Kapan Hamil? (Bab 8)

 

Novel romantis


Akhirnya selesai juga. Desah Virna dalam hati ketika ia telah sampai di dalam mobil dan duduk di belakang kemudi setir dengan nyaman. Ia mengencangkan sabuk pengaman dan sesekali melihat ke arah luar jendela dan memperhatikan keluarga adiknya yang terlihat sangat harmonis. Kadang-kadang Virna juga merasa iri ketika melihat betapa lucunya keponakan-keponakan yang lucu-lucu itu. Montok dan menggemaskan. 


Finally, Virna merasa dirinya terbebas juga dari kerumunan masa yang menanyakan siapa suaminya, konglomerat mana, bisnis tambang emas atau batubara, dari mana dan sejak kapan mereka menikah? Dan yang mengesalkan adalah pertanyaan,"Sudah hamil atau belum,Vir? Hati-hati, lho. Istri kalau gak hamil-hamil, laki-laki bakalan mulai mencari-cari wanita lain! Soalnya, yang bisa bikin langgeng hubungan suami-istri tuh anak!"



"Jangan lupa SMS kalau sudah sampai!" Tara yang berdiri di luar mobil pun mengingatkan. Kakaknya itu akan menengok apartemen milik suaminya. Jadi, mereka harus berpisah untuk sementara.


"Oke! Kalian hati-hati, ya! Ray, thanks ...."


Raymond yang sedang menggendong Cleo pun hanya mengangkat jempolnya. Pria itu memang jarang sekali buka mulut. Sekalinya buka mulut, yang ingin ia terkam adalah istrinya yang manja, galak, sekaligus bertubuh molek yang kini sudah agak mengendur dan berlemak pasca melahirkan.


Virna menutup jendela mobilnya dan mulai melajukan mobilnya di jalanan ibukota. Sesekali ia juga melihat ke arah spion dan memastikan ada mobil hitam yang mengikutinya. Virna tak bisa protes kalau hidupnya kini seperti seorang presiden yang 1×24 jam harus dikawal ke mana pun ia pergi.


Klik!


Suara pesan masuk di ponsel Virna. Tiger. Dan tanpa pikir panjang,Virna langsung melakukan panggilan dan memelankan laju mobilnya. 


"Hi, Sweety. Mmmmuuachh!" sapa Tiger begitu panggilan mereka terhubung.


 Sementara Virna sesekali harus menginjak rem ketika macet kembali menyapa karena lampu hijau lebih sebentar dibandingkan lampu merah. Baru juga lima mobil yang berhasil melewati lampu traffic, eee harus berhenti lagi karena lampu merah menyala lagi. Bikin uring-uringan saja. Sudah panas, macet pula! Tidak bisakah jalanan di Jakarta seperti di Seoul, Sydney, atau bahkan Madellin?


"Hmmm. Apa kamu senang sudah menghabiskan uang untuk tas-tas itu?" sindir Virna gemas dan jiwa miskinnya meronta-ronta jika mengingat jejeran angka yang baru saja ia lihat. Memang, itu adalah uang suaminya. Tapi, tetap saja Virna merasa tidak ikhlas. Uang sebanyak itu bahkan bisa untuk membeli rumah mewah lebih dari satu.


"Kau menyukainya?" goda Tiger tak bisa menahan senyumnya. 


"Tidak!" jawab Virna kesal dengan bibir mengatup dan rahang yang mengeras. Bayangkan saja, berapa puluh tahun dibutuhkan untuk mengumpulkan uang sebanyak itu? Sampai mati pun Virna tak akan sanggup meski kini dia adalah salah satu pewaris Century. Jumlahnya pun sama seperti Tara. Tak lebih, tak kurang. Tapi, bukan berarti dia bebas melakukan apapun menggunakan uang itu. Iya, kan? Mama dan Papa sudah sangat baik padanya. Dan Virna tak ingin mengecewakan orangtuanya itu. Apalagi hanya untuk souvernir demi menunjukkan kekayaan dan kehebatan suaminya. Sama sekali tidak penting! Orang-orang yang membenci Virna tak membutuhkan itu karena sebaik apapun Virna, ia tetap saja gadis miskin di mata Sofi and the gang.



Tiger terbahak-bahak dan sesegera mungkin menjauhkan ponsel dari telinganya kalau tak mau gendangnya pecah. Istrinya yang terlalu perhitungan masalah uang itu pasti ingin menerkam dan mencabik-cabik dirinya. Atau bahkan mengikatnya di pohon mangga yang ada di belakang rumah keluarga Lewis semalam suntuk. Istrinya itu, kalau marah memang terkadang tak ada ampun. Tapi, justru itulah yang membuat lelaki itu makin cinta sejauh apapun jarak yang memisahkan mereka saat ini.


"He he he ... aku masih punya banyak uang, Sweety. Kau tidak akan mampu menghabiskannya."


"Hmmphhh! Terserah!" 


"I love you."


Virna pun terdiam sesaat sebelum menyahut. "Aku tidak mencintaimu!"


"Aku tahu. Kau saaaaaangat mencintaiku!" jawab Tiger bersemangat dan penuh percaya diri seperti biasanya.


Virna mendesah ketika dia telah sampai di belokan apartemen. "Teman-temanku ingin melihatmu. Aku harus bagaimana? Aku bahkan tidak tahu kapan kamu akan pulang," tanya Virna kesal lantaran teman-temannya menagih acara pesta pernikahan.


Begitu mobil terparkir mulus di tempat khusus, Virna keluar dari dalam mobil dan berjalan cepat menuju lift. 


"Minggu depan. Minggu depan aku akan pulang. Kau atur saja pesta untuk memenuhi hawa nafsu dan rasa penasaran teman-temanmu."


Huufft. "Oke." Virna kehabisan kata-kata karena jika Tiger sudah menyatakan keinginannya, sekeras apapun dia berusaha mencegah, semua hal itu percuma saja. Lelaki itu memang slengean, tetapi saat berbicara dengan nada serius, Virna tahu betul dia sedang tidak bercanda.


"Kau harus beristirahat, Sweety. Jangan terlalu lelah," ucap terakhir kali sebelum Tiger mengakhiri panggilannya.


Sedangkan Virna melangkah maju ketika pintu lift terbuka."Ummm. Kamu juga harus jaga diri baik-baik."


"Sudah lama aku tidak ke sini," kata Virna pada dirinya sendiri sembari membuka pintu menggunakan password tanggal pernikahannya dengan Tiger. Apartemen itu terasa pengap karena lama tak ditinggali. Ia langsung menyalakan lampu dan pendingin ruangan agar udara menjadi lebih segar. 


Begitu ruangan itu terang benderang, foto pernikahannya dengan suaminya yang kedua itu terpampang jelas di tembok dengan pigura mewah dan ukuran yang besar. Virna tersenyum lebar. Suaminya begitu muda, tampan dan terlihat berwibawa.


Virna meletakkan tasnya di atas meja yang sedikit berdebu kemudian berjalan ke arah dapur. Ia membuka kulkas dan masih ada beberapa minuman kaleng yang masih bisa diminum. Perempuan itu mengambil satu softdrink dan membuka penutupnya kemudian meneguk isinya. Segar. Air soda itu langsung bisa menyegarkan tenggorokan dan juga kepalanya.


Sebaiknya aku tidur sebentar sebelum ke rumah sakit menemui Hilma.


***


Virna sedang harap-harap cemas ketika Hilma memeriksa dirinya menggunakan transducer yang ditempelkan di kulit bagian perut untuk memancarkan gelombang suara dengan frekuensi tinggi. Hal ini biasanya digunakan pada wanita yang sedang hamil ketika melakukan USG. Jantung Virna berdetak kencang sambil mengamati layar yang ada di hadapannya. Ia sama sekali tak paham, tapi sebagai seorang perempuan yang ingin sekali menjadi seorang ibu, ia tentu penasaran apa yang terjadi pada tubuhnya.


"Sejauh ini, tidak ada masalah. Semuanya normal," ucap Hilma dengan mantab. "Tapi, aku akan memeriksa lebih lanjut yaitu mengambil sampel darah ketika kamu sedang datang bulan. Bagaimana?"


"Kamu tidak bohong, kan, Hilma? Kalau aku memang tidak mandul, kenapa aku belum hamil?"


Hilma memegang tangan Virna dan menggenggamnya. "Tiger. Bisa jadi dia yang bermasalah. Kita harus menunggu. Dia bilang padaku sudah memeriksakan diri dan begitu hasilnya keluar, dia akan menghubungiku."


"Bagaimana ... bagaimana jika dia tidak mandul? Apa yang membuatku sulit hamil, Hilma?" 


Hilma mengelus punggung tangan sahabatnya itu. Menatap matanya dengan lembut sekaligus penuh ketegasan. Tajam. "Vir ... hamil bukan saja dipicu oleh hubungan seks suami-istri tetapi juga faktor psikologis dan gaya hidup. Dan yang paling terpenting lagi adalah ...." Hilma menunjuk ke atas menggunakan jari telunjuknya. "Tuhan. Kelahiran, kematian, hidup, sakit, semua sudah digariskan. Yang perlu kita lakukan adalah harus percaya dan berusaha"


Selesai acara pertemuannya dengan Hilma, dengan lesu Virna meninggalkan ruangan kawannya itu dan berjalan gontai sepanjang koridor. Jika ia tidak mandul, apakah Tiger yang mandul? Tidak. Virna yakin suaminya itu sangat sehat. Ia masih muda dan tentu saja subur. 


Bruk!


"Maaf ... aku sedang tidak konsentra ...." Belum sempat Virna melanjutkan kalimatnya, sepasang mata itu tengah menatap Virna.


"Firman?"

Post a comment

3 Comments

  1. Firman itu mantan suami virna kan thor?

    ReplyDelete
  2. Ya ampun sovenir tas busa buat beli bbrp rmh mewah??

    Gileeee...

    Tajir abissssss....

    ReplyDelete
    Replies
    1. 不不不tasnya Hermes ... mau sebutin harga jadi keder不不不

      Delete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)