Kapan Hamil (Bab 7)

 

Novel kapan hamil

Virna menarik napas dalam-dalam ketika suara Sofi terus saja terdengar oleh telinganya. Kawannya itu memang tak pernah berubah. Cerewet dan memang suka memandang rendah dirinya karena dianggap tidak sekelas. Terlebih, Virna adalah yatim piatu yang hanya mengandalkan otaknya agar bisa kuliah dan mendapatkan beasiswa.


"Vir, makan, dong. Udah gue ambilin, nih! Gue inget banget waktu kuliah dulu, Lo jarang ke kantin," kata Sofi menyodorkan kimbab yang baru saja diambilnya dengan nada setengah memaksa.


"Makasih, Fi. Aku masih kenyang." Virna menjawab enggan dan sesekali melambaikan tangan pada kawan-kawan yang menyapa dirinya dari kejauhan.


"Sarapan apa, Lo? Nasi bungkus sama seperti waktu kuliah dulu? Kerja di mana sekarang? Eh, itu tas KW kan? Emang, sih. Kalau barang tiruan memang murah dan cocok sama Lo! Ya gak, Hans?"


Hans langsung mengiyakan dan memandangi Virna dengan tatapan aneh. Perempuan begini pasti murahan dan bisa dijadikan selingkuhan. Pikir Hans nakal. Kalau pun disuruh bayar, tak masalah. Tubuh Virna molek dan lebih berbentuk daripada Sofi. 


"Ehehe. Benar, Fi. Aku tinggal dulu, ya. Mau ngumpul sama yang lain."


"Oke. Ntar Lo balik sini, ya. Ngomongin soal perjodohan!"


"Hehehe." Virna tertawa dengan terpaksa. Habisnya, mau gimana lagi? Mau marah, sayang skincare. Usianya kini sudah 31 tahun. Capek marah-marah terus hanya untuk hal sepele seperti itu. Lagipula, Virna memang tak ingin menjelaskan apa-apa tentang kehidupannya saat ini. Dari tabiatnya Sofi, dia pasti tak percaya kalau kini dia adalah salah seorang pewaris hotel Century.


"Mbak Virna?" Tara yang sedang duduk di pojokan bersama suami dan anaknya pun melambaikan tangan. 


"Makan yang banyak! Oke?"


"Oke?!" Tara menjawab dengan mengangkat kedua jempolnya. Sementara Virna, terus berkeliling menyapa teman kuliah yang sebenarnya tidak terlalu akrab saat masih sering ngampus dulu.


***


"Perhatian-perhatian!" Suara yang menggunakan alat pengeras itu pun terdengar nyaring dan membuat semua orang yang berjumlah sekitar 30an itu pun terdiam. Tak ada lagi suara lebah pindah sarang. Tak ada lagi suara hiruk pikuk pasar minggu di pagi hari. Sementara Virna yang duduk di meja bundar berisi enam orang pun ikut melihat MC yang sudah berdiri di panggung dengan dandanan super necis dan rambut super licin. Lebih licin daripada rambut adik iparnya.


"Selamat pagi menjelang siang. Thanks buat Bro Sis yang sudah datang. Acara reuni kali ini disponsori oleh Sofi dan suami. Jadi, kita beri tepuk tangan buat mereka."


Suara gemuruh orang yang bertepuk tangan pun ramai terdengar termasuk Virna yang tepuk tangan dengan semangat. Baru kali ini dia menghadiri reuni kampus dan terbilang cukup menyenangkan meski ada beberapa yang membuat keki karena kebanyakan dari mereka bertanya, "Kapan nikah, Vir? Sudah punya calon atau belum? Ingat, sudah kepala tiga, lho."


Huffftt. Kenapa sih orang-orang yang tinggal di negara +62 suka sekali menanyakan hal-hal pribadi di tempat umum atau yang bukan ranahnya? Untungnya, Virna tetap kalem seperti biasa dan menjawab hanya dengan senyuman. Pokoknya, stok sabar Virna masih ada dan sekali lagi dia bukan tipe yang suka mengumbar urusan pribadi.



"Ehem!" Sofi yang baru saja naik panggung dan mengambil alih mic dari tangan MC pun berdehem penuh semangat dan pongah. "Terima kasih karena kalian sudah datang. Pertama-tama gue mau bilang kalau sebenarnya hari ini adalah hari ulangtahun pernikahan gue dan suami ...."


Wuuuuuuu ... suit suit!


Semua orang bersorak dan bersiul. Heboh. Rame. Seperti konser dangdut di lapangan terbuka saat acara 17-an.


"Seperti yang kita semua tahu, untuk pertama kalinya Virna datang ke acara reuni. Kasih tepuk tangan, dong!"


Semua yang ada di ruangan itu pun melihat ke arah Virna sambil bertepuk tangan. Virna merasa canggung dan rasanya ingin pergi saja dari sana. Ia tak ingin jadi pusat perhatian. 


"Oh, ya. Virna belum nikah, lho. Gue mau jodohin dia dengan teman sekaligus bawahan suami gue. Kerjanya office Boy. Menurut kalian gimana? Cocok, gak?"


Cocok! Jodohin saja Sof!


Virna menggertakkan gigi sementara di meja lain, Tara yang sedang menyusui Cleo kepalanya sedang berasap. Ngebul. Sudah seperti gunung Bromo yang mau meletus. Dia heran kenapa Virna masih tenang-tenang saja dan tidak membalas? Jomlo?! Enak saja! Tiger ganteng, muda, gagah, dan yang jelas duitnya melimpah! Penghinaan ini namanya! Kalau Tara yang diperlakukan seperti itu, dia pasti sudah berjalan ke panggung dan menarik rambut Sofi biar kapok! Lagaknya saja seperti orang terkaya di dunia!


"Tenanglah istriku. Biarkan Virna mengatasinya sendiri."


"Tapi ...." Tara masih tak terima. Kakaknya itu terlalu kalem. 


"Percayalah. Virna tak selemah itu dan membuat dirinya rela di-bully."


Huuuft. Tara tak bisa berkata apa-apa lagi. Meskipun kesal, ia tak bisa mengabaikan suaminya begitu saja. "Oke," jawabnya sambil memandang wajah Cleo. "Little Devil, kalau sudah besar nanti, jika ada yang mem-bully mu, kamu harus menghajar mereka! Oke?"


Mata Cleo berbinar. Bibirnya terangkat seolah-olah dia mengerti ucapan Mama nya. 


"Atau ... kau bisa bilang Papa. Oke?" sahut Raymond tak mau kalah. 


"Tidak. Anakku harus menjadi gadis yang pemberani! Dia tidak boleh mengandalkan Papanya."


"Kau juga boleh mengandalkan aku, istriku," balas Raymond mengecup kepala istri sang duduk di sampingnya. 


Di lain sisi, acara reuni hampir saja berakhir setelah mereka secara bergantian bernyanyi di atas panggung. Bibir Virna sampai pegal karena mau tak mau dia harus tertawa ketika yang lain tertawa. Memaksa diri tersenyum ketika pertanyaan kapan nikah menghujani dirinya. Bukankah bersosialisasi memang seperti itu? Terkadang, kita memang harus berpura-pura. Jangan terlihat mencolok dan berbeda diantara yang lain. Nanti mereka akan menganggap kita aneh.


"Jangan lupa ambil souvernir nya sebelum pulang ya gaeeesss!" Sofi mengingatkan lagi tentang souvernir yang diletakkan di meja sebelah pintu masuk. Entah berapa kali dia sudah mengatakan itu. Dan meskipun yang lain juga bosan, tak ada yang berani protes karena Sofi adalah anak salah satu pejabat negara yang selalu duduk di kursinya. Tak pernah lengser padahal sudah melalui pemilu berkali-kali. 


"Selamat siang, Bu," sapa seorang pelayan yang sedang membawa bill yang diminta oleh Sofi. 


"Oya. Sini bill-nya. Cash, ya. Gak pakai kartu kredit!"


Decak kagum teman-teman kampus Virna yang masih ada di sana pun tak bisa ditutupi. Dandanan Sofi yang mentereng, tas merek ternama, suami ganteng sekaligus seorang manager. Sempurna! Tak sedikit yang iri dengan kehidupan Sofi itu. 



"Gak salah nih jumlahnya?" tanya Sofi ketika membaca jumlah bill yang ada di tangannya. "Ini pasti salah ketik! Gak mungkin segini jumlahnya!"


"Ini sudah benar, Bu. Anda memakai ruangan ini melebihi batas yang seharusnya."


"Oke, deh!" Terpaksa Sofi mengiyakan. Ia tak ingin dipermalukan di depan teman-temannya. Sofi pun membuka tasnya. Hanya ada cash 15 juta. Tak cukup. Saat menoleh ke arah suami yang berdiri di sampingnya, Hans menggeleng. Ia tak pernah pegang cash sebanyak itu.


"Huuufttt. Pakai credit card aja deh, ya. Cash-nya gak cukup, nih." Sofi menyodorkan kartu kredit miliknya pada pelayan yang sudah menunggu. 


"Baik, Bu. Tidak masalah. Mohon ikut saya."


Setelah melakukan pembayaran di meja kasir, Sofi yang sedang ditunggu teman-temannya pun akhirnya kembali. Wajahnya dibuat tersenyum agar kecantikannya tak luntur. Terutama lipstiknya yang hampir pudar karena belum touch up.


"Sof, thanks ya untuk acaranya. Tau gini kan kita-kita bawa hadiah."


"Ah, gak perlu. Ntar hadiahnya gak kepakai kan sayang. Hadiahnya kalian simpan saja untuk pernikahan Virna. Oke?"


Huffft. Lagi-lagi Virna yang diam saja kena sasaran. 


"Selamat siang? Ada yang namanya Bu Virna? Virna Lewis?" Suara yang datang dari seorang perempuan berpakaian serba rapi itu pun membuat kerumunan terpecah. 


"Virna? Lewis? Salah orang kali, Mbak. Di sini yang ada cuma Virna aja," sahut Sofi diikuti anggukan teman-temannya. 


"Ya, saya sendiri." Akhirnya Virna pun keluar barisan. Membuat semua yang di sana ternganga. Sejak kapan Virna menjadi Virna Lewis? 


"Tolong tanda tangan di sini, Bu. Suami Anda meminta kami mengirim semua tas-tas ini ke sini," pinta salah satu pelayan toko resmi Hermes diikuti pelayan lain yang berbaris sambil membawa tas pesanan Tiger. 


"Suami saya? Tiger? Maksud saya ... Garry?"


"Benar, Bu. Tolong tanda tangani. Kami akan menaruh semua tas di meja. Pak Garry bilang ini untuk teman-teman Anda. Beliau juga meminta maaf karena tidak bisa mengundang mereka di acara pernikahan Bu Virna."


Asataga! Virna menepuk jidatnya. Pasti ini ulah Tara. Adiknya itu pasti laporan pada Tiger tentang perbuatan Sofi. 


"Mbak yakin Virna ini yang dimaksud? Gak salah orang?" tanya Sofi tak percaya. Dia menyahut tanda terima yang ada di tangan Virna. Jumlah yang fantastis untuk souvernir pernikahan. Alen Mini, Clic - H, Trim Do, Saut dan masih banyak lagi! Ya ampuuuuuun. Ini pasti mimpi! Sofi menampar pipinya sendiri dan ketika kulitnya terasa sakit, barulah ia sadar bahwa ini nyata.


Virna mengambil tanda terima dari tangan Sofi dan menandatangani. "Ini, Mbak. Terima kasih dan maaf karena telah merepotkan," ucap Virna pada pelayan toko di hadapannya.


"Sama-sama, Bu. Semoga pernikahan Anda dan Pak Garry langgeng."


Pelayan itu pun pergi meninggalkan cafe dan teman-teman Virna yang belum sepenuhnya sadar. Hermes? Dan semua asli! Bekerja seumur hidup pun belum tentu mereka mampu membelinya. 


Bruk! Tubuh Sofi terjatuh ke lantai. 


Sof? Sofi! Sadar Sof!


*Bersambung 


Post a comment

3 Comments

  1. Ya ampuuuun..... suka suka sukaaaaaa.... dengan part ini....
    Rasaiin kamu sofiii....

    Makanya jadi orang jangan belagu yaaaaaa....


    Ini yang namanya balas dendam positif....
    Puaaaassss....

    ReplyDelete
  2. Eh itu si cleo solid bangetz sama papa raymond....


    Bikin gemeeeesh.....

    ReplyDelete
  3. Mbak virna aku mau juga dooong tasnyaaaaa ...

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)