Kapan Hamil (Bab 16)

 

Novel online gratis

        Tangisan Virna pecah dan mulutnya yang tertutupi lakban meraung sepeti macan yang kehilangan taringnya. Sekeras apapun dia berusaha berteriak, tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Tiger pun tidak bergerak. Darahnya tercecer di lantai. Merah, semerah cintanya yang tak akan sirna meski itu kematian yang menghadangnya. 


       "Sudah cukup melihat suamimu?" tanya seorang pria dari arah belakang Virna kemudian menutup matanya. Seketika, semuanya menjadi gelap dan kesadaran Virna hilang setelah ia merasakan seseorang membekap hidungnya menggunakan sebuah kain yang telah diberi obat bius dengan dosis yang tinggi.


     ***


     Di depan ruang operasi, Raymond dan Panther sedang mondar mandir dengan wajah cemas. Begitu sampai di sebuah gedung kosong tak berpenghuni, hanya ada Tiger yang sedang tergeletak tak berdaya. Sementara Virna, sudah hilang entah dibawa ke mana. 


     "Daripada kalian hanya mondar-mandir, lebih baik duduk dan berdoa. Lantai rumah sakit sudah licin tak perlu lagi ditambahi!" ucap Tara jengkel karena melihat dua lelaki di depannya itu. Dia kesal sekali lantaran urusan suaminya selalu melibatkan Virna. Dan lagi-lagi yang menjadi korban adalah saudarinya. Belum hilang ingatannya atas penculikan Virna tempo hari di Alexandria dan sekarang harus terulang kembali.


     Tanpa berkata-kata, Raymond pun langsung duduk karena hal yang menakutkan baginya di dunia ini adalah kemarahan istrinya sendiri. 


     "Aku tidak tahu bagaimana caramu mencari tahu di mana Mbak Virna. Kalau dalam waktu 24 jam kamu tidak bisa membawanya pulang, kamu tidak boleh bertemu dengan anak-anak!" ancam Tara yang membuat Raymond langsung mendekati istrinya. 

     

    "Sayang, kau bercanda, kan?"

    

    "Tidak! Aku serius. Dan sangat sangat se ri us!"

     "Kau sungguh marah padaku?"

     

     "Memangnya pada siapa lagi aku harus marah? Tiger? Panther? Atau mayat-mayat yang ada di ruang jenazah?"  


      "Aku berjanji padamu. Virna pasti akan kubawa pulang dengan utuh," balas Raymond yang langsung memegang tangan istrinya. Ditatapnya perempuan yang wajahnya tegang semenjak tahu jika Virna dan Tiger mengalami kecelakaan mobil saat hendak menuju rumah sakit. 


     "Kamu kebanyakan janji! Soal Sakti saja tak pernah beres!" Tara memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia sedang tak ingin dirayu oleh suaminya. Apalagi diberi janji-janji yang belum terbukti. 


      "Hei ...." Raymond langsung melingkarkan tangannya yang kekar di perut istrinya. Menyandarkan kepalanya di bahu perempuan yang bibirnya sedang monyong seperti ikan arowana. "Kalau kau marah, jangan berpaling dariku. Oke?"


       "Memang begitu, kan kalau perempuan marah? Diam dan berpaling. Lebih baik melihat tembok daripada suaminya!"


     Dengan secepat kilat Raymond memutar tubuh Tara kemudian menenggelamkan kepala wanita ke dalam dadanya. Menciumi kepalanya. "Jika suamimu adalah aku, jangan pernah diam jika marah. Dan jangan pernah pernah berpaling atau kau akan merasakan sendiri akibatnya."


     "Apa?"


      "Selamanya aku akan memelukmu dan tak akan melepaskanmu."


      Panther tertegun mendengar ucapan Raymond ketika merayu istrinya. Laki-laki memang luar biasa kalau sudah bicara. Jangan hati wanita. Manusia pun bisa dijadikan patung seperti Roro Jonggrang.



      Sabar, Panther. Inilah nasib seorang jomlo. Deritanya tiada akhir! Keluh Panther yang duduk tak jauh dari sepasang suami istri yang tak akan pernah habis sampai ada ladang gandum yang dihujani oleh coklat yang manis.


      ***



     Burung-burung bercicit ketika Virna perlahan membuka matanya. Ia merasakan hawa dingin yang perlahan-lahan menyusup ke dalam selimutnya. Dingin. Ia merasa asing dan sesuatu yang aneh ada di sekitarnya.


     "Selamat pagi, Karlina," ucap seorang pria yang telah berpakaian rapi. Ia berdiri di dekat jendela dan melihat Virna dengan senyumnya yang paling sempurna dan menawan. 


      Karlina?


    Virna terhenyak dan langsung bangun dari tempat tidur dan melihat pria yang sedang menatapnya itu. Dia bukan Tiger, suaminya. Dan ini bukan kamar mereka. Kamar ini terlalu mewah dengan perabotan serba warna putih dan emas bergaya Italia. 


    "Di mana ini? Dan di mana suamiku?" tanya Virna dengan wajah yang tegang sekaligus ngeri dengan sepasang mata yang terlihat ganjil sedang melihatnya dan lerlihat mendekat. 


     "Tenanglah Karlina, sayang. Sekarang tak ada lagi yang bisa memisahkan kita," jawab Syam sambil duduk di tepi ranjang. Perlahan tangan pria itu terangkat dan menyentuh pipi Virna yang pucat. "Kau semakin cantik saja. Sarapan akan segera datang. Semua makanan kesukaanmu telah disiapkan."


      "Siapa Karlina? Aku bukan Karlina? Di mana suamiku?"


      "Tenanglah, sayang. Lelaki itu sudah mati. Sekarang, tidak ada lagi yang menghalangi cinta kita."


'Ya Tuhan, dosa apa aku di masa lalu sampai bertemu dengan pria psyco yang manakutkan ini?'

     ***


     Virna hanya memandangi makanannya sejak tadi. Dia tak menyentuh sedikit pun karena yang ada di pikirannya hanya Tiger. Dia ingin tahu bagaiman keadaan suaminya itu. Masih hiduplah dia? Atau ... tidak! Virna menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia tak boleh berpikir negatif tentang suaminya. Lelaki itu pasti masih hidup. Batin Virna yakin yang sejak tadi tak henti-hentinya memanjatkan doa.


     "Di mana ini?" tanya Virna pada kepala pelayan yang sejak tadi menungguinya dan berdiri tegak di samping Rempang tidur. 


         "Sekarang Anda ada di pulau pribadi Tn. Syam, Nyonya. Tolong makanlah sarapan Anda setelah itu minum obat. Luka-luka Anda akan sulit kering jika Anda tidak mau minum obat."


        "Aku bukan Nyonyamu. Dan aku tidak kenal siapa itu Syam. Dan bajuku, siapa yang menggantinya?"


         "Pelayan, Nyonya. Tolong makan sarapan Anda. Jika tidak, kami semua akan kena marah."


        Virna melihat ke arah pelayan paruh baya itu yang sedang mengenakan appron warna putih berenda. "Tolong singkirkan makanan ini. Aku tidak selera makan." 


        "Tapi, Nyonya ...."


         Belum sempat pelayan itu melanjutkan kalimatnya, suara pintu terbuka pun terdengar dan seketika, bulu-bulu kepala pelayan itu merinding. Syam yang mengenakan pakaian serba putih melangkah mendekati ranjang. "Kenapa kau belum sarapan, sayang? Apakah masakannya tidak enak?" tanya pria itu kemudian duduk di sebelah kaki Virna. 


         "Anu, Tn. Syam. Nyonya tidak mau makan."


         Syam pun menghela napas perlahan lalu berdiri mendekati kepala pelayan dan menampar wajahnya. "Ngurus begini saja tidak becus! Percuma aku membayarmu mahal-mahal!"


        "Maaf, Tn. Syam. Saya akan bekerja lebih keras lagi."


         "Lebih baik begitu. Aku tidak peduli cara apa yang akan kamu lakukan! Karlina harus makan dan minum obatnya!" 


        "Baik," balas kepala pelayan wanita itu dengan suara gemetar. Virna yang melihat kejadian itu pun merinding. Pria itu sungguh kasar dan sorot matanya yang dingin, membuat jantung Virna hampir saja berhenti berdetak.


       "Sayang ...," ucap Syam membelai pipi Virna yang dingin. "Aku akan kembali lagi setelah pekerjaanku selesai. Kita akan makan siang bersama. Oke?"


        "Tidak perlu!" Virna menyingkirkan tangan Syam dengan kasar. "Lepaskan aku atau suamiku akan membunuhmu!"


       Suamiku? Mendengar kata-kata itu Syam menjadi geram. Darahnya mendidih. Matanya merah dan rahangnya mengeras. Dengan cepat ia mencengkeram leher Virna hingga wanita itu kesulitan bernapas dan kesakitan. 


       "Suamimu adalah aku! Tidak ada yang lain lagi!"


     ***


     "Namanya Syam Hua. Saat ini tinggal di pulau Pangkil. Ini adalah almarhum istrinya," jelas Panther ketika mereka sedang menunggu Tiger di ruang rawat inap. Peluru di kakinya berhasil dikeluarkan dan pendarahan yang sempat menyumbat kepalanya telah ditangani. Kini hanya perlu menunggu lelaki itu siuman agar dokter bisa mengetahui apakah ada yang salah dengan otaknya atau tidak.


     Tara mengambil lembaran foto yang ada di atas meja. "Kamu yakin ini fotonya, Pan? Mirip sekali dengan Mbak Virna."


      "Betul. Istrinya bernama Karlina dan sudah meninggal tiga bulan lalu karena kecelakaan mobil."


      Raymond yang menopang dagunya menggunakan kedua tangannya pun terlihat serius. Syam Hua? Bukankah pria itu yang beberapa waktu lalu menyekap Tiger dan menyuntikkan virus ke dalam tubuh sahabatnya itu? 


      "Bukankah dia pemilik perusahaan farmasi di Guang Zhou?"


     "Betul, Bos. Dia yang beberapa waktu lalu menawarkan kerjasama dengan perusahaan kita."


     "Cepat nyalakan televisi. Virasatku buruk tentang ini."


    Panther langsung menyahut remote televisi yang ada di atas meja dan menyalakannya. Dihidupkannya tivi channel berita internasional.


       "Selamat malam. Berita menggemparkan datang dari salah satu wilayah yang ada di Tiongkok bahwa ratusan orang telah ditemukan meninggal secara mendadak. Penyebabnya, diduga oleh menyebarnya virus. Namun, tim medis masih menyelidiki virus tersebut dan mengisolasi wilayah yang terdapat korban meninggal. Demikian berita kali ini."


      "Jangan bilang ini soal virus lagi?" sentak Tara yang hampir saja tak percaya dengan berita yang barusan dia dengar. 


      B"Benar, istriku," jawab Raymond dengan wajah tegang kemudian berdiri dan mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. 


     ***


       Sementara itu di pulau Pangkil, Virna sedang mondar-mandir di kamarnya. Sesekali ia melihat keluar jendela dan yang dilihatnya hanya lautan lepas dengan ombak yang bergulung-gulung. Belum lagi para bodyguard yang berpakaian serba hitam yang mengelilingi rumah yang sudah setinggi menara tersebut. 


        "Bagaimana pun caranya, aku harus segera keluar dari sini. Aku lebih baik mati tenggelam di lautan daripada harus bersama dengan pria sinting!" kata Virna pada dirinya sendiri sambil mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan kain untuk menuruni jendela kamarnya.


       Akankah Virna berhasil melarikan diri? Apakah Tiger akan siuman tanpa hilang ingatan? Dan apakah Raymond berhasil menghentikan penyebaran virus yang sedang melanda di sebuah daerah yang ada di Tiongkok? 


Note Author: Terima kasih kepada semua pembaca yang sudah sabar menanti novel ini update. Terima kasih untuk Mbak Yuni, Mami, dan pembaca lain yang aku akan berusaha menghafal nama kalian satu persatu. I love you all ...

Post a comment

3 Comments

  1. Alhamdulillah.... Akhirnya Tiger bisa tertolong....


    Btw mas Raymond, selamatkan mbak virna juga mas.....

    ReplyDelete
  2. Yeeeeyyy.... Ada nama aku di notice makasih byk ya otor kesayangan, idola dan guru akuuu....😘😘😘😘

    ReplyDelete
  3. Syuka syuka dan syukaaaa sama ceritamu kak...

    Romance, thriller, joke dan scientificnya dapet semua....


    Kereeeeeeen....
    👍👍👍😍😍😍😍💕💕💕

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)