Kapan Hamil? (Bab 11)

 

      Virna dan Tiger sedang berada di ruangan Hilma. Seperti biasa, Tiger bersikap tenang setenang wajahnya yang tampan dengan rahang kokoh. Sedangkan Virna, dia sedang harap-harap cemas. Tangannya berkeringat sambil memperhatikan dokter kandungan yang ada di hadapannya itu.


      Hilma terlihat serius membaca laporan kesehatan Tiger yang ada di tangannya sembari sesekali membetulkan kacamatanya yang bertengger di hidungnya yang cukup tinggi untuk ukuran orang Indonesia. Dia tak mau melewatkan satu huruf pun. Apalagi, laporan ini adalah harapan dari sahabatnya sendiri.


     "Semuanya normal," kata Hilma begitu selesai membaca laporan kesehatan Tiger. Tak ada yang salah. Pria yang duduk di hadapannya itu tidak kekurangan satu apapun. Kesehatan fisik dan psikis juga oke. Tak ada masalah.


      Mendengar hal itu, tentu saja Virna senang. Ia bisa bernapas lega dan tidak perlu lagi menduga-duga. Suaminya tidak mandul. Namun, masih ada hal yang menjadi ganjalan hatinya adalah apa yang menyebabkan dirinya belum memiliki momongan sampai sekarang? Pertanyaan itu kembali berputar-putar di dalam kepalanya dan lama-kelamaan merambah hatinya. Membuat dirinya gundah gulana. Membuatnya putus asa dan sempat terbersit apakah sebaiknya dia mengadopsi anak saja? Tapi, apakah suaminya akan setuju jika mereka merawat anak yang bukan darah daging sendiri?


      Tiger menggenggam tangan Virna dengan erat tanpa berkata-kata. Tiger sadar betul bahwa kata-kata saja tak bisa membuat Virna senang. Tak bisa membuat istrinya tenang. Lagipula, meskipun Virna adalah perempuan modern, baginya, perempuan menikah dan belum juga hamil tidak bisa dikatakan wanita sempurna. Sama halnya jika bikin sayur asam tapi tidak pakai asam. Kurang mantab!


     "Apa kami perlu ikut program kehamilan, Hil?" tanya Virna setengah memaksa. Bukankah sekarang ilmu kedokteran begitu canggih? 


     Hilma mendengkus sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Hilma tahu persis bagaimana Virna ingin sekali memiliki keturunan. "Tidak perlu. Kalian masih muda dan aku yakin jika hubungan kalian oke, dan kamu mengurangi tingkat stress-mu, bukan hal mustahil kamu akan segera hamil," terang Hilma yang merasa program kehamilan itu belum dibutuhkan oleh Virna. Lagipula, usia pernikahan mereka belum melewati setahun pertama. Masih terlalu dini jika melakukan program hamil.


     "Apakah lelah dan stress juga pengaruh, Hil?" tanya Tiger serius. Soal perempuan dan reproduksinya, Tiger tak banyak tahu. 


      "Sangat! Pastikan istrimu tidak terlalu banyak berpikir. Luangkan waktu untuknya."


      Oh. Mulut Tiger membulat dan kepalanya mengangguk. Dia baru sadar setelah menikah, dia mengajak Virna berkeliling dunia untuk menemaninya bekerja. Hampir setiap hari hingga larut malam, Virna membantu pekerjaan suaminya padahal ada Rose yang mengurus. Virna adalah perempuan masa kini yang tak bisa jika hanya berdiam diri saja tanpa melakukan sesuatu. Jika disuruh diam, ada saja alasannya.


      "Thanks, Hil."


      "Sama-sama. Hubungi aku kapanpun kalian membutuhkan," jawab Hilma sebelum suami-istri itu meninggalkan ruangannya. 


      Selesai konsultasi dengan Hilma, Tiger dan Virna bergandengan tangan dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang tak begitu ramai. Digenggam erat tangan Virna dan Tiger tak bisa melepaskan pandangannya dari perempuan di sebelahnya.


      "Bagaimana kalau kita mengadopsi anak?" tanya Tiger yang sejak tadi memperhatikan wajah Virna yang muram. Pikiran itu muncul begitu saja secara spontan. Dia tak tahu apakah cara ini bisa membuat Virna merasa senang, yang jelas, jika kehadiran seorang bayi begitu diinginkan Virna, Tiger akan mencarikan bayi.


      Pertanyaan Tiger yang tiba-tiba itu membuat wanita itu menghentikan langkah kakinya. "Sungguh? Kamu tak masalah?" Virna bertanya antusias. Apakah ini yang dinamakan telepati antara suami dan istri? Baru beberapa menit lalu dia berpikir tentang mengadopsi anak. Tapi, kini suaminya lah yang mengatakan terlebih dahulu.


     "Everything for you. Aku pernah mendengar, adopsi anak adalah salah satu pancingan agar cepat hamil."


      Virna mengerti maksud suaminya. Dia juga pernah mendengar hal serupa. Dan cara itu, banyak yang telah membuktikannya. Jika Virna mencobanya, bukankah tak masalah? 


***

     "Sudah kubilang, kita gak punya uang! Kalau begitu, biarkan saja Cica mati!" Suara itu menggema di lorong rumah sakit dan Virna merasa tak asing lagi dengan suara melengking itu.


     "Cica anak kita, Rin! Mana mungkin aku tega membiarkan dia mati begitu saja?"


     "Mas maunya gimana? Uang kita ludes! Mas sendiri gak kerja! Gak bisa menjadi suami yang tanggung jawab dan membiarkan anak istri sengsara! Kalau bukan karena mantan istri Mas, hidup kita tidak akan menderita seperti sekarang! Mas tidak akan menjadi pengangguran! Huumph, ternyata Mas Firman telah dibodohi. Virna berselingkuh terlebih dulu dengan pemuda kaya! Kamu Bodoh, Mas!" balas Rini berapi-api. Ia tak akan pernah lupa perbuatan Virna terhadap dirinya dan keluarganya.


     Plak!


     Sebuah tamparan melayang di pipi Rini. Firman wajahnya merah padam dibakar amarah. Dia tak suka Rini menjelekkan Virna karena dia tahu persis seperti apa Virna. Dia tak akan berkhianat apalagi hanya demi ketampanan dan harta. "Jaga bicaramu, Rin. Virna adalah perempuan baik-baik."


     "Oh, jadi Mas Firman lebih membela mantan istri daripada istri sendiri? Mas ingin rujuk lagi setelah kemarin bertemu? Yasudah. Sana susul mantan istrimu! Asal Mas ingat, Rini tidak akan pernah lupa siapa yang membuat hidup kita jadi sengsara begini!" ucap Rini kesal lalu masuk ke dalam ruang inap. Semalam, keadaan anaknya tiba-tiba memburuk dan terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit. Dokter bilang, Cica harus segera dioperasi. Jika tidak, kemungkinan besar usianya tak akan bertahan lama. Tapi, uang dari mana untuk operasi? Makan saja susah!


     Rini?


     Virna menghentikan langkah kakinya dan dari kejauhan, dia melihat dua sosok orang yang kemarin ditemuinya. Mantan suami dan istri barunya. Ia juga mendengar dengan jelas pertengkaran suami-istri itu.


      Cica? Apakah dia anak yang digendong Firman kemarin? Apakah dia akan meninggal jika tidak dioperasi?


     "Sweety?" Tangan Tiger menggenggam bahu istrinya. Sementara Firman yang berdiri cukup jauh dari Virna dan Tiger, belum menyadari keberadaan mereka berdua.


     "Kau baik-baik saja?" sambung Tiger lagi. Virna hanya hanya mengangguk karena banyak sekali yang tiba-tiba terpikirkan olehnya dan satu pertanyaan pun melintas di kepalanya.


     Tuhan, apakah aku ikut andil dalam penderitaan mereka? Apakah aku juga mendapat karma atas perbuatanku di masa lalu?


   

***


Catatan Author: 

     Pepatah lama mengatakan, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Firman dan Rini telah menanam perselingkuhan, dan mereka menuai buah ketidakbahagiaan dalam pernikahan. Lalu, bagaimana dengan Virna? Apakah yang ia alami sekarang juga termasuk dari apa yang telah ia tanam? 



     

Post a comment

1 Comments

  1. Hatimu seputih salju ya virna...

    Bener² kecantikan lahir bathin

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)