Kapan Hamil? (Bab 13)

 

Novel kapan hamil


     Selepas kepergian Virna, Firman menceritakan tentang keinginan mantan istrinya pada Rini bahwa Virna ingin membantu membiayai operasi Cica. Rini yang  baru saja mendudukkan tubuhnya di atas tikar pun justru terlihat kelelahan sekaligus kesal. Cica baru saja tidur setelah menangis sesorean. Ruangan rumah sakit itu berisikan tiga ranjang. Untung saja yang dua lainnya belum terisi. Jadi, mereka tidak terganggu dengan tangisan Cica. 


      "Mas lupa kalau mantan istri Mas lah yang membuat hidup kita jadi melarat seperti ini?" tanya Rini jengkel seolah dia lupa, bahwa dirinya lah yang merusak rumah tangga Virna dan menjadi orang ketiga diantara mereka.


       "Sudah lah, Rin. Virna tidak boleh disalahkan atas apa yang terjadi di hidup kita. Yang terpenting sekarang adalah Cica."


     "Mas masih cinta sama dia?" tanya perempuan yang sedang hamil tiga bulan itu dengan nada sinis. Tiap kali mendengar nama Virna keluar dari mulut suaminya, telinga Rini seperti ingin meledak. Apalagi hatinya. Panas. Seperti gunung yang siap menyemburkan laharnya. Wanitaana yang tahan mendengar suaminya meneyebut nama perempuan lain? Apalagi itu adalah mantan istrinya. Sialnya lagi, dulu Virna yang kelihatan lebih tua darinya, kini justru nampak lebih muda diusianya yang semakin matang. Rini? Justru sebaliknya! Setiap hari hanya mengenakan daster dan tak pernah memakai baju bagus lagi seperti dulu. Tubuhnya yang singset pun kini melebar ke mana-mana.


     "Hus! Jangan ngacok kamu, Rin. Virna sudah punya suami!" elak Firman yang langsung mendekati putrinya yang sedang tidur dan mengelus kepalanya yang ukurannya lebih besar daripada anak-anak seusianya. Meskipun anaknya tidak normal seperti anak lain, cinta Firman terhadap putri pertamanya itu tidak kurang. Jangankan cinta, nyawa saja akan dia berikan kalau diperlukan.


     "Ngacok? Mas pikir aku tidak tahu kalau Mas Firman masih menaruh hati padanya? Cara Mas Firman memandang, kalau bukan cinta, apa namanya?"


      "Jangan bilang kau cemburu."


      "Memangnya tidak boleh cemburu sama suami sendiri? Tidak boleh aku cemburu pada mantan istrimu yang lebih segala-galanya daripada aku?" jawab Rini kesal yang langsung membaringkan tubuhnya. Ia menghadap ke arah tembok agar tak melihat suaminya yang terlalu sering membuatnya darah tinggi. Untung saja janin Rini sehat dan kuat. Tak akan protes meski ibunya tidur di lantai. Dia sudah lelah setelah menyusui Cica dan meninabobokan anaknya itu. Dan sekarang, dia ingin tidur. 


***


     Keranjang belanjaan di tangan Firman telah penuh. Camilan untuk istrinya, susu segar, dan juga popok untuk Cica. "Cash atau kredit, Pak?" tanya kasir minimarket yang ada di lantai satu rumah sakit. Firman pun langsung mengeluarkan kartu kredit diamond yang tadi diberikan oleh Tiger. Tadinya, Firman menolak. Terlalu rakus jika dia menerima banyak bantuan dari Virna dan suaminya. 


     "Aku akan marah kalau kau menolaknya," ucap Tiger yang langsung memberikan kartu berwarna hitam itu pada Firman. Tadinya pria itu menunggu Virna di mobil, tapi entah kenapa suara hatinya mengatakan bahwa dia harus membantu mantan suami istrinya. Dia tak tahan melihat Virna sendirian menanggung rasa bersalah atas kejadian di masa lalu.


      Firman memencet mesin EDC. Password kartu itu adalah ulang tahun Virna. Dan diam-diam, Firman pun menitikkan air mata. Dia ikut senang Virna mendapatkan lelaki yang baik. Meskipun lebih muda, tapi lebih baik dari dirinya. Terlihat sekali bahwa pria itu memiliki tanggung jawab dan sangat mencintai Virna. 


     "Maaf, Pak. Apa Anda baik-baik saja?" tanya petugas kasir yang jika dilihat dari penampakan, terlihat dia masih usia belasan. Barangkali, baru lulus sekolah menengah.


       "Tidak apa-apa, Mbak. Terima kasih."

    

  Lelaki itu menyeka air matanya dengan cepat dan mengambil belanjaannya yang telah terbungkus rapi di tas plastik berwarna putih dengan logo Sehat Mart dan berjalan keluar minimarket dengan segera. Ia ingin bertemu dengan anak dan istrinya. Memeluk mereka dan memberikan sebuah kecupan selagi mereka tertidur.


    Firman meletakkan belanjaan di lantai kemudian membetulkan selimut yang menutupi tubuh istrinya. Ditatapnya wajah yang kecantikannya semakin berkurang itu. Bukan karena usia yang bertambah, melainkan Rini tak lagi merawat dirinya. Setiap hari ia sibuk mengurus warung dan Cica. Meski tak berhenti mengoceh dan memarahi Firman, Rini tak pernah sekalipun berniat ingin meninggalkan suaminya. Meski cintanya sedikit berkurang, namun cinta Rini tak pernah hilang. Karena bagaimanapun juga, Firman adalah suaminya. Pilihannya. Dan demi lelaki itulah dia rela menyandang status perempuan perebut lelaki orang dan menjadi bahan gunjingan. 


"Maafkan aku, Rin. Aku telah banyak membuatmu menderita," bisik Firman sembari mengecup kening istrinya. 


     Rini yang pura-pura tidur pun diam-diam menitikkan air mata. Untung lampu kamar dimatikan, jadi suaminya tak akan tahu bahwa di balik kekesalannya, ada penyesalan karena tak bisa bersikap lemah lembut pada suaminya. "Maafkan Rini juga, Mas ...."


      ***


     Bunyi ranjang berderit dan suara napas Virna yang terengah-engah memenuhi ruangan kamar mereka yang terasa dingin karena pendingin ruangan akhirnya berhenti. Yang tertinggal hanyalah tubuh dua orang anak Adam yang kelelahan di balik selimut. Virna tersenyum senang di dalam pelukan suaminya. Ini untuk pertama kalinya dia menikmati hubungan suami-istri yang begitu istimewa. Bukan berarti yang sebelumnya dia merasa tidak puas. Hanya saja, sekarang dia merasakan hal yang beda dengan tubuh suaminya yang jauh lebih berisi. 


    "Olahraga berapa jam saat di Cina? Tubuhmu lebih kekar," tanya Virna sambil mengelus dada suaminya dengan jari telunjuk. Tiger langsung mengeratkan pelukan dan mengecup lembut rambut Virna yang basah.


     "Aku tidak olahraga. Yang aku lakukan hanya memikirkan mu."



    Sontak Virna mencubit Tiger gemas. Ia bertanya dengan serius tapi suaminya itu hanya becanda. 


     "Ah, sakit. Lebih baik kau menciumiku."


     "Enak saja! Sekarang waktunya tidur!"


      "Belum, Sweethart. Aku belum puas," kata Tiger lagi sembari membalikkan tubuh Virna. Dilihatnya wajah istrinya yang diterangi temaram lampu tidur. Sementara bagian tubuhnya yang lain menyentuh perut Virna yang datar. Dengan segera lelaki itu melayangkan sebuah ciuman pada Virna. Ciuman yang hangat dan juga basah. 


    Dihujamkannya sekali lagi kejantanan Tiger seirama dengan desahan Virna yang tak mungkin untuk dibendung lagi. Ia tak peduli kalau ada yang mendengar bagaimana percintaan mereka semalam suntuk. Yang jelas, Tiger sangat menikmatinya. Milik istrinya terasa lembut, hangat dan juga sempit. Setelah beberapa menit bergonta-ganti posisi, kejantanan Tiger terasa menegang dan ingin menyemburkan laharnya. Dengan cepat ia mengayunkan bokongnya, menghujam tubuh Virna hingga semua cairan dalam tubuhnya memenuhi rahim perempuan yang sudah tak berdaya lagi itu. Ia menyerah. Padahal, biasanya dialah yang selalu menginginkan lebih dan sulit terpuaskan.


      ****


     - Setiap manusia pernah berbuat salah. Tak ada yang sempurna. Namun, memaafkan adalah sumber kebahagiaan. Maafkanlah orang-orang yang pernah menyakiti hati kita. Minta maaflah pada orang-orang yang pernah kita sakiti. Barangkali, di sana ada ketenangan hidup. -


      



Post a comment

0 Comments