Kawin Lari (Bab 2)

 

Novel online gratis


     Cleopatra yang sedang mengenakan rok mini berwarna hitam dan juga blus tipis berwarna merah tua tengah menaruh koper miliknya di bagasi kabin yang ada di atas kursi.


      Setelah selesai, ia pun hendak melangkah ke arah kursi yang ada di dekat jendela namun terhalangi oleh kaki panjang seorang pria yang duduk di sebelahnya. "Permisi? Tolong geser sedikit." Suara nyaring Cleo ternyata tidak mampu membuat pria yang sedang membaca majalah trubus dengan mengenakan kacamata hitam itu menggeser kakinya. Dia justru diam saja dan membolak-balikkan majalah tanpa peduli dengan gadis yang ada di hadapannya.


        "Huuufft. Mas, Om, Kakak, Pakde, Kakek, tolong geser kakinya sedikit biar saya bisa lewat, ya?" kata Cleo lagi dengan jengkel. Habisnya, dia kira pesawat ini nenek moyangnya?


        Lelaki dengan rambut hitam yang terbelah tengah itu pun membuka kacamata. Bola mata yang kebiruan akhirnya terlihat. Indah, menakjubkan layaknya lautan lepas.

Lelaki itu memandangi Cleo dengan tatapan bertanya dan menyipitkan mata indahnya. 


       Dihhh! Ganteng-ganteng budek! Batin Cleopatra jengkel setengah mati. Dasar bule! Kalau gak.bisa bahasa Indonesia, bilang, dong!


      "Ge se r ka ki mu. O ke? Lift your leg, please," perintah Cleo dengan kata yang sepenggal-sepenggal. Lagipula, Cleo merasa ia tak perlu bersopan santun terhadap pemuda yang baru pertama kali bertemu saja sudah bikin keki! Ganteng sih ganteng. Body oke, kaki panjang, tapi kalau gak ngerti bahasa manusia, buat apa, dong? 


         Lelaki itu pun mengamati Cleopatra dari ujung kaki sampai ujung kepala. Bahenol, putih, mulus, pokoknya bohay! Bodynya meliuk-liuk sudah seperti jalanan menuju puncak! Belum lagi aroma parfum dari tubuhnya. Wangi! Sudah kayak kembang setaman.


        "Sudah selesai melihatnya? Am I sexy? Gorgeous?" tanya Cleo dengan dua tangan yang ada di kedua pinggangnya yang ramping. Sikapnya pongah dan percaya diri. Cleo yakin sekali bahwa lelaki itu terpesona padanya dan belum pernah melihat gadis secantik Cleopatra.


        "Jelek!" ucap pria itu menggunakan bahasa Indonesia yang terdengar fasih. Sama sekali tidak ada logat kebule-buleannya.


        Jelek? Sialan! Ingin rasanya Cleo mencakar-cakar wajah pemuda yang ada di hadapannya itu.


        "Cihh! Minggir! Go away!" balas Cleo saking kesalnya sambil melangkahi kaki panjang Briand Oliver. 


        "Ternyata orang timur sangat arogan," kata Briand kemudian mengenakan kacamata kembali.


       "What?! Hei, Mr. Kaki Panjang! You yang gak mau menggeser kaki. Oke? This is not your private jet!" sahut Cleo mengangkat jari tengahnya kemudian duduk dengan sebal. Mimpi buruk apa semalam sampai bertemu dengan pria bule rasa lokal yang menyebalkan!


***


       Cleopatra baru saja menyetir mobilnya keluar bandara. Sejak Damian dipindah tugaskan ke Denpasar, Cleo lah yang kerap bolak-balik untuk menemui pacarnya itu karena ekonomi Cleo lebih mumpuni bolak balik Jakarta - Denpasar dibandingkan pria keturunan Manado dan juga Jawa itu.


         "Pulang kerja jam berapa? Aku sudah sampai di Denpasar. Aku kabur dari rumah." Cleo mengirimkan pesan kepada Damian. Sambil menyetir, Cleo terus menunggu balasan Damian yang tak kunjung datang.


        Ia tak sabar lagi ingin bertemu kekasihnya itu. Kalau perlu, sekalian kawin lari ke luar negeri. Uang cash Cleo memang tak cukup untuk membeli tiket. Tetapi mobilnya, tentu lebih dari cukup. Amerika, Canada, Australia, ke mana pun tak masalah asalkan dirinya bisa bersama dengan Damian. Lebih baik kabur daripada dipaksa nikah dengan pria asing yang sama sekali tidak ia kenal.


        Sesekali Cleo melirik ponsel yang ia letakkan di dasbor. Tidak ada balasan. Ia pun mendengus jengkel karena belakangan ini Damian sulit sekali dihubungi. Alasannya macam-macam. Sibuk lah, lembur lah, capek lah. Tetapi karena cinta, mau tak mau Cleo harus memaklumi meski orangtua dan saudara-saudaranya tak ada yang merestui.


       Cleo melihat lagi ponselnya meski tak ada tanda-tanda pesan masuk. Ia mencari-cari SPBU untuk pemberhentian agar lebih konsentrasi lagi saat menghubungi Damian.


       Ketika mobil sudah terparkir aman di SPBU, Cleopatra kembali mencoba menelepon Damian. 


      Nomor yang Anda hubungi, sedang tidak aktif. Tolong tinggalkan pesan setelah bunyi klik ....


        Cleopatra menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya dari mulut. Dipijatnya kedua peluk mata lalu memandangi keadaan sekitar. Panas, terlihat berdebu, dan beberapa pedagang asongan menjajakan barang dagangan mereka kepada pengemudi yang sedang berhenti untuk mengisi bahan bakar. 


       "Oke. Aku maklum kalau kamu sibuk. Aku. langsung ke rumah kontrakan kamu kalau gitu."  Sekali lagi Cleopatra mengirim pesan lalu perlahan melajukan mobilnya di kota Denpasar.


       Di dalam keluarga, dia adalah tuan putri. Tak mau mengalah apalagi pengertian. Tetapi, dengan Damian beda cerita. Cleo seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Ya, itulah cinta, gak logis dan kerap mengabaikan akal sehat hanya demi sebuah kata. Cinta.


        Mobil Cleo terparkir rapi di pinggir jalan. Tepatnya di depan rumah kontrakan yang ia sewa untuk kekasihnya. Mewah dan tentu saja cukup besar jika dihuni seorang diri. Sebelum membuka gerbang yang terbuat dari besi, Cleo mengecek kembali ponselnya. Tak ada balasan pesan. Dan status pesan yang tadi dikirim Damian pun masih berstatus menunggu.


         Dengan langkah perlahan, Cleo pun membuka gerbang dan kedatangannya langsung disambut oleh penjaga yang ia bayar setiap bulannya. "Mbak Cleo? Kok gak tidak bilang sama Bapak kalau mau datang?" 


         "Sejak kapan Cleo harus bilang kalau mau datang, Pak?" jawab Cleopatra kesal. Habisnya, bukannya ngucapin selamat sore, malam, atau pagi, malah bicara hal lain. Terserah Cleo dong mau datang kapan saja!


"Damian di rumah?"


        "Anu ... Mbak. Itu, lho."


         "Anu apa? Itu apa? Kalau ngomong itu yang jelas dong, Pak!" tanya Cleo jengkel karena penjaga itu menjawab terbata-bata. 


        "Anu ... Mbak?"


"Terserah Bapak, deh!" sahut Cleo meledak-ledak lalu langsung menuju rumah begitu saja. Dia tak peduli penjaga tersebut membuntuti dirinya dan berusaha mencegahnya.


        Cleo berhenti di ambang pintu begitu mendengar suara seorang perempuan yang asing di telinganya. Di sisi lain, ia mengenali suara pria itu. Damian.


          Dengan wajah garang Cleopatra membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Dan betapa kagetnya Cleopatra melihat apa yang dia lihat. Pria yang selama ini dia cintai sedang bermesraan dengan perempuan lain.


          "Cleo?" ucap Damian begitu melihat kekasihnya itu dan berusaha mendekat dengan tubuh setengah telanjang. Namun Cleo berjalan mundur. Ia tak ingin berdekatan dengan Damian, apalagi berbicara dengan lelaki itu. Inikah rasanya dikhianati? Pikir Cleo dengan dada yang berdenyut nyeri.


*Bersambung ....


Catatan Author ... terima kasih banyak untuk pembaca setia yang sudi membaca karya Author satu ini yang gak konsisten dan updatenya lama. 





Post a comment

1 Comments

  1. Ya ampun cleo kasian skali kamu
    Cinta sucimu dikhianati...

    Sudah...
    Buang saja damian...

    Ayo cari cowok.lain yg lbh menjanjikan dan setia...

    Eh itu tadi ada bryan oliver...
    Sama dia aja cle...

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)