Suamiku Dingin (Bab 11)

 

Novel gratis

Keyla membuka jendela kamar dan memutuskan berbaring di sofa. Dingin sekaligus segar karena udara malam yang masuk ke kamar akan menjadi saksi bagaimana malam pertamanya dengan Stevan Antonius. Pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya namun Keyla sama sekali tidak tahu siapa lelaki itu sesungguhnya. Keyla tak tahu apa pekerjaan pria itu karena sejak pertama kali datang, Stevan hanya di rumah saja dan sibuk dengan laptop miliknya.


"Tutuplah jendelanya. Nanti masuk kau angin," perintah Stevan ketika baru memasuki kamar. Tapi sayangnya Keyla tidak mau menurutinya. Enak saja main perintah-perintah. Dia saja kalau ditanya tidak pernah menjawab. Pikir Keyla jengkel dan masih memposisikan tubuhnya dengan nyaman di atas sofa dengan mata yang terpejam.


"Key?"


Keyla tak menyahut kemudian berpaling dan memposisikan tubuhnya menghadap punggung sofa. Gadis itu menganggap suara Stevan barusan seperti angin lalu. 


"Kenapa kau sangat senang menguji kesabaran ku?" tanya Stevan dengan suara yang berat sambil berjalan pelan ke arah Keyla. 


"Apa kau bisa menanggung akibat dari perbuatan mu itu?" lanjut Stevan lagi tepat di depan telinga Keyla dan seketika itu juga gadis itu membuka mata dan terperanjat.


"Hei!" protes Keyla yang baru saja menyadari pemandangan di depan matanya. Dada berotot pria itu tanpa penutup dengan senyumnya yang menggoda. Keajaiban dunia nomor 8!


"Apa?" jawab Stevan mendekatkan wajahnya pada Keyla. Gadis itu bisa merasakan hangatnya hembusan napas Stevan dan aroma tubuhnya yang menggoda.


Pria itu benar-benar sempurna. Kulitnya tidak putih, juga tidak hitam. Khas orang Indonesia. Otot-otot di tubuhnya terpahat dengan elok. Tak ada cacat dan dengan kesadaran penuh, Keyla menelan ludahnya. Hasratnya terbangkitkan dan diam-diam ... ia berusaha mengontrol dirinya sendiri agar tak menjatuhkan diri pada calon suaminya yang menyebalkan itu.


"Anu ... tidak apa-apa!" Keyla memalingkan wajahnya ke arah lain sementara Stevan menutup jendela dengan melewati tubuh Keyla. 


"Oh ...." Hanya satu kata itu yang terucap dari bibir Stevan sebelum ia mengangkat tubuh Keyla tanpa aba-aba. 


Tanpa ragu, Keyla melingkarkan tangannya di leher Stevan. Ia menatap mata pria itu dan wajahnya pun mulai memanas. Tampan, sentuhan tangannya begitu hangat, dan tubuhnya terasa kokoh serta kuat. Keyla tak ingat kapan pertama kali ia mulai menjatuhkan hatinya pada seorang Stevan Antonius. Ia tak ingat kapan pertama kali hatinya tergoyahkan. Yang jelas, Keyla tak memungkirinya. Meskipun singkat, hatinya telah terpikat.



Oh, tidak! Lagi-lagi aku terjatuh dalam tipu muslihatnya! Batin Keyla sambil menggelengkan kepala dan Stevan hanya tersenyum melihat tingkah laku gadis yang sedang dipeluknya. Kulitnya terasa halus, bibirnya yang merona terlihat indah, aroma yang manis, dan Stevan mulai kesulitan mengendalikan dirinya sendiri.


"Tidurlah di sini." Ditaruhnya tubuh keyla di tengah tempat tidur dengan pelan. 


"Bagaimana kalau aku tidak mau? Apa kamu mencintaiku?" tanya Keyla yang tak mau melepaskan tangannya dari leher Stevan. 


"Key ...," gumam Stevan dengan tatapan mata sayu.


"Aku tidak akan melepaskan tangan ku jika kamu tidak menjawab!"


"Itu yang aku inginkan. Jangan lepaskan apapun yang terjadi. Oke?" katanya lembut sambil membelai rambut Keyla yang masih enggan melepaskan tangannya.


"Uhmmmm."


"Kalau begitu, lepaskan tangan mu. Kau harus tidur."


Keyla menggeleng pelan. "Tidak mau."


Stevan mengelus rambut Keyla sekali lagi dan melayangkan sebuah kecupan lembut di dahinya. "Apa kau suka begini? Aku tidak ingin kau sakit karena tidur terlalu malam."


"Hummmm."


Pria itu kemudian melepaskan tangan Keyla yang membelenggu lehernya dan menutupi tubuh Keyla menggunakan selimut yang hangat.


"Apa kamu mencintaiku?" tanya Keyla sekali lagi karena sejak tadi, Stevan tak menjawab pertanyaannya. Keyla ingin pria itu menjawab dengan bibirnya yang sexy dan suara yang parau. Bukankah hal yang membahagiakan mendengar ucapan cinta dari orang yang dicintai?


"Tentu. Aku mencintaimu jauh sebelum kau menyadarinya. Sekarang, kau harus tidur," ucapnya lembut yang membuat dada Keyla dah dig dug tak karuan.


"Akan sulit menahannya lebih jauh lagi kalau kita terus seperti ini," sambung Stevan dengan suara bergetar sembari menjauhi tubuh Keyla meskipun itu menentang perasaannya sendiri. Stevan ingin hal lain. Sesuatu yang lebih jauh lagi dari apa yang ada saat ini. Lebih dekat, lebih intim, dan tentu saja lebih dari dari hanya sekadar bersentuhan.



Keyla menarik tubuh Stevan dan merengkuhnya ke dalam pelukan ketika pria itu hendak membuat jarak. Gadis itu menghirup aroma pria di dekapannya erat-erat. Merasakan hangat sekaligus basah tubuhnya yang dipenuhi titik-titik keringat. Keyla benar-benar terpikat dan memeluknya makin erat.


"Kamu sungguh pria yang pandai menjerat hati para gadis," gumam Keyla menggigit telinga Stevan dengan lembut. "Apa kau menyukainya?" bisiknya lagi setengah menggoda. 


"Key. Kumohon hentikan," pinta Stevan memelas dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.


"Bukankan kemarin kamu ingin melakukannya?" tanya Keyla dengan sorot mata yang mulai menginginkan lebih. "Aku menginginkan mu, Steve. Jadikan aku milik mu seutuhnya." 


"Key ...."


"Ssttttt. Jangan bicara. Kita akan menikah, kan? Tidak ada salahnya kita melakukannya sekarang," balas Keyla menempelkan jari telunjuknya pada bibir Stevan yang tipis dan kemerahan lalu memagut bibir lelaki itu dengan lembut. Stevan tak kuasa menolak dan kedua tangannya merengkuh tubuh Keyla ke dalam dadanya yang bidang. Tak ada jarak karena yang ada hanya hasrat yang ingin segera mereka tuntaskan.


Stevan benar-benar tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Tak ada kata lain selain mengikuti permainan Keyla.


"Apa kau mencintai ku?" tanya Stevan menghentikan gerakan bibirnya. Napasnya terasa panas di wajah Keyla dan rasanya, sulit sekali menghindari gadis yang sedang membelai wajahnya.


"Aku mencintai mu, Stevan." Keyla menjawab dengan napas tersengal lalu mendekatkan lagi bibirnya pada Stevan dan menautkannya. Dan perlahan-lahan, tangan Keyla mulai turun ke pundak pria itu yang kekar, menyusuri dadanya dengan jemari dan sesekali mengelus bagian yang menonjol dan kecoklatan.


Keyla melepaskan bibirnya dan memilih untuk mengenal setiap inci tubuh Stevan menggunakan bibirnya. Dimulai dari leher, dada, bagian perutnya yang berotot dan ketika sampai pada bagian yang paling terasa keras dari tubuh pria itu, akhirnya Stevan terhenyak. Kesadarannya kembali dan cepat-cepat melepaskan Keyla.


"Tunggulah sebentar lagi, Key. Sekarang bukan waktu yang tepat," ucap Stevan kemudian meninggalkan gadis itu yang terdiam dengan kekecewaan. Biasanya, Bima tak pernah menolak. Dan dari yang ia tahu, pria menyukai pasangan yang agresif. Tapi, sekarang? Stevan menolak dirinya. Mengacuhkan tubuhnya yang dengan senang hati diserahkan. 


***

Note: Komentar di bawah ya biar author semangat update ....

Bersambung ....

0 Comments