Kapan Hamil? (Bab 9)

Kapan hamil


 "Virna?"


Mata Firman terbelalak melihat perempuan yang barusan ditabraknya itu ternyata adalah mantan istrinya. Virna.


Tubuh wanita itu kini makin berisi, wajah berseri, terlebih lagi pakaiannya yang terlihat mahal dan makin modis. Pokoknya lebih cantik dari istrinya. Kalau tahu begini, dia tak akan menceraikan mantan istrinya itu. Kalau tahu kehidupannya akan makin runyam begini ... tak akan dia mengkhianati pernikahannya. Tak akan dia bermain mata di belakang Virna. Seandainya waktu bisa diputar kembali, Firman akan dengan ikhlas kembali ke masa lalu. Tapi, tiada guna penyesalan Firman. Kini dia sudah hidup dengan istri, anak, dan calon jabang bayi yang masih ada dalam kandungan. 


"... apakah istrimu hamil lagi?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Virna. Lagipula, tidak mungkin, kan, laki-laki ada di rumah sakit ibu dan anak kalau bukan karena istrinya hamil atau anaknya yang sakit?


"Ah, iya. Istriku sedang hamil anak kedua." 


Firman membetulkan posisi putri kecilnya yang ada di gendongan. Dan Virna pun melihat mata bulat yang sedang memperhatikan dirinya. Sepasang mata yang terlihat menonjol dan kepala yang lebih besar daripada anak seumurannya. Firman menggendongnya dengan telaten dan pria itu, kini terlihat lebih tua dan kurus. Wajahnya tak lagi terawat dan matanya terlihat cekung karena sering begadang.


"Bagaimana denganmu, Vir?" sambung Firman lagi sambil memutar-mutar tubuhnya agar anaknya tak menangis. Syukur-syukur kalau dia tidur. Jadi, Firman bisa mengobrol lebih lama dengan Virna. 


"Aku bertemu dengan dokter kandungan." Virna menjawab singkat dan mata yang tetap melekat pada pada anak di gendongan mantan suaminya.


"Oh." Mulut Firman terkatup dan wajahnya yang semula bersinar, berubah menjadi redup. Dia jadi ingat lelaki tampan yang dulu bersama Virna. Itukah suaminya saat ini? Pantas saja Virna nampak cantik dan berkecukupan. Dia memang pantas mendapatkan pria yang baik. Bukan lelaki brengsek seperti dirinya. Batin Firman perih sekaligus ikut merasakan kebahagiaan atas kehidupan baru Virna.


"Maaf, Fir. Apakah putrimu sedang sakit?" tanya Virna yang tak sanggup lagi menahan pertanyaan itu di benaknya. Ia penasaran sekaligus merasa iba terhadap mantan suaminya itu. Hidupnya terlihat nelangsa dan penuh beban. Namun, ia juga bisa melihat Firman bisa menjadi ayah yang baik. Dia terlihat bertanggung jawab dan memiliki aura kebapakan.


"Oh, ya, Hidrosefalus. Dia seharusnya dioperasi tapi kami belum memiliki biaya. Doakan saja secepatnya ya, Vir. Kasihan dia, sering menangis dan kesulitan minum asi," jawab Firman terus terang dan tanpa perasaan minder sedikit pun. Lagipula, dia tahu persis sifat Virna. Dia tak akan mengejek orang lain hanya karena status ekonominya lebih rendah. 


Virna menatap anak itu kasihan. Kulitnya putih, hidung tinggi, persis seperti Firman setahun lalu saat masih gagah. Virna pun berjalan mendekat ke arah Firman. Mengelus pipi putri kecilnya lembut. Tiba-tiba, tubuh Virna seperti dialiri listrik dengan daya yang rendah. Menggetarkan sanubarinya dan hampir saja air matanya berlinang.


"Kasihan sekali," gumam Virna sungguh-sungguh. Firman dan Rini memang pernah menyakiti dirinya. Menghancurkan hidupnya. Tapi, anak mereka tidak tahu apa-apa. Ia begitu suci dan tak tersentuh dosa orangtuanya. 


"Mas?" Suara Rini tiba-tiba muncul di belakang tubuh Virna. Ia pun menoleh dan bisa melihat ketidaksukaan perempuan itu. Perutnya terlihat besar dan Rini mengenakan daster batik longgar dengan tas besar berisikan keperluan anaknya.


Rini tahu persis perempuan necis yang ada di depannya itu. Mantan istri suaminya sekaligus orang yang ikut andil menghancurkan hidupnya hingga ke dasar lumpur. Dia lah orang yang membuat ibu mertuanya merasakan hotel prodeo selama beberapa bulan. Dan dia jugalah yang membuat Firman tidak bisa bekerja di perusahaan yang ada di Indonesia. Suaminya di blacklist dan ujung-ujungnya tak memiliki pilihan lain selain membuat toko di depan rumah orangtuanya karena rumah yang dulu dibeli Firman, ditarik oleh pihak bank.


Kalau saja bukan karena keegoisan wanita itu, pasti Rini tak akan menderita seperti sekarang ini. Mentang-mentang punya backing orang kaya, menjadi semena-mena. Sampai mati pun Rini tak akan memaafkan Virna. Kalau saja bukan karena keegoisan wanita itu, kini pasti dia bahagia bersama anak dan suaminya. Kalau Rini tak bisa hidup bahagia, dia pun berdoa bahwa Virna tak akan pernah bahagia.


"Sudah selesai? Kalau begitu, ayo kita pulang."


"Sudah dari tadi! Mas saja yang terlalu asik ngobrol dengan mantan istri!" jawab Rini kesal yang langsung berbalik arah tanpa berpamitan pada Virna. Tak penting. Melihat Virna lama-lama hanya akan membuat darah tinggi Rini kumat.


"Aku pulang dulu, ya, Vir. Kapan-kapan kita ngobrol lagi," teriak Firman sambil mengikuti istrinya dengan tergopoh-gopoh.


Sementara Virna, sedang mencerna tatapan benci Rini dan nada bicaranya yang sinis. Seharusnya Virna lah yang bersikap kasar karena Rini yang merebut Firman darinya. Menghancurkan rumah tangga yang ia bina. Tapi ini justru sebaliknya. Rini yang merasa bahwa Virna yang menghancurkan hidupnya. 


Semoga ini hanya perasaanku saja. Pikir Virna sebelum kembali menyusuri koridor rumah sakit.


***


"Benarkah? Itu namanya karma, Mbak!" jawab Tara mantab melalui sambungan telepon. Sementara Virna yang sedang bersandar pada bantal, tidak mengiyakan atau menolak ucapan adiknya. Ia bercerita kalau tadi sore dia bertemu dengan Firman dan juga istrinya. Virna menceritakan dengan detail apa yang dilihat dengan mata kepalanya. Tetapi, ia sama sekali menganggap bahwa apa yang terjadi pada anak Firman adalah sebuah azab. Buah dari dosa-dosa orangtuanya di masa lampau.


"Mbak Virna tidak apa-apa, kan? Jangan-jangan Mbak masih mencintai Firman?"


"Hus! Ngacok kamu! Mana ada?"


"Ya ... siapa tahu, kan? Secara, Firman adalah cinta sekaligus suami pertama Mbak Virna."


Arrgghhh! Adiknya itu menyebalkan sekali. Bukannya kegelisahan Virna terpecahkan tapi justru makin jengkel karena Tara berbicara yang tidak-tidak. Kalau tahu begini, dia tidak akan bercerita. Virna menyesal bercerita pada kembarannya itu. Sama sekali tidak memberikan solusi.


"Mbak ... asal Mbak Virna tahu, ya. Di dunia ini, dosa sekecil biji zarrah pun akan mendapatkan balasannya. Dan bukan hal tidak mungkin saat ini Firman dan Rini mendapatkan balasan atas dosa-dosa mereka pada Mbak Virna."


Tak tahan dengan ocehan Tara, Virna langsung mengakhiri percakapan mereka. Kalau Firman dan Rini mendapatkan balasan atas dosa-dosa mereka, apakah saat ini Virna juga mendapatkan balasan yang sama? Itu sebabnya dia tak kunjung hamil meski tubuh dan rahimnya sehat?


Pikiran itu terus berputar-putar di kepala Virna. Masih teringat jelas bagaimana tatapan Rini saat melihat dirinya. Penuh kebencian dan kemarahan. Tatapan anak yang ada di gendongan Firman pun menghantui dirinya. Seolah-olah anak itu meminta Virna untuk menyelamatkan dirinya agar bisa hidup normal seperti anak pada umumnya. 


*Bersambung





Post a comment

1 Comments

  1. betul sekali kata tara virna...

    Itu karma buat firman dan rini

    Dosa sekecil dzarrah pun akan ada ada balasannya

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)