Kapan Hamil (Bab 15)

 

Novel gratis

         Pyar! 


       Suara gelas yang terjatuh ke lantai pun membuat Tara tersentak. Dia sedang mengambil air minum di dapur tapi gelas yang ada di tangannya melesat begitu saja dan menghantam lantai. Perasaannya jadi tak enak. Ada hal ganjil yang menyusupi dadanya. Tak biasanya dia seperti ini. Apalagi, tangannya sampai terlihat gemetar seperti orang yang sedang kedinginan 


      Bibi yang mendengar suara sesuatu yang pecah pun langsung lari tergopoh-gopoh padahal dia sedang bermain-main dengan Ares yang baru saja selesai dimandikan oleh perawat. 


      "Haduh, Non. Non Tara  tidak apa-apa, kan?" tanya Bibi cemas tapi Tara tak menyahut karena pikirannya sedang kalut.

    

     "Non? Non tidak apa-apa, kan?" tanya Bibi sekali lagi dan akhirnya suara Bibi membangunkan Tara yang masih diam terpaku melihat pecahan beling di kakinya. Bibi langsung buru-buru mengambil sapu agar pecahan beling itu tak mengenai majikannya. "Hati-hati, Non. Jangan diinjak."


     "Eemm ... tidak apa-apa, Bi. Maaf ya sudah merepotkan."


       "Tidak apa-apa, Non. Biar Bibi yang bereskan. Non Tara istirahat saja. Wajahnya pucat begitu. Perlu dipanggilkan dokter?"


     Tanpa menjawab apa-apa, Tara pun berjalan keluar dapur. Ia lupa air minumnya. Lupa akan tenggorokannya yang kering dan minta dibasahi. Yang dia ingat saat ini hanya satu hal. Saudarinya. Virna ....


***


       "Sudah tidur?" tanya Tara pada Raymond  begitu ia memasuki kamar. Lelaki yang sedang mengamati wajah putrinya itu pun menjawab, "Ya. Baru saja tidur. Lihatlah bibirnya, menggemaskan. Pipinya merah sepertimu."


      Tara tak menyahut. Wajahnya datar dan pikirannya entah sedang melayang ke mana. Dia langsung duduk di sofa dan mengambil ponsel yang ada di atas meja.


    Tara mengirimkan sebuah pesan pada Virna. Dia tahu Virna dan Tiger sedang ke panti asuhan dan langsung menuju rumah sakit begitu selesai. Tetapi, tetap saja perasaannya tak enak. Tak pernah dia begini sebelumnya. 


    "Ada apa, istriku?" tanya Raymond dengan nada yang lembut namun Tara tak menyadari jika Raymond yang berdiri di hadapannya sedang bertanya. 


     "Apa yang mengganggu pikiranmu?" 


    Setelah pertanyaan yang kedua ditambah belaian lembut di pipinya, barulah pikiran Tara seolah kembali ke bumi. 


     "Hmmmm?" jawab Tara dengan wajah yang mendongak ke atas. Menatap mata suaminya dengan sorot bingung. Ia sama sekali tak mendengar apa yang Raymond katakan. Pikirannya sedang kalut menunggu balasan dari saudari kembarnya.


      Lelaki berbadan tegap itu menunduk. Memegangi wajah istrinya dan mencium lembut pipinya. Dia tak tahan jika melihat wajah orang yang dikasihi menjadi murung seperti langit di luar sana yang terlihat mendung "Ada apa? Katakan padaku. Hmmm?"


     "Tidak apa-apa. Apa kamu lapar? Aku akan menyiapkan makan untukmu."


     Raymond menghela napasnya lagi kemudian duduk di sebelah Tara dan merangkul bahunya. "Sedang memikirkan Sakti dan Mala? Mereka sedang ada di Bangkok."


     Bangkok? Tara mengernyitkan dahinya. Bagaimana bisa mereka ada di Bangkok? Apakah mereka masih bulan madu sementara pernikahan mereka telah berumur sebulan. Tara lah yang membiayai pernikahan mereka, membelikan apartemen, kendaraan dan juga memberikan sejumlah uang untuk modal berbisnis. 


     Meskipun hatinya tak yakin, Tapi kenyataannya Sakti mengetahui semua masa lalu mereka. Setiap kali bertemu atau berbicara melalui telepon, lelaki yang menjadi suami sahabat Tara waktu kuliah itu selalu menyinggung masa lalu mereka saat masih berada di panti asuhan. Bukankah sebuah kebohongan jika lama-lama diperdengarkan, seolah menjadi sebuah kebenaran. 


     "Apa mereka menghubungimu?" 


    Raymond hanya menjawab dengan gelengan kepala. "Kau ingin makan sesuatu? Aku akan membelikan untukmu."


     "Tidak, terima kasih. Aku hanya ingin istirahat. Aku lelah sekali."


      "Oke. Tidurlah di kamar sebelah. Aku akan menjaga Cleo," balas Raymond kemudian menggendong tubuh istrinya dengan pelan dan kehangatan. 


     "Terima kasih," ucap Tara mengecup pipi Raymond yang berbulu tipis. Entah berapa hari lelaki itu tidak bercukur.


    "Berterima kasih lah dengan tindakan, Nyonya. Bukan ucapan," balas Raymond mengerlingkan matanya dengan genit sekaligus menggoda.


      ***

      Bangkok, Thailand ....


      Sepasang suami istri masih terengah-engah setelah selesai menghabiskan waktu mereka bergumul di atas tempat tidur sambil sesekali menikmati makanan khas Thailand yang mereka pesan menggunakan layanan kamar tempat mereka menginap. Ya, mumpung saat ini mereka sedang ada di hotel bintang lima, tak ada salahnya kan buang-buang uang yang sudah didapatkan susah payah yaitu dengan menipu sahabat sendiri?

  

      "Sayang, kamu yakin rencana kita ini tidak pernah ketahuan?" tanya pria itu kepada Mala sambil memangku kepalanya menggunakan kedua tangan. 


      Mala yang masih enggan untuk menggeser kepalanya dari dada suaminya itu pun tersenyum. "Kamu tenang saja. Tara adalah orang yang bodoh. Dia sangat mempercayaiku, sahabatnya saat masih kuliah dulu. Dia bahkan tidak curiga sama sekali, kan?"


      Lelaki itu hanya mendengus. Saat ini sahabat istrinya itu memang belum curiga. Tetapi, entah kenapa dia selalu merasa bahwa setiap kali bertemu suami Tara, seolah-olah dia merasa bahwa Raymond ingin mencongkel matanya, menguliti tubuhnya dan menjemurnya di bawah sinar matahari yang terik.


    Semula, dia tak setuju dengan rencana Mala. Perempuan yang sudah menjadi kekasihnya selama lima tahun. Rencananya konyol dan dia berubah menjadi gadis yang mata duitan sejak memiliki buku diary Tara yang dia ambil dari kamarnya saat Mala datang ke kediaman Lewis. Tapi, sekarang ... dia menjadi takut ketika membayangkan apa akibat dari kebohongan mereka.


     "Turuti saja apa kataku! Ini adalah rencana bagus untuk menghasilkan uang!" kata Mala suatu ketika setelah selesai membaca semua buku diary milik Tara yang berisi tentang masa kecilnya ketika di panti asuhan. Dan beberapa hari kemudian, Mala memaksa dirinya bertemu Tara di sebuah cafe. 


      "A ... apa yang akan terjadi kalau kita ketahuan? Bagaimana kalau dia menjebloskan kita ke penjara?"


     "Jangan jadi lelaki pengecut! Asal kamu pandai ber-akting, kita pasti tidak ketahuan!"


      "Tapi ... bagaimana kalau kita minta maaf sekarang?"


       "Pengecut!" sergah Mala dengan suara yang melengking. Ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Dia kesal sekali dengan Tama, suami sekaligus orang yang ia paksa menjadi Sakti. Lelaki kok pengecut begitu!

   

       ***

       Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang perempuan sedang duduk di sofa dengan tangan dan kaki yang terikat serta mulut yang ditutupi menggunakan lakban berwarna hitam agar dia tidak bisa mengeluarkan suara.


        Sejak membuka matanya tadi, dia tidak tahu apa yang sedang ada di depan matanya. Kepalanya pusing dan beberapa bagian tubuhnya terasa nyeri. Ia ingat sekali terakhir kali dia sedang berada di dalam mobil bersama Tiger namun tiba-tiba sebuah truk menghantam mobilnya hingga masuk ke dalam sungai yang airnya telah mengering.


       Untung saja sabuk pengaman dan juga kantung udara menghalangi kepalanya agar tidak terbentur dashboard. Jika tidak, barangkali saat ini terjadi sesuatu pada kepalanya karena benturan yang terjadi cukup keras yang tiba-tiba datang seperti kilat.


      Virna mengerjapkan matanya. Ia memutar kepala ke sekeliling dan berusaha mengumpulkan kesadarannya kembali. Ini seperti de Javu. Virna merasa dia pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. 


    'Ya, Tuhan! Apakah ini seperti kejadian di Alexandria dulu?'


       Setelah kesadaran Virna kembali terkumpul. Ia melihat sesosok pria yang tubuhnya tergeletak di lantai. Virna mengenali bentuk tubuh itu. Suaminya. Tiger.


      Mmmmhhh! Mmmmhhh! Virna berusaha memanggil suaminya yang masih terbujur di lantai tak sadarkan diri.


    "Tidak perlu membangunkan suamimu. Lihatlah kepalanya berdarah. Dia mungkin sudah mati," ucap seorang pria yang berdiri di belakang Virna. 


      Virna mengangkat kakinya dan menghentakkan ke lantai sekuat tenaga. Tiger tidak mungkin. Tidak mungkin!


      "Kau tidak percaya dia sudah mati?" 


    "Hmmmmmmhhh! Hmmmhhh!! Virna kembali menghentakkan kakinya. Kali ini lebih keras agar suaminya bisa mendengar. 


      Pria yang memakai jaket kulit warna hitam dan celana jeans itu pun mengeluarkan sebuah senapan dari sakunya. "Aku akan memperlihatkan padamu kalau suamimu tercinta sudah pergi ke neraka."


       "Mmmhhhh! Mmmhhhh!"


     "Hahahaha. Kau sudah tak sabar lagi?" tanya pria itu mengarahkan pistol ke kaki Tiger. Dan dalam sekejap mata, ia menembakkan peluru di kaki Tiger. 


       Dor dor dor 


    Suara pistol terdengar dan suaranya memenuhi ruangan itu bersamaan dengan tangis Virna yang pecah. Suaminya tak mungkin mati. Dia pasti sedang tidur. Dan darah yang mengalir ke lantai itu, pasti hanya darah mainan. Ya darah mainan. Ini pasti hanya prank. Tiger tak mungkin mati ... tak mungkin ....



*Bersambung ....

Post a comment

1 Comments

  1. Tiger jangan matiiiiii....

    No...no....no ..nooooo....
    Aku g terimaaaaaaaaaaaaaaa....

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)