Kapan Hamil? (Bab 10)

Novel romantis

     Di luar apartemen milik Tiger, suasana jalanan sudah riuh oleh mobil-mobil yang berjalan seperti kura-kura. Angkutan kota yang sembarangan berhenti di pinggir jalan dan juga beberapa pejalan kaki yang menyeberang tanpa aturan. Yang jelas, macet terlalu sering mengepung ibukota. Tak kenal pagi, siang, atau malam. Jakarta hanya sepi saat orang-orang mudik ke kampung halaman ketika lebaran. Saat hari itu telah usai, maka Jakarta kembali sesak dengan lautan manusia dan kendaraan bermotor.


      Sementara, Virna masih di alam mimpi dan entah apa yang sedang diimpikan. Yang jelas, bibir Virna sedang tersenyum lebar ditemani suara AC yang sudah tak dingin lagi lantaran lama tidak diservis.


     Keringat mulai membasahi tubuh Virna dan dia merasa tidak nyaman. Dengan mata yang masih tertutup dia menendang selimut yang menutupi tubuhnya dengan kaki. "Good morning, Sweety."


     Samar-samar Virna mendengar suara suami yang memanggil namanya diiringi hawa sejuk yang terasa di kulit. Tak mungkin itu Tiger. Pasti hanya mimpi. Pikir Virna lalu kembali ke alam mimpi karena ia masih enggan menyapa dunia yang kadangkala tak bersahabat. 


     Mentari sudah ada tepat di atas kepala ketika Virna membuka mata. Bukan karena panas matahari yang membakar kulit yang mampu membuat wanita itu terbangun. Sama sekali bukan. Tetapi bau harum yang tercium oleh hidungnya. Aroma bawang goreng bercampur dengan cabai yang membuatnya bersin. 


Hacing! 


     Hidung Virna terasa geli. Ada sesuatu yang menggelitik dan membuatnya bersin-bersin hingga keluar cairan dari hidungnya. "Ya, Tuhan!" keluh Virna sambil menggosok-gosok hidungnya yang gatal. Ia hafal betul aroma yang melambai-lambai pada cacing di perutnya ini. Tapi, itu tak mungkin! Iya, kan? Tiger sedang ada di Cina. Tak mungkin pria itu pulang tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


     "Sweethart ... makan siangmu sudah siap. Bangun dan makanlah."


     Oh, shit! Virna langsung melompat dari tempat tidur. Dia baru menyadari jika ada kipas angin yang berputar ke arahnya dan pintu kamar yang terbuka. Itu suara suaminya. Tidak salah lagi!


Secepat mungkin Virna berlari ke dapur menuju sumber suara. Dan yang benar saja, Tiger sedang mengiris mentimun dan juga tomat. Sementara dua piring nasi goreng yang masih mengepul, sudah tersedia di atas meja. 


"I'm home!" Tiger mengangkat kedua tangannya ke depan. Membuka lebar agar istrinya bisa memeluk dengan leluasa.


     Sedangkan, Virna menatap dengan mata yang berkaca-kaca. Ini adalah kejutan yang mengharukan. Dia pikir, baru bisa melihat suaminya minggu depan. Dengan segera, Virna pun mendekat ke arah lelaki yang sedang mengenakan appron berwarna hitam dengan tulisan Virna Tiger Forever in Love di depannya lalu memeluknya.


     "I miss you," ucap Virna sembari memeluk tubuh Tiger yang tegap dan berotot. Menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Melepaskan penat yang beberapa hari menggelayut di dalam benaknya. 


     "I miss you, too. Makanlah dulu. Kau pasti lapar," balas Tiger mengecup kening Virna. 


     "Ingin dibantu?"


     Tiger menggeleng dan menunjukkan tangannya yang basah. "Tidak, Ny. Tiger. Biarkan pelayan ini menyiapkan kebutuhan Anda."


     Virna tersenyum lebar dan melangkahkan kaki ke arah meja makan. Di sisi lain, Tiger melanjutkan lagi kegiatannya memotong mentimun dan meletakkannya di atas piring.


     "Jam berapa sampai di rumah?" tanya Virna penasaran sekaligus baru menyadari bahwa apa yang terjadi tadi pagi bukanlah sebuah mimpi.


     "Entahlah. Setelah mendengar istriku bertemu dengan mantan suaminya, rasanya aku ingin langsung pulang."


     Wanita yang sedang minum segelas air itu pun tersedak. Ia tak tahu harus menjawab apa saking kagetnya. Apakah hanya karena dia bertemu dengan Firman, suaminya kembali dari Cina sebelum waktunya? "Jangan bilang kamu cemburu," balas Virna dengan nada yang dibuat datar. 


     "Aku cemburu."


      Virna mengerutkan kening. Memegangi perutnya yang keroncongan. Suaminya terlalu berterus terang. Dan lagi, hanya karena cemburu dia harus meninggalkan segala urusannya di negeri tirai bambu itu? 


     "Bagaimana perasaanmu bertemu dengan mantan suami?" tanya Tiger sambil meletakkan sepiring lalapan berisi tomat segar, potongan mentimun dan juga selada yang terlihat menggiurkan. Dia tahu Virna tak akan sempat membeli makanan. Itu sebabnya, begitu mendarat di Jakarta tempat yang dia tuju adalah pasar tradisional.


     "Perasaanku?" Virna bertanya balik dan Tiger mengangguk. Virna tak memiliki perasaan apa-apa selain hal aneh yang ada di hatinya. Tatapan mata Rini seolah mengoyak hatinya. Dan sorot mata anak itu, benar-benar berhasil membuat Virna menjadi kalut.


     "Ooohhh ... sungguh malang nasibku. Ternyata istriku masih peduli dengan mantan suaminya," celoteh Tiger yang mampu melihat kebimbangan istrinya. Dia menggeser piring tepat ke hadapan Virna. "Makanlah. Kau akan butuh banyak tenaga memikirkan mantan suamimu itu."


     "Aku tidak ...."


Belum sempat Virna melengkapi kalimatnya. Jari telunjuk Tiger telah singgah di bibirnya. "Kau tidak perlu bicara, Sweety. Aku tahu kau hanya memikirkanku. Sekarang, tugasmu adalah mengisi perut kemudian mandi. Kita akan bertemu dengan Hilma."


     Bertemu Hilma? Sungguh? Mata Virna langsung berkaca-kaca. Semoga ada kabar baik setelah ini!


***


     Sedangkan, di tempat lain Tara sejak tadi menarik napas dengan berat di kamar mandi. Perutnya mulas karena masuk angin. Belum lagi suaminya sejak tadi bertanya tentang hal yang sama berkali-kali.


     "Sayang, sudah selesai?" tanya Raymond yang sedang bermain dengan keempat buah hatinya yang dibaringkan di tempat tidur. Mereka dijejerkan layaknya ikan pindang yang dijual di pasar-pasar tradisional. Sedangkan Ares, matanya berkaca-kaca sejak tadi namun enggan untuk menangis.


     Arrgghhh! Ya Tuhan! Tidak tahukah Raymond bahwa istrinya sedang kesulitan mengeluarkan harta Karun dari dalam perutnya? "Bawalah ke sini. Perutku sakit sekali." Tara berucap kesal. 


    "Apa kau perlu dokter?"


     "Tidak. Bawa saja Ares ke sini," sahut Tara sambil meringis karena keluar angin dari bagian bawah tubuhnya. Sementara, Raymond membawa Ares yang sejak tadi ingin menangis karena lapar. 


     "Ini." Raymond menyerahkan bayinya untuk disusui. Dan secepat kilat, perempuan yang hanya mengenakan daster tanpa bra itu pun mengeluarkan bongkahan dadanya untuk menyusui Ares. 


    Bibir mungil bayi itu menyedot ASI dengan cepat. Sementara tangannya mencari-cari sesuatu untuk dipegang. Diantara mereka berempat, Ares lah yang jarang menangis. Sangat berbanding terbalik dengan si bungsu.


     "Kau baik-baik saja?" Raymond yang berdiri di samping Tara mengecup kepala istrinya yang berkeringat. Hampir 15 menit istrinya itu ada di kamar mandi karena kesulitan BAB.


     "Ya. Sepertinya karena AC terlalu dingin. Tolong minta Bibi untuk membuatkan jahe hangat."


     "Kau harus banyak beristirahat."


     Tara membuang napas pelan. Istirahat? Mana bisa. Setiap malam ia harus begadang ketika bayi-bayinya bangun karena ngompol atau lapar. Memang, ada perawat yang menjaga mereka. Tapi, ia tak mau menyerahkan segala urusan pada perawat. Terlebih suaminya juga ikut bangun dan mengurus si kembar. 


     "Kau juga. Lihatlah matamu, seperti panda!" 


     Raymond menyandarkan kepala Tara pada perutnya. Membelai rambut perempuan itu yang sama sekali belum disisir sejak pagi. "Tenang saja. Aku tetap tampan."


   "Kau sangat percaya diri Tuan Raymond. Tidak ada hubungannya tampan dan kesehatan," balas Tara mendongak ke atas. Menatap lelah wajah suaminya yang tak pernah mengeluh karena jam istirahatnya jauh berkurang.


     "Kalau aku tidak tampan, tidak mungkin kau mau menikah denganku," ucap Raymond sambil membungkuk. Melumat lembut bibir istrinya tanpa ragu karena dalam keadaan apapun, di manapun, istrinya adalah yang tercantik. Bahkan, bidadari pun tak akan mampu membuat Raymond berpaling.


     Oek ... oek ... oek ....


     Suara tangis Cleo mulai terdengar dan sangat nyaring. Suami-istri itu pun berpandangan kemudian tertawa.


"She's jealous," kata mereka bersamaan.


Note Author: Yang nunggu-nunggu kapan Tara tahu bahwa Raymond adalah Sakti, pelan-pelan saja, ya. Nanti juga akan sampai di sana.

Post a comment

1 Comments

  1. so sweet papa lemon... Eh raymond ding!

    Btw byk makan sayur n buah biar g sembelit tara

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)