Suamiku Dingin (Bab 10)

 

Novel gratis

"Hmmmphh! Dasar pria tidak tahu malu!" geram Keyla yang menaruh kedua tangannya di pinggang. Matanya melotot ke arah Stevan saking kesalnya. 


"Sebentar lagi kita akan menikah."


"YA TUHAN!!!" erang Keyla sambil menggerakkan giginya. Kini, ia tidak peduli lagi dengan Stevan dan buru-buru mengganti rok dengan celana kulot. Terserah kalau memang pria itu ingin melihat dirinya ganti baju!


Keyla langsung keluar dari kamar mandi begitu selai mengganti pakaian. Suara ponselnya terdengar jelas dan cepat-cepat ia mengangkatnya. 


"Halo? Sampai mana, Bim?"


"Di depan, Beib. Bener ini, kan, rumhanya? Bukan penjara?"


"Hahaha! Tunggu di sana, ya. Biar aku jemput."


"Oke."


Keyla melempar ponselnya ke atas tempat tidur kemudian berlari menuju pintu namun langkahnya terhenti oleh panggilan Stevan. "Tunggu!"


"What?"


"Akan aku temani," jawab Stevan dengan langkah pelan namun terlihat berwibawa seperti biasanya.


"Terserah!" Keyla melanjutkan perjalanannya untuk menyambut Bima sementara Stevan berjalan di belakang gadis itu dengan perasaan yang tak senang. Berani-beraninya Keyla, tunangannya, bertemu dengan mantan kekasihnya di rumahnya sendiri secara terang-terangan.


Stevan membuka pintu gerbang dan sosok pria berbadan tak terlalu tinggi dengan kulit kuning langsat khas Indonesia pun muncul.


"Hai, Beb!" sapa Bima ketika melihat Keyla berdiri di belakang Stevan. Pria itu langsung memeluk mantan kekasihnya dan cipika cipiki. 


"Hai. Selamat datang!" Keyla menepuk punggung Bima dan mengajaknya berjalan mendekati rumah. Sementara Stevan, diabaikan begitu saja. Dianggap sebagai batu kerikil yang tak terlihat jika tidak sedang menundukkan kepala.


"Aku kira ini rumah hantu. Ternyata dalamnya seperti istana," celetuk Bima yang sama sekali tak sadar kalau pria yang berjalan di belakangnya tengah mengawasinya dan siap untuk menyeretnya dan menggantung tubuhnya di pohon tomat!


Keyla mengiyakan celetukan Bima dan terkekeh. Sering putus nyambung selama pacaran, membuat mereka seperti teman, sahabat, dan lupa kalau beberapa hari lalu, Keyla dan Bima bertengkar hebat.


"Minum apa, Bim?" tanya Keyla begitu mereka bertiga sampai di gazebo. Tempat di mana Keyla pernah melihat Stevan tertawa dan terlihat mesra dengan perempuan lain. 


Karena mengetahui gelagat Stevan yang terlihat marah terbakar cemburu, Keyla sengaja merangkul pundak Bima padahal tahu kalau mata Stevan tak pernah lepas dari memandangi mereka. 


Wuuuu. Sukurin! Memang, enak?! Keyla terkekeh dalam hati saat menoleh ke arah Stevan yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Sementara Bima yang sudah biasa bersikap cuek, ia sama sekali tak peduli dengan kehadiran tunangan mantan kekasihnya itu. Toh, dia ke sini untuk Keyla. Bukan yang lain!


"Beb, aku kangen kamu," ucap Bima tiba-tiba yang membuat suasana menjadi canggung. Bukan Keyla yang canggung. Melainkan Stevan. Ia langsung mendekati Bima dan menarik kerah bajunya tanpa bicara. 


Kangen? Rasakan ini! Batin Stevan sambil melayangkan pukulan pada Bima hingga pria pria itu jatuh tersungkur.


"Steve?!" teriak Keyla sambil menarik tubuh pria itu agar melepaskan Bima yang tak henti-hentinya dipukul pada wajahnya. 


Keyla memukuli punggung Stevan dengan sekuat tenaga karena Bima langsung kalah telak. Ia tak pandai berkelahi dan tubuhnya tak begitu berotot layaknya tubuh Stevan. "Apa yang kamu lakukan? Lepaskan Bima!"


"Keyla, siapa lelaki gila ini?" tanya Bima terengah. Pipinya bonyok dan sudut bibirnya berdarah. Stevan berhenti memukul dan melihat ke arah Keyla yang wajahnya panik. Lelaki itu sangat ingin tahu jawaban apa yang akan diberikan oleh Keyla.


Siapa Stevan? Haruskan aku menjawabnya? Batin gadis itu bimbang. Ia menatap mata Stevan yang tak bisa melepaskan pandangan darinya. Seolah-olah pria itu berkata, "Bilang lah padanya aku adalah lelaki mu. Tunangan mu. Dan sebentar lagi akan menjadi suami mu."


"Emmm ... anu ...." Keyla menjawab ragu sementara Stevan dan Bima melihat ke arahnya. Menunggu jawaban yang keluar dari bibir gadis itu. 


Stevan mengembuskan napasnya. Ia menatap tajam ke arah Keyla saking tak sabarnya menunggu kalimat yang akan diucapkan oleh tunangannya. "Aku calon calon suaminya! Kami akan segera menikah!" kata Stevan yang menarik tubuh Keyla ke dalam pelukannya.


Sedangkan Bima, hampir tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Menikah? Keyla? Tidak! Pasti telinganya rusak. "Beib? Dia bohong, kan? Dia pasti bercanda, kan?" tanya Bima tak terima. Biasanya, mereka memang sering putus nyambung putus nyambung. Dan Keyla lah yang menghubungi dia terlebih dahulu dan meminta untuk balikan. Tapi, sekarang? 


***


Bima pulang dengan kekecewaan, sementara Keyla yang sedang menyiapkan makan siang tak memikirkan apa yang dirasakan oleh mantan kekasihnya itu. Mantan adalah mantan. Tak perlu dikenang. Iya, kan?!


Lagipula, Keyla benar-benar tak memiliki perasaan apapun lagi terhadap pria itu.


"Maafkan aku, Bim. Apa yang dia katakan benar. Sebentar lagi, kami akan menikah," kata Keyla sesaat sebelum lelaki itu pergi meninggalkan rumah Stevan dengan wajah yang ditekuk.


" Apa kamu mau mencobanya?" Keyla menawarkan pesto buatannya pada Stevan yang sedang duduk. Meskipun tak banyak bicara, lelaki itu terus mengamati gerak-gerik gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


Stevan hanya menjawab dengan gelengan kepala. Sorot matanya yang bening, melihat betapa indahnya tubuh gadis. Apalagi ketika mulutnya mulai mengunyah makanan. Stevan tak sabar lagi ingin melahap gadis yang duduk di hadapannya itu.


"Kenapa setiap hari kamu selalu makan makanan yang sama? Kata Bibi kamu sering memasak resep yang kubuat?" tanya Keyla sambil mengunyah makanan di mulutnya. Sebagai seorang youtuber yang memiliki minat di bidang kuliner, Keyla telah sering mengunggah video memasak dan juga berbagi resep dengan para penggemarnya.


"Makanlah." Stevan menjawab singkat dengan memukul piring Keyla menggunakan garpu di tangan kirinya. "Jangan bicara saat mulut mu penuh dengan makanan."


"Bukankah makan sambil ngobrol adalah hal yang romantis? Dengan wanita lain kamu bisa tertawa. Denganku? Hmmm ... sepertinya kamu terpaksa menyutujui pertunangan kita," sahut Keyla kesal yang langsung ingat saat pria itu tertawa dengan seorang wanita di gazebo tempo hari.


Lelaki itu hanya diam dan tidak bereaksi. Mulutnya sedang disumpal dada ayam dan juga mix salad yang telah disiapkan oleh Bibi. Sementara Keyla, masih saja mencari-cari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan.


"Siapa wanita kemarin? Kekasih mu? Kalian terlihat sangat dekat? Apa kamu menyukainya? Kalau iya, kenapa mau tunangan dengan ku? Apa Tante Sabrina dan Om Markus memaksa mu?" tanya Keyla dengan rentetan pertanyaan. 


"Teman."


"Teman kok mesra? Kalian bisa tertawa tertawa bersama. Lalu, aku siapa mu? Sepertinya kamu tidak peduli denganku. Tapi dengan teman mu itu sikapmu berbeda," tanya Keyla lagi dengan mulut tersumpal namun Stevan tidak menjawab. Lelaki itu hanya diam saja dengan bibir yang tersenyum tipis. Saat sedang seperti itu, Stevan merasa Keyla adalah seorang anak yang berusia lima tahun. Dia tak akan berhenti bertanya sampai menemukan jawabannya.


 "Hey! Apa kau mengabaikanku?" Keyla bersungut-sungut. Memonyongkan bibirnya hingga nyaris menyentuh hidung. Namun, dasar Stevan. Ia sama sekali tak menggubris dan masih tetap sibuk menghabiskan makan di hadapannya.


"Apakah kalian pernah tidur bersama? Atau setidaknya melakukan french kiss? Kamu terlihat sangat mahir dalam urusan wanita. Ya, pria seperti mu tidak mungkin tidak populer di kalangan para gadis. Aku saja yang bodoh karena mau bertunangan dengan play boy cap kapak sepertimu! Hey, jawablah! Kamu punya mulut, kan?


Mendengar Keyla yang mengoceh tiada henti, Stevan meletakkan sendok dan garpu. Ia menatap Keyla dengan tajam dan wajah yang serius. "Makan lah. Atau aku akan menyuapi mu dengan mulut ku!"


Deg! Keyla menjatuhkan alat makan yang ada di tangannya. Entah kenapa, Stevan terlihat begitu jantan dan memesona saat berkata seperti itu 



***


Terima kasih dan maaf sudah membuat kalian lama menunggu. Luv ....

0 Comments