Kapan Hamil? (Bab 12)

      

Novel kapan hamil

     Firman hanya bisa bersabar melihat tingkah istrinya. Dia tahu kalau Rini sudah cukup menderita selama ini. Hanya saja, dia tak percaya jika perempuan itu sampai hati membiarkan darah dagingnya sendiri meninggal. Firman juga tidak tahu darimana akan mendapatkan uang sebanyak itu. Hanya saja, tak bisakah istrinya bersikap layaknya seorang ibu yang memperjuangkan hidup anaknya sendiri? Darah daging yang dilahirkannya dengan taruhan nyawa?

     

     Pria itu mendudukkan bokongnya ke atas kursi yang terbuat dari besi yang ada di belakangnya. Diurutnya kedua pelipis untuk mengurangi rasa nyeri yang tak kunjung reda. 


    Sedangkan, di sisi lain yang tak jauh dari sana, Virna merasa nyeri di bagian dadanya. Jika saja ia tak menghancurkan rumah yang dulu dibeli Firman dengan uangnya, barangkali tak akan jadi begini hidup mantan suaminya. Seandainya saja dia tak terbakar amarah dan meminta bantuan Tiger untuk memboikot Firman dari semua perusahaan yang ada di Indonesia, terutama Jakarta, pasti Firman akan menjalani kehidupan yang lebih. Dan Cica, putrinya yang menderita Hidrosefalus pasti bisa mendapatkan perawatan yang memadai. 


     Tangan Virna bergetar dan kelopak matanya terasa panas. Firman memang berselingkuh darinya. Berbuat jahat padanya. Tapi, bukankah Virna juga jahat? Ia menjebloskan mantan mertuanya ke dalam jeruji besi. Membuat Firman tak bisa memiliki pekerjaan layak. Dan itulah yang membuat Rini menjadi benci setengah mati terhadap dirinya. Jika Virna adalah korban, bukankah Firman dan istrinya juga korban? Dan pada akhirnya, Firman dan Virna tak benar-benar bahagia dalam pernikahan mereka yang kedua. Firman dengan kehidupannya yang serba kurang, anaknya yang lahir tidak normal. Sedangkan Virna dengan pernikahan yang tak kunjung diberikan buah hati.


     "Ingin menyapanya?" tanya Tiger merangkul tubuh istrinya. Ia mampu membaca bahwa Virna merasa menyesal dengan apa yang pernah dilakukannya di masa lalu. Bukankah sudah sering terjadi hal seperti itu? Jika manusia sedang marah, ia bisa melakukan apa saja. Dan begitu kemarahannya reda, tak jarang ada penyesalan yang menghampiri relung jiwa.


     Virna mendongak ke atas. Melihat ke dalam mata suaminya. "Boleh?"


     "Tentu." Tiger menjawab singkat. Itulah istrinya. Dari luar terlihat tangguh, tegas jika bekerja, namun sungguh lembut di dalam hatinya.


     Mereka berdua berjalan pelan dan menghampiri Firman yang kepalanya tertunduk. Hingga Virna membuka mulut, Firman sama sekali tak menyadari kedatangan mantan istrinya itu. 


     Ehem! 


     Tiger ber dehem dan sontak, Firman pun mengangkat kepalanya. Begitu melihat yang ada di depannya adalah Virna, Firman langsung berdiri. 

     

     "Hai," sapa Virna canggung. 

     

      "Eh, Vir. Duduk. Apa kau mengunjungi dokter lagi?"


       "Ya. Kali ini dengan suamiku," jawab Virna yang langsung duduk di sebelah Virna.


    "Oh, maafkan aku tidak datang ke acara pernikahan kalian."


     "Tidak masalah. Minggu depan kami akan mengadakan pesta. Kau harus datang!" sela Tiger sebelum meninggalkan istrinya agar lebih leluasa berbicara dengan Firman namun terburu dicegah oleh Virna.


      "Tetaplah di sini," pinta Virna pelan. 

  

       "Aku akan menunggumu di mobil. Aku tidak ingin menganggu kalian," kata Tiger sambil mengerlingkan matanya lalu kembali berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan senyum lebar yang menghiasi bibirnya. 


***

     "Aku mendengar pembicaraanmu dengan Rini." Virna memulai pembicaraan setelah beberapa menit, kebersamaan mereka hanya diisi dengan keheningan. "Jika kamu tidak keberatan, bolehkah aku membantu anakmu?"


     Membantu? Firman tak langsung menjawab. Ia merasa apa yang terjadi dengan hidupnya saat ini adalah karmanya karena telah mengkhianati Virna. Dia tidak bersalah dan Firman merasa apa yang dilakukan dulu adalah hal wajar. Virna adalah wanita baik. Tak pernah menuntut. Pokoknya sempurna!


     "Bagaimana?" tanya Virna lagi karena dia belum mendapat jawaban.


     "Terima kasih, Vir." Firman menjawab malu-malu. Ia melihat ke arah Virna yang juga menatapnya. Sekilas saat mereka bertemu, hati pria itu berdesir. Rasanya ia ingin merengkuh tubuh Virna dan meminta maaf atas segala perbuatannya. Dia tak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Virna. Terlebih lagi, orang yang dikhianatinya lah yang mengulurkan tangan saat dia benar-benar putus asa. 


        "Apa itu artinya kamu mengijinkan aku membantu anakmu?"


     "Tidak perlu, Vir. Aku akan berusaha mencari pinjaman untuk Cica. Aku telah banyak merepotkan mu. Aku tidak ingin merepotkan lebih banyak lagi." 


     Virna membuang napasnya perlahan. Dia heran kenapa Firman menolak bantuannya padahal jelas-jelas Cica harus dioperasi secepatnya. "Aku ikhlas, Fir."


     "Aku tahu. Kau adalah perempuan terbaik yang pernah aku temui, Vir. Kau perempuan yang sempurna. Aku saja yang bodoh karena telah membohongimu. Mengkhianati pernikahan kita. Jika saja diijinkan, aku ingin meminta maaf padamu, Vir!" jawab Firman yang tiba-tiba bersimpuh di kaki mantan istrinya. Ia menciumi kaki jenjang Virna yang terekspose dengan air mata yang mengalir. 


     "Tidak perlu, Fir. Jangan begini. Kamu tidak perlu minta maaf."


     "Aku yang salah. Ibu yang salah karena selama kau menjadi menantu, Ibu memperlakukanmu tidak baik. Dan saat ini ... saat ini Ibu sedang terbaring di tempat tidur. Ibu kena stroke. Ini adalah hukuman Tuhan untuk kami, Vir."



     Ya, Tuhan! Virna yang berusaha membuat Firman berdiri pun akhirnya kehabisan tenaga. Dia menyesali segala perbuatannya. Sungguh. 


     "Maafkan aku juga, Fir. Aku juga telah banyak berbuat salah padamu dan keluargamu. Maafkan keegoisanku," ucap Virna lirih. Ia tak tahan untuk tidak menangis. Digenggamnya tangan Firman dan meminta lelaki itu untuk berdiri. Dengan spontan, Firman pun memeluk mantan istrinya yang telah menangis sesenggukan. Mengelus lembut rambutnya dan menenangkan wanita itu. "Dan ijinkan aku membantumu, Fir. Tolong ...."



***


      "Adopsi?" sahut Tara yang hampir tersedak kepala ayam goreng ketika Virna menceritakan keinginannya untuk mengadopsi seorang bayi. Mereka sedang makan malam bersama Mama dan juga Papa.


      Virna menatap kedua orangtua angkatnya, "Ya. Bagaimana menurut Papa dan Mama?" 


      Papa dan Mama yang duduk di paling ujung pun saling berpandangan.


     "Kami tidak keberatan. Iya, kan, Pa?" ucap Mama dengan lembut. Mama tahu bagaimana perasaan Virna yang tak kunjung hamil saat menikah. Jadi, apapun keputusan Virna, mereka akan mendukung penuh. 


     "Iya. Dengan catatan kamu harus mengurangi pekerjaanmu. Menjadi seorang ibu bukanlah pekerjaan mudah, Vir. Butuh waktu, kesabaran, dan juga ketelatenan. Dan yang paling penting lagi ...."


     Virna menatap ke arah Papa dan menunggu lelaki tua itu melanjutkan kalimatnya. "Biarpun anak angkat, begitu anak itu memasuki rumah ini, kamu harus menganggap anak itu darah dagingmu sendiri. Senakal apapun anak-anakmu nanti, kamu harus maklum. Itulah tugas orangtua. Memaklumi kesalahan anak-anaknya."



     Tiger dan Virna yang sedang berpegangan tangan pun mengangguk. Mereka mengerti apa yang dimaksud Papa. "Terima kasih, Pa. Virna akan ingat kata-kata Papa."


     "Tara keberatan!" interupsi Tara sambil mengangkat tangan yang masih memegang kepala ayam yang telah digigit bagian lehernya.


     "Apa?" tanya Virna sinis. Dia sudah menduga bahwa saudara kembarnya itu akan berbuat rusuh.


       "Mbak Virna akan merawatnya sendiri? LDR an gitu sama Tiger? Enak aja. Dia kira mudah ngerawat anak? Iya, kan, Mr. Rowan?" Tara nyerocos sembari menoleh ke arah suaminya untuk mencari dukungan. Dia tak mau Virna kerepotan mengurus anak sementara Tiger sibuk mengurus perusahaan. Enak aja. Mana bisa begitu! Tugas mengurus anak adalah tugas suami dan juga istri. Mereka harus bekerja sama. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing!


       "Benar." Raymond membalas pelan dan ragu. Kalau dia bilang tidak, bisa-bisa Tara memintanya tidur di sofa. Lagipula, dia yang meminta Tiger mengurus perusahaan. Kalau sampai dia stay di Indonesia, bisa kacau urusan kantor.


      Raymond menatap ke arah Tiger dan memintanya untuk segera bicara. 


     Sial! Keluh Tiger dalam hatinya. 


      "Aku bisa pulang seminggu sekali." Tiger berkata dengan lantang. Tak boleh terlihat ragu-ragu atau pikiran mertuanya akan berubah.


      Pulang seminggu sekali? Tara langsung melotot dan menggigit makanan di tangannya. "Gak bisa! Kamu kira mengurus anak itu mudah kayak ngurus anak ayam? Aku tidak mau Mbak Virna kerepotan sendiri. Apalagi yang mau kita adopsi adalah bayi! Bukan anak kucing!"


      "Kan ada perawat." Virna mencoba menengahi.


      "Kalau semua diserahkan pada perawat, apa bedanya punya bayi dan tidak, Mbak? Mbak Virna sibuk ngantor, Tiger juga sibuk kerja, kalian yakin ingin mengadopsi anak?"


      Benar juga apa yang dikatakan adiknya. Virna meragukan keputusannya sendiri. Sementara, dia belum siap jika harus diam diri di rumah. Century semakin berkembang pesat dan semua urusan hotel, Virna lah yang mengurusnya.


     "Sudah-sudah. Makan dulu, nanti kita lanjutkan obrolannya," lerai Mama dan kedua anaknya itu pun langsung diam. Jika Mama atau Papa sudah buka suara, tak ada yang berani membuka mulut mereka.


***


      Virna baru saja selesai mengganti pakaiannya menggunakan baju tidur dengan bahan sutra yang lembut. Setelah selesai mengoleskan krim malam di wajah dan bagian mata yang bengkak, ia pun berbaring di ranjang dan menutupi kakinya dengan selimut yang hangat dan lembut. 


     "Bagaimana perasaanmu?" tanya Tiger sambil mengelus rambut istrinya dan mengendus aroma shampoo Virna yang harum. 


       "Lebih baik."


      Tiger pun menurunkan tubuhnya dan mendekap tubuh istrinya. Ia melihat semuanya di rumah sakit tadi. Dia melihat bagaimana tangis istrinya yang luruh di pelukan mantan suaminya. Ia juga melihat ada sebuah beban yang terangkat dari hati istrinya. "Sekarang tidurlah. Biarkan Hilma mengurus segala keperluan Cica. Kita doakan saja agar anak itu bisa sehat kembali."


      Virna tak menjawab apa-apa. Ia melingkarkan tangannya di tubuh Tiger yang tegap. Ditumpahkannya segala tangis yang belum tertuntaskan. Sekarang, tinggal dua orang lagi yang ingin Virna temui untuk meminta maaf. Rini dan mantan mertuanya. 


* Bersambung


       Terkadang, sebagai manusia kita sering lupa akan satu hal. Tanpa sengaja, kita menyakiti hati orang lain. Dan dari perbuatan yang tidak sengaja itulah tak jarang Tuhan memberikan kesukaran pada hidup kita.

      


Post a comment

2 Comments

Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)