Kapan Hamil? (Bab 14)

 

Baca novel gratis


     "Mbak Virna itu terlalu baik dan murah hati!" protes Tara yang sedang menyusui Ares dan Hermes. Ares menyusu pada payudara Tara di sebelah kanan dan Hermes di sebelah kiri.




     Kegiatannya sehari-hari selain menyusui ya mengajak anak kembarnya bermain. Kalau yang satu nangis, yang lain ikutan nangis. Yang satu ngompol, ketiganya ikut ngompol. Kalau yang satu sakit, yang lainnya ikut sakit selang beberapa hari kemudian. Anak kembar memang istimewa. Unik. Tubuh mereka seolah menjadi satu terutama emosinya. Tetapi, selain keistimewaan itu, Tara juga kerepotan mengurus mereka meskipun dibantu oleh baby sitter dan juga suaminya. Mau gimana lagi? Ares, Hermes, Ades dan Cleopatra adalah anak-anaknya. Bukan anak baby sitter.




     Jadi, yang paling banyak mengurus si kembar adalah dirinya dan juga Raymond. Bukan baby sitter! Dikira mudah mengasuh anak? Itu sebabnya dia yang paling pertama protes saat saudari kembarnya, Virna, ingin mengadopsi anak. Dia tahu sesibuk apa Virna dan suaminya. Kalau akhirnya semua diserahkan pada pengasuh anak, buat apa mengadopsi bayi? Iya, kan? Lagipula, yang dibutuhkan seorang anak bukan hanya materi, melainkan kasih sayang kedua orangtuanya.




     Virna yang sedang menyeruput kopinya pun tak bisa berkata apa-apa selain mendesah pelan. Dipandanginya wajah adiknya itu ,"Apa aku harus jadi nenek sihir dulu biar jahat? Membawakanmu apel beracun agar kamu tertidur dalam waktu yang panjang?"




     "Ya kan gak gitu juga kali, Mbak. Dikira sedang main drama putri salju dan tujuh kurcaci? Kalau aku di posisimu, sudah kubuat habis Firman dan istrinya! Mereka yang selingkuh, mereka juga harus menanam akibatnya!"




      Huuufttt. Tara memang energik. Dalam posisi menyusui pun masih berapi-api. Semangatnya tak pernah luntur bagai ombak yang terus bergulung-gulung di pantai untuk menyenangkan para peselancar.




       Perempuan yang mengenakan short dress berwarna putih tulang itu pun meletakkan cangkirnya dan berjalan mendekati Tara yang duduk di sofa. "Dengarkan, Princess." Virna mulai berbicara dengan nada serius. Wajahnya tak kalah serius seperti guru matematikanya yang killer waktu SMA.




     "Apa?"




     "Kamu tahu tomat?" tanya Virna dengan mata yang menyipit.




    Tomat? Tentu saja tahu! Untuk apa bertanya soal tomat? Tara pun meminta baby sitter yang duduk di lain sofa untuk mengambil dua anaknya agar dia bisa lebih berkonsentrasi dengan ucapan kakaknya. 




      "Apa hubungannya tomat dengan mantan suamimu dan selingkuhannya?" Tara bertanya gemas sambil meneguk air putih yang ada di hadapannya. 




       "Keluarkan ulat yang ada di dalam agar tomat tidak busuk!" jawab Virna enteng dan menyentil dahi Tara menggunakan jari telunjuknya yang ditakutkan dengan jempol. 




     Tara mengernyit dan memegangi dahinya yang kemerahan. "Ini namanya penganiayaan! Kenapa tidak dibuang saja, sih? Tomat kan murah!"




       "Huuufttt. Kamu ini, ya ...." Virna memegangi bagian perut adiknya yang masih menggelambir dan belum berbentuk lagi. " ... urus saja lemakmu ini? Soal tomat, biarkan aku yang mengurusnya!"




      "Sialan! Lihat saja kalau kamu hamil nanti, tubuhmu akan mengendur melebihi tubuhku!"




      "Hahaha. Aku tidak keberatan. Suamiku akan tetap mencintaiku meski tubuhku sebesar gajah!" balas Virna percaya diri diiringi tawa yang renyah. Dia tak sabar lagi menunggu saat itu. Saat di mana selulit ada di bagian perut, pangkal paha dan juga bokongnya. Dia juga akan menunggu dengan sabar perutnya menggelambir setelah melahirkan. Dia juga akan menantikan ketika dia harus terbangun di malam hari untuk menyusui dan mengganti popok. Virna kini lebih optimis, selama mentari masih bersinar, harapan akan selalu ada.




     ***




      Mobil sedan berwarna hitam yang dikendarai Tiger berhenti di depan sebuah panti asuhan yang tak terlalu besar. Sedangkan Virna yang duduk si sebelahnya, tak sabar lagi ingin melihat anak-anak yang lucu dan menggemaskan di dalam sana. Meski ia sendiri dari panti asuhan dan menjadi donatur tetap di panti yang dulu pernah ia tinggali, Virna lebih memilih panti asuhan lain.




      "Kau yakin di sini tempatnya?" tanya Tiger agak tak percaya. Ia tak mengerti kenapa Virna memilih panti asuhan di pinggiran kota yang tak begitu bagus dari segi bangunan. Tiger yakin bahwa management di panti itu pun buruk. Dan juga, mereka pasti tidak memiliki donatur tetap. Lihat saja temboknya dengan cat mengelupas, bangunan rumah yang kalau dilihat dengan saksama sedikit miring.




      "Ya. Ayo masuk. Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya."




      "Kita bisa ke panti lain jika kau mau."




      Virna menggeleng pelan. Mengelus pipi suaminya yang bersih dari bulu-bulu halus. "Tidak. Aku ingin di sini saja."




     Sepasang suami-istri itu pun berjalan ke arah panti dan sama sekali tidak ada penyambutan. Virna tidak memberitahu pihak panti bahwa dia ingin datang. Virna melihat ke sekeliling. Dari jauh, terlihat dua bangunan itu biasa-biasa saja. Satu rumah yang sederhana dan satunya lagi terlihat seperti ruangan kelas. Tak ada ayunan apalagi prosotan. Tak ada bunga mawar yang indah apalagi anggrek yang bermekaran. Hanya ada rumput liar yang rajin dipotong di halamannya. Dan tentu saja beberapa sayuran yang tumbuh subur di dalam polibag. 


   Dari luar, panti asuhan itu nampak sepi. Tetapi jika didekati, terdengar celotehan anak-anak yang sedang aktif bertanya kepada guru mereka. 


      Virna berjalan ke bangunan yang jendelanya terlihat landai. Ia menengok ke dalam dan beberapa anak sedang duduk di lantai ditemani meja belajar yang sederhana dengan gambar kartun Winnie the Pooh, Cinderella, kurcaci, Upin Ipin dan beberapa tokoh anak kesayangan masa kini. 




       "Siapa yang tahu kenapa badak senang sekali ada di kubangan lumpur?" tanya wanita yang sudah tak lagi muda itu. Rambutnya yang berwarna putih, pipi yang mulai menciut tetap tak menyurutkan niatnya untuk mengajar. 




    "Biar gak bau!" jawab salah seorang anak diikuti tawa teman-temannya. 




     "Saya tahu, saya tahu," sambung yang lainnya sambil mengangkat jari telunjuk. 


       


      "Iya, Ari. Coba jawab pertanyaan ini tadi."




     "Anu, Bu." Anak berusia lima tahun itu pun terbata. 




     "Anu apa?"




     "Anu ... biar gak gampang sakit! Kata kak Devi kita harus mandi dia kali sehari agar tidak sakit!"




     Kepala panti sekaligus pemilik yang merangkap sebagai guru anak-anak sebelum mereka masuk sekolah dasar itu pun hanya tersenyum. "Ada lagi yang mau jawab?" tanya Irene mengangkat penggaris panjang yang terbuat dari kayu.




     "Aku aku aku!" Dewa langsung berdiri dengan semangat. Dia tahu jawaban yang tepat dan kali ini pasti benar! 




      "Apa, Wa?"




     "Biar bisa cantik kayak kakak yang lagi ngintip itu!" jawab Dewa sambil menunjuk ke arah Virna yang ketahuan mengintip. Sorak anak-anak pun terdengar dan Virna terlihat malu-malu. Sementara Tiger masih tetap setia berdiri di samping istrinya. Melihat anak-anak itu, membuat hatinya cerah seperti mentari hari ini. Hangat seperti pelukan istrinya. Dan manis seperti kecupan bibir istrinya.




    'Aku sudah siap menjadi seorang Ayah!'




     ***


     Irene meletakkan dua cangkir teh hangat di hadapan Tiger dan Virna yang sedang duduk di kursi bambu dengan plitur yang sangat rapi. 




    "Bagaimana kabarmu, Vir?" Irene mengawali pembicaraan mereka. Sudah lama sejak terakhir kali ia bertemu mantan mahasiswinya itu. Terakhir kali ya sebelum Irene memutuskan untuk pensiun jadi dosen.




       "Baik, Bu. Maaf lama tidak berkunjung."




     "Kalau minta maaf saja cukup, gak mungkin ada nenek-nenek masuk penjara karena nyolong ubi, Vir."




     "Kalau nyolongnya satu truk, masak gak dipenjara, Bu?"




      Kedua wanita itu pun tertawa. Mereka masih kompak dan sebagai mahasiswi kesayangan, kecerdasan Virna tak pernah luntur. Sifat humoris sekaligus kritis Irene pun belum berubah. Dari Irene lah Virna menerima banyak bantuan semasa kuliah. Namun sayangnya, baru sekarang ia berani menemui mantan dosennya itu. Gak enak, kan kalau mengunjungi orang yang dituakan tanpa memberi apa-apa? Dulu Virna masih miskin. Tak enak hati jika berkunjung. Sekarang, lain cerita. 




     "Itu bukan nyolong. Tapi ngerampok!" sahut Irene lagi lalu perbincangan itu pun makin asik dan berlangsung lama. Hingga pada akhirnya, Virna menyatakan maksud kedatangan yang sebenarnya. Ia dan suaminya ingin mengadopsi seorang bayi, kalau ada. Jika tak ada, anak usia 5-7 tahun pun tak masalah.




     "Begini ...." Irene mulai serius. "Ibu yakin kalian mampu secara ekonomi. Tapi, apakah kalian sudah siap menjadi orangtua? Buat Ibu, Ibu tidak ingin anak-anak hidup di dalam keluarga yang kurang perhatian. Apalagi anak jaman sekarang, diperhatikan saja jalannya sering belok-belok. Apalagi kalau tidak diawasi?"




    Tiger menarik napasnya perlahan. Lagi-lagi, itu yang jadi masalah. Tidak mungkin, kan dia stay di Indonesia? Mau di kemanakan Eternal? Dan Virna. Tak mungkin dia mundur dari jabatannya sekarang ini. 




      "Tolong beri kami kesempatan, Bu. Saya Tiger akan melakukan yang terbaik sebagai orangtua."




     "Melakukan yang terbaik saja tidak cukup, Vir. Dengan segudang kesibukan kalian, bagaimana ikatan kalian dan anak akan terjalin? Orangtua dan anak kandung saja sering berselisih paham. Yang Ibu inginkan cuma satu. Anak-anak tidak hanya diadopsi, melainkan menemukan rumah mereka. Orangtua mereka. Menjadi ibu bukan perkara mengandung dan melahirkan. Melainkan bagaimana kita mencintai mereka dengan tulus dan ikhlas."




     ***




     Sepulang dari panti, Tiger dan Virna langsung menuju rumah sakit untuk menemui Firman. Mereka ingin bertemu dengan Rini secara langsung karena kemarin Virna tak sempat menemui istri mantan suaminya tersebut. 


          Selain itu, mereka juga sudah bisa bernapas lega karena pada akhirnya keinginan Virna akan terwujud. Sulit sekali membujuk Irene agar menyetujui permintaan Virna. Perempuan itu sungguh alot. Bahkan, lebih sulit daripada membicarakan persetujuan bisnis. 


      "Kamu yakin Raymond akan setuju kamu pindah ke Indonesia?" tanya Virna ragu. Pasalnya, Irene tak akan mengijinkan mereka mengadopsi anak kalau Tiger masih sering bepergian ke luar negeri. 




    "Entahlah. Aku akan mencoba membujuknya." 




    "Tabahkan hatimu, Nak," goda Virna mengelus punggung suaminya yang sedang duduk di belakang kemudi setir. Dan dengan cepat Tiger pun meraih tangan Virna lalu menciumnya dengan lembut.




     "Apa kau senang?"




     "Sangat! Thanks ...."




     "Ucapan terima kasih saja tidak cukup, Sweety." Tiger tersenyum kemudian menarik tubuh istrinya agar mendekat. Ia memelankan mobilnya lalu mencium bibir istrinya dan memagutnya penuh gairah. Untung saja jalanan begitu lenggang, namun siapa sangka musuh sedang mengintai di belakang dan mobil yang dikendarai Tiger pun diseruduk dari belakang hingga terlempar ke pinggir jalan menabrak pembatas dan masuk ke dalam sungai.




     "Tiger! Tiger! Bangun!"




***




      -Hati manusia ibarat buah tomat. Jika dimasuki ulat, buanglah ulat tersebut agar tomat tak menjadi busuk.-




     

Post a comment

0 Comments