirnya yang mungil pun tersenyum. Sangat cantik! Mengingatkan Raymond pada Tara saat masih bayi. 


"Oke. Ayo turun, Princess," ajak Virna bersiap menenteng tas hitam Prada miliknya yang dibelikan oleh Tiger. Kalau tidak, mana mungkin Virna mau membeli tas seharga puluhan juta tersebut? Biarpun kini dia orang kaya, tetap saja sifat pelitnya tetap melekat!


"Tunggu, Mbak," sela Tara yang mencium pipi Cleo. Dia ingin sekali membawa Cleo tapi dia juga tidak mau mengganggu acara Virna dengan tangisan anaknya.


"Buatku mana?" Raymond bertanya dengan iri dan itu membuat Virna merasa jijik sekaligus geli. Suami-istri yang duduk di kursi belakang itu memang tak pernah malu mengumbar kemesraan di depan orang lain. Apalagi Raymond. Dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah. Terlalu memanjakan istri!


"Ya, Tuhan! Lebih baik aku tunggu di luar saja!" kata Virna kesal dan langsung keluar dari mobil. Tara terkekeh. Ia memegangi pipi suaminya yang dipenuhi rambut-rambut halus dan menciumnya dengan lembut.


"Kalau Little Devil menangis, aku akan datang secepatnya."


"Bagaimana jika aku yang menangis?"


Bibir Tara mendekati telinga Raymond kemudian berbisik,"Aku tahu caranya agar membuatmu berhenti menangis."


"Caranya?" Raymond pura-pura bodoh. Ia senang sekali menggoda istrinya yang hari ini terlihat cantik seperti biasanya. Ia mengenakan gaun panjang yang longgar dan memiliki kancing di depan agar lebih mudah kalau ingin menyusui Cleo. 


"Ini." Bibir Tara pun memagut lembut bibir Raymond tanpa sadar bahwa di luar mobil, kepala Virna sedang bertanduk dan Cleo pun mulai menunjukkan gelagatnya. 


Oek ... oek ... oek ....


Tangisan bayi itu kini mengisi mobil sedan mewah milik Virna dan terpaksa, pasangan suami-istri lawas itu pun harus menghentikan kemesraan mereka. 


"Lihatlah Little Devil! Sekarang dia berhenti menangis!" kata Tara gemas karena begitu tautan bibirnya terlepas, Cleopatra berhenti menangis. Dia tak tahu lagi dengan sifat anaknya itu. Saat ia bermesraan dengan suaminya, pasti Cleo menginterupsi!


Raymond tersenyum lebar. Mengecup kening istrinya agar dia tidak cemberut lagi. "Virna sudah menunggu di luar." 


"Oke. Aku masuk dulu. Aku akan memesankan makanan kesukaanmu."


***


Sepeninggal Virna dan juga Tara, Raymond memandangi wajah Cleopatra yang kemerahan. "Kau cemburu dengan Mama?"


Cleo hanya memandangi Papanya. Barangkali, kalau ia sudah bisa bicara, gadis yang setiap harinya hanya bisa menangis itu akan menjawab iya. 


Tok ... tok ... tok ....


Suara pintu mobil diketuk dari luar. Tanpa menunggu lama, Raymond pun membuka pintu. "Bos, area ini sudah aman. Tapi, sayangnya ...."


Lelaki itu hanya melihat Panther tanpa menjawab.


"Kami gagal mencegah virus itu beredar. Beberapa orang di kota sudah mulai terjangkit."


"Apa sudah ada berita yang beredar?"


Panther menggeleng. "Pemerintah menutup-nutupi masalah ini dan masih melakukan pencegahan secara serampangan padahal sudah ada korban."


"Bagaimana Tiger? Apa Cameleon sudah menemukan dosis yang tepat?"


Panther menggeleng lagi. 


"Oke. Terus awasi soal ini. Aku sendiri yang akan berbicara dengan pemerintah setempat."


"Baik, Bos!" jawab Panther membuka pintu mobil untuk Raymond. Ia keluar dari dalam mobil menuju cafe ternama yang ada di hadapannya sementara Panther berjalan di belakang dengan menenteng tas bayi dengan wajah tak percaya karena Bos nya yang terkenal killer, saat ini kesehariannya hanya mengasuh bayi.


Bosku yang malang.


***

Suara kerumunan orang mengobrol langsung terdengar seperti lebah yang pindah sarang ketika Virna dan Tara memasuki cafe. Kedatangan Virna langsung disambut oleh temannya yang bertugas mencatat kehadiran alumni. 


"Ngobrol-ngobrol dulu gih sama yang lain, Vir. Ini teman kamu, ya?" 


Virna hanya mengiyakan dan Tara pun tidak protes. Dia pasti enggan ditanya-tanya dan menjawab pertanyaan mereka kalau Virna menjawab Tara adalah saudara kembarnya.


"Virna!" teriak Sofi ketika melihat sosok Virna. Mantan ketua BEM itu langsung berlari ke arahnya dan meemeluk tanpa aba-aba.


"Lo apa kabar? Gue kira Lo gak datang lagi."


"Baik. Kamu gimana?"


"Gue sih oke. Ayo gue kenalin dengan Hans."


"Hans?"


"Oh, maksud gue, suami!" jawab Sofi langsung menarik tangan Virna yang belum sempat berpamitan dengan Tara. 


"Have fun!" kata Tara sambil melambai. Ia tak ingin mengganggu acara kakaknya yang berkumpul dengan teman-teman kampusnya dulu. 


"Hans, ini Virna. Virna, ini Hans. Dia manager di perusahaan telekomunikasi, lho." Sofi langsung memperkenalkan begitu sampai di tempat Hans duduk. Pria bertubuh tinggi dan kulit sawo matang itu pun menyalami Virna. Mengamati gadis itu dengan teliti dari atas sampai bawah. 


"Hans."


"Virna. Kalau gitu, aku tinggal dulu, ya. Mau menyapa yang lain."


Sofi buru-buru mencegah dan meminta Virna untuk duduk. "Vir, Lo belum nikah, kan? Temen Hans ada tuh yang lagi nyari jodoh. Office Boy, sih. Tapi ganteng, kok. Lo mau gak gue kenalin? Cocok lah sama Lo. Gue jamin!"



*bersambung. (Kira², apa yang bakalan kalian lakukan kalau punya teman macam Sofi?)



Post a comment

3 Comments

  1. Adddduuuuuh papa raymond..
    Aku makin cinta padamuuu....


    Eh Cleo ternyata dr orok ya musuhan sama mamanya...

    Hahhahaaaaaa....

    ReplyDelete
  2. Klo punya tmn kek sofi makin aku goda ajaaa...

    Sampeeee dia bener² puas merendahin aku....


    Lalu suatu saat dia tahu klo virna ternyata istri sultan dan akhirnya dia keki dan malu sendiri....


    Puaaasssss

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)