Kawin Lari (Bab 1)

 

Novel online gratis


     "Ini bukan jaman Siti Nurbaya, Ma!" protes Cleo pada Mama nya, Tara Lewis. Mereka sedang duduk di sofa yang

Sama sedangkan Raymond ada di sofa yang lain.


     "Kalau mau protes, sama Papa, tuh! Bukan sama Mama!" balas Tara tak mau kalah. Lagipula, yang menjodohkan dirinya dengan salah satu anak konglomerat dari negeri kanguru bukan dirinya, kok. Melainkan suaminya, Raymond Rowan! Jadi, kalau mau protes ya ke sana saja. Jangan dengan dia.


     "Pokoknya Cleo akan kawin lari kalau dipaksa menikahi pria yang gak Cleo kenal!" balas Cleopatra gemas sambil melotot ke arah Mama sekaligus musuh bebuyutannya sejak masih bayi. Ibu dan anak itu memang susah akur!


      "Terserah. Malah bagus. Uang Mama bakalan utuh karena ratu boros bakalan kawin lari sama pacarnya."


      "Mama jahat!" jawab Cleopatra, gadis berusia 22 tahun sekaligus anak paling mbontot dari keluarga Rowan pasalnya dialah anak yang terakhir kali lahir setelah tiga saudara kembarnya yaitu; Ares, Hermes dan Ades.


      "Biarin!" balas Tara cuek. Karena tak terima dengan jawaban Mama nya, Cleopatra pun mendekati Raymond yang sejak tadi sibuk dengan majalah bisnis yang ada di tangannya. 


      "Paaa ...."


      Mendengar suara Cleo yang manja, Tara pun mencibir. "Kalau sama Papa saja manja seperti anak kucing. Coba sama Mama, kayak macan!"


      "Tuh, Pah. Mama sirik banget kan sama Cleo?" kata Cleo manja dan menyenderkan kepalanya di bahu Raymond.


      "What's going on, Sweety?" Raymond meletakkan majalah itu di atas meja kemudian melepaskan kaca mata yang dikenakannya. Dirangkulnya putri kesayangannya itu kemudian melayangkan bibirnya ke kepala Cleo yang rambutnya wangi seperti taman yang segar di pagi hari.


      "Papa bercanda, kan, soal perjodohan itu?"


"Tidak. Papa serius."


      "Tapi Cleo gak mau nikah sama orang asing, Pa. Papa kan tahu Cleo sudah punya pacar."


"Pacaran kan gak harus nikah," sahut Raymond mengelus rambut Cleopatra yang halus. Meskipun rambutnya pendek, sama sekali tidak mengurangi kecantikan dirinya. Tubuh tinggi semampai, body meliuk bagai gitar spanyol, dan yang tak kalah penting adalah perpaduan sempurna antara wajah Tara dan Raymond. Kecantikan paripurna seorang Cleopatra!


      Cleopatra memonyongkan bibirnya yang penuh. "Tapi Cleo gak mau menikah tanpa pacaran. Cleo tidak mau membeli kucing dalam karung!"


      "Kan tinggal karungnya dibuka, lihat isinya. Gampang kan?!" Tara ikut berbicara saking gemasnya. Dia memang senang sekali menggoda putrinya itu. Sejak ia menikah dengan Sakti alias Raymond Rowan, hanya Cleopatra yang mampu mengalihkan perhatian suaminya dari dirinya. Dan sejak saat itulah permusuhan diantara mereka dimulai. 


       "Kalau begitu, Mama saja nikah sama bule itu!"


      Tara geleng-geleng kepala kemudian berdiri dan mendekati Cleopatra dan memegangi kepala suaminya. "Dengar, Cleo. Mama sudah menikah dengan pria yang sangat sempurna," katanya kemudian lalu melumat bibir suaminya dengan mesra di hadapan putrinya.


      "Howek! Mama benar-benar tidak tahu malu! Tidak ingat umur!" Hentak Cleo jengkel kemudian pergi dari ruang keluarga mereka yang masih sama dari tahun ke tahun. 


      Raymond pun tersenyum kemudian memeluk istrinya yang langsung duduk di atas pahanya. "Kau senang sekali menggoda putrimu."


      "Kamu yang terlalu memanjakannya," kata Tara tak terima. Meskipun usianya kini sudah lebih dari 50 tahun, di hadapan suaminya, dia tetaplah Rantara yang manja dan kekanakan. 


      "Karena dia seperti mu!" Raymond memukul bokong istrinya yang masih kencang dan berisi. "Selalu ingin dimanja dan diperhatikan," lanjutnya lagi sembari membelai bibir istrinya yang kemerahan lalu menangkup nya ke dalam mulutnya. 


       Wanita yang rambutnya sudah terlihat abu-abu itu pun melepaskan tautan bibir suaminya. "Aku tidak hanya ingin dimanja dan diperhatikan. Aku ingin yang lain."


       "Apa?" tanya Raymond melihat wajah istrinya dengan tatapan berbinar. Pria itu tentu tahu apa yang diinginkan istrinya.


      "Bawa aku ke kamar," bisik Tara manja dan dengan suara yang sudah berat. Tanpa menunggu lagi, lelaki itu membopong istrinya ke kamar. Dan saat Cleo melihat mereka bermesraan seperti itu, gadis itu pun memicingkan mata dan berteriak agar orangtuanya bisa mendengar.


      "Ya, Tuhan! Ampunilah dosa Mama dan Papa yang selalu bermesraan di depan anaknya! Aamiin!" 


       "Kau jadi kawin lari dengan pacar mu, Cleo?" teriak Tara yang melihat putrinya menyeret koper kecil di tangannya.


"Bukan urusan Mama!"


       "Oke. Lakukan sesuka mu. Jangan pulang ke rumah kalau kamu dicampakkan Damian!" teriak Tara yang suara menghilang di balik pintu.


***


       Mini cooper countryman berwarna hitam yang dikendarai oleh Cleo melaju di jalanan kota Jakarta yang macet dan panas. Sesekali Cleo membunyikan klakson ketika lampu merah telah menjadi hijau namun mobil dan juga motor yang ada di depannya tak kunjung berjalan maju. 


Cleo cantik! Cleo sexy! Cleo manis! 

Cleo cantik! Cleo sexy! Cleo manis!


       Ringtone itu terus saja berbunyi karena Cleo masih mengabaikan telepon saat melihat nama di layar teleponnya. Hermes. Kakak kedua yang lahir beberapa menit lebih awal darinya.


Cleo cantik! Cleo sexy! Cleo manis!

Cleo cantik! Cleo sexy! Cleo manis!


        Arrgghhh! Suara itu masih saja menggema dari dalam tas Cleo. Membuatnya jengkel dan mau tak mau, dengan terpaksa dia meraih ponsel dari dalam tas Prada dan mengangkatnya. "What?" tanya Cleo dengan nada tinggi yang membuat Hermes langsung menutup telinganya.


¹"Yспокойся, моя сестра," balas Hermes menggunakan bahasa Slavia dengan lancar dan diikuti tawa yang renyah.


²"Я повешу трубку!"


       "Oke. Oke. Jangan marah. Posisi di mana?" 


        Cleo menyunggingkan bibirnya yang sebelah kanan dan melihat ke kaca spion yang ada di hadapannya. "Cepat katakan apa mau mu atau akan aku tutup!"


        Suara helaan napas Hermes terdengar berat. "Kau sudah kabur dari rumah? Hahaha."


"HERMEEEEEESSSSSS!!!" Belum selesai Cleo berteriak, Hermes yang sedang ada di Rusia, suara napasnya hilang dari pendengarannya. Dia benci sekali dengan kakak yang usianya hanya berbeda beberapa jam itu. Selalu jahil dan suka menggodanya. Kalau Cleo menangis, Hermes akan tertawa. Kalau Cleo tertawa, Hermes akan membuatnya menangis. 


       "Grrrrr. Tunggu pembalasan ku, Hermes!" ucap Cleo greget membanting ponselnya ke kursi dan kembali fokus ke jalanan. 


Cleo cantik! Cleo sexy! Cleo manis!


         Sekali lagi ponsel Cleo berdering. Secepat kilat ia mengangkat tanpa melihat siapa yang sedang menghubunginya. "Hermes! Sekali lagi kamu menelepon ku, akan aku kutuk kamu menjadi curut yang menderita di got jalanan!"


"Ehem!" 


        Suara deheman dari seberang telepon membuat Cleo salah tingkah. Dia langsung memasang hands free ke telinganya agar bisa lebih leluasa saat bicara. 


"Cleo?" 


       Cleo langsung menelan ludah karena mengenali suara siapa itu. Ares. Kakak pertamanya. 


        "Ya. Maafkan aku. Aku kira Hermes yang sedang menelepon."


          "Oke. Kau yakin akan kawin lari dengan pacar mu? Kau tahu, kan? Kami tidak pernah menyetujui hubungan kalian?" tanya Ares dengan nada yang tenang, dewasa dan itulah yang membuat Cleo segan terhadapnya. Sejak kecil, Ares lah yang selalu membantu Cleo melindunginya dari kejahilan Hermes dan juga kawan-kawan di sekolahnya. Pria itu memang tak terlalu banyak bicara seperti Papa nya, tapi, justru itu lah yang membuat Cleo takut. Pepatah lama mengatakan, laut yang tenang menghanyutkan!


        "Ya. Aku tahu. Tapi, aku mencintainya, Res."


          "Kau tahu, kan? Cinta bukan segalanya?"


         "Itu buat mu. Untuk ku, cinta adalah segalanya. Aku tidak bisa hidup tanpa Damian! Kami sudah lama pacaran dan aku tidak mau begitu saja meninggalkan Damian dan menikah dengan orang yang tidak aku kenal!"


"Oke. Berhati-hatilah kalau kau mau menyusul Damian ke Denpasar. Kalau butuh sesuatu, kau bisa menghubungi ku. Punya uang cash?"


        "Ya. By the way, thanks ya, Res."


"Syukurlah. Mama baru saja memblokir semua kartu kredit dan juga debit milik mu."


         "WHAAAAAAAATTTTTT?!"



Catatan kaki:


¹ Uspokoysya, moya sestra (Tenanglah, adikku)


² YA poveshu trubku (Akan ku tutup teleponnya)


Catatan Author: Mohon dimaklumi jika update semua novelku saat ini lambat, ya.😂mudah-mudahan tahun depan bisa pensiun dari pekerjaan dan jadi full time writers. Aamiin




Post a comment

1 Comments

  1. Keren... Aku dapat ilmu baru nih.....


    Syukaaaaa dengan cerita kk yg penuh kejutan , khas bgt....

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)