Suamiku Dingin (Bab 12)

 

Novel gratis


Hari masih gelap ketika Keyla membuka matanya dan tersusup rasa kecewa ketika sadar bahwa semalaman Stevan tak kembali ke kamar itu.


Sebegituingin kah pria itu menghindariku? Batin Keyla gemas.


Dengan malas Keyla menyibakkan selimut dan berjalan keluar kamar. Ia penasaran di mana pria itu. Di dapur tidak ada. Saat membuka ruang kerja Stevan, dia juga tidak ada di sana. Ruangan itu tak menampakkan tanda-tanda tunangannya ada di sana. Dengan langkah cepat, Keyla menuju tempat gym namun dia juga tidak ada. Saking kesalnya, Keyla mencoba membuka pintu di samping tempat gym karena lampunya menyala. Ruang musik.


Dilihatnya Stevan tengah terbaring di sofa warna hitam dengan dada bidang yang terpampang tanpa penutup. Ketika ia mendekat, sayup-sayup Keyla mendengar suara dengkuran Stevan. Wajahnya begitu tenang, bibirnya yang tipis nampak berkilauan, manis dan menggoda.


Gadis itu akhirnya memutuskan untuk membungkuk, memandangi wajah Stevan yang terlihat tenang dan menyenangkan. Ini bukan pertama kalinya gadis itu jatuh cinta. Namun, dengan Stevan ada yang berbeda. Seolah-olah pria itu pernah hadir dalam kehidupan masa lalu yang tak ia ingat entah kapan itu terjadi. Ada potongan-potongan kehidupannya yang hilang namun ia merasa yakin bahwa Stevan bukanlah orang yang benar-benar asing dalam kehidupannya.


Karena tidak ingin membangunkan Stevan, Keyla memutuskan untuk melihat-lihat ruangan itu. Banyak sekali piringan hitam baik itu dari penyanyi lawas atau modern. Tidak heran kenapa dia memilih piringan hitam daripada kaset atau cd, karena dia memang menyukai hal-hal klasik.


Rumah ini, contohnya. Baik dari segi arsitektur, perabotan, lukisan, semuanya serba jadul alias jaman dulu. Termasuk ... cara berpikir pria itu. Buktinya, ia menahan keinginannya untuk menyentuh tunangannya lebih jauh lagi sebelum sumpah setia terucapkan di hadapan Tuhan. 


Keyla duduk di karpet yang sudah terlihat usang. Ada sebuah buku yang terletak di atas meja. In Black And White karya Rudyard Kipling. Buku yang berisi kumpulan cerita pendek dan perlahan, Keyla pun mulai membuka lembar demi lembar. Membaca sekilas deretan abjad dan mengagumi kertas berwarna kekuningan yang masih bagus karena terawat.


Joseph Rudyard Kipling atau yang dikenal dengan nama Rudyard Kipling adalah seorang penulis cerita pendek, novelis, dan juga penyair. Pria kelahiran Bombay, India pada 30 Desember 1865 telah menelurkan banyak sekali buku-buku yang terkenal di seantero jagad raya. Salah satunya adalah The Jungle Book.


"Apa kau menyukainya?" suara Stevan mengagetkan Keyla dan tanpa ia sadari, lelaki itu sudah duduk di sampingnya.


"Entahlah. Kukira aku akan menyukainya jika sudah membaca keseluruhan cerita," balas Keyla seadanya dan tiba-tiba Stevan mengangkat tubuh gadis itu agar lebih dekat dengannya. Kakinya yang panjang terbuka dan mendudukkan Keyla diantara kedua kaki itu. Keyla hampir pingsan karena hal itu sungguh erotik.


'Ya Tuhan, apa lagi ini? Hatiku bergemuruh dan sangat kacau.'


"Bisakah kamu memberi aba-aba sebelum melakukannya?" tanya Keyla jengkel sekaligus senang. 


Sudut bibir Stevan terangkat dan tangannya yang kekar melingkar di perut Keyla. Alhasil, tubuhnya yang kecil menempel di dada Stevan yang besar dan berotot.


Keyla bisa merasakan detak jantung Stevan. Suaranya terdengar seperti genderang yang ditabuh. Sedangkan Keyla sendiri seperti sampan yang ingin segera dikayuh oleh nelayan. Mengharap dengan sangat.


"Apa kau kaget?" balasnya tepat di depan telinga gadis itu dan sontak bulu romanya pun merinding.


"Mmmmmhhh." Keyla tak bisa lagi berkata-kata. Suasana ini sangat canggung dan membuatnya bingung. Antara ingin dan menahan sesuatu di dalam dirinya.


Stevan makin mengeratkan pelukannya Keyla dan seketik tubuh Keyla tenggelam dalam dada Stevan dan keringatnya membasahi punggung gadis itu.


"Hei!" protes Keyla namun pemuda itu tidak menghiraukannya. Stevan sedang sibuk mencium aroma tubuh Keyla yang manis serta segar. Dan tanpa terasa, ia mengecup lembut puncak kepala tunangannya. 


'Ya, Tuhan!' 


Keyla berusa tidak memekik dan tetap diam. Jantungnya seperti genderang yang ingin ditabuh.


Bibir Stevan mulai menuruni tengkuk gadis yang ada di hadapannya kemudian menggigit perlahan. Bibir Keyla mendesis dan menikmati setiap sentuhan yang dilayangkan padanya.


'Key, sadar, Key! Jangan tergoda dengan tipu muslihatnya. Kemarin dia menolakmu dan kini ia menggodamu.'


Entah darimana datangnya suara itu yang membuat Keyla terkesiap. 


"Ke kenapa kamu melakukannya? Bukankah kamu sendiri yang menyuruhku bersabar?" tanya Keyla terbata dengan tubuh yang meremang.


"Karena kau selalu menggodaku." Ia menjawab sambil menggigit leher Keyla yang jenjang dengan lembut. Keyla yang sedang terbakar hasrat pun menggigit bibirnya sendiri. Berusaha menahan agar tidak ada suara yang keluar dari sela-sela bibirnya.


"Apa kau mau melihat sesuatu?" tanya Stevan menghentikan serangan bibirnya meski tangannya tetap melingkar di dada Keyla yang terasa empuk dan menggairahkan di tangannya.


"A- apa?"


"Berdirilah. Ambil sesuatu dari laci meja itu."



Keyla pun  menuruti permintaan Stevan dan berjalan menuju meja yang dimaksud.



'Akhirnya aku terbebas dari cengkeraman! Sadarlah dirimu, Key! Jangan sampai terperdaya olehnya.'



"Bukalah," suruh Stevan dengan suaranya yang parau dan terdengar seksi sekaligus jantan.


Keyla kembali duduk di tempat semula kemudian membuka album foto berwarna coklat itu. Keyla melihat isinya, ada foto seorang bayi yang sangat lucu. Ia memakai bando warna pink dan baju berwarna senada.


Keyla membalikkan album. Ada foto seorang bayi yang belajar merangkak dan terlihat imut. Dan dibaliknya lagi ada seorang anak perempuan memakai gaun biru muda yang belajar berjalan. Keyla mengernyitkan dahi. Ada sesuatu yang aneh. Ia seperti mengenali foto yang terakhir. 


'Apakah ini aku? Keyla bertanya pada dirinya sendiri.'


"Steve... apakah ini fotoku?" Keyla bertanya. Antara ragu dan bingung. Dan perlahan pertanyaan yang beberapa hari ini menggelayuti pikiran gadis itu pun mulai tersingkap. Stevan tersenyum. Manis dan menggoda bercampur menjadi satu.


Keyla membuka lembaran album itu hingga habis dan di halaman paling belakang ada seorang wanita yang sedang hamil dan seorang anak laki-laki sekitar usia sepuluh tahun. Ia mengamati wajah wanita itu betul-betul.


'Mama? Dan anak laki-laki itu, aku seperti melihatnya di suatu tempat. Ya Tuhan! Stevan?'


Stevan langsung memeluk Keyla yang sedang diliputi kebingungan dan berusaha mengumpulkan teka-teki. "Aku mencintaimu bahkan sebelum kamu lahir," ucapnya lembut dan sebuah kecupan kecil mendarat di kepala Keyla.


'Apakah itu sebabnya aku tak merasa asing lagi padanya? Seperti pernah melihat dan mengenalnya di sebuah tempat. Apakah tempat itu adalah rahim Mama? Dan apakah perjodohan kami sudah direncanakan bahkan saat aku masih dibungkus air ketuban?'


Keyla membalikkan badan dan memandangi wajah Stevan yang sedang menatapnya. Ia membelai wajahnya yang mulai ditumbuhi rambut halus dan melihat jauh ke dalam bola matanya.


'Aku tidak percaya ada seorang pria yang jatuh cinta hanya sekali seumur hidupnya. Ini seperti mimpi. Mimpi yang tidak akan kulupakan meski hanya sebentar.'


Stevan memeluk Keyla dengan erat hingga ia mulai kesulitan untuk bernapas namun aku menikmatinya. Tubuhnya yang basah, aromanya yang jantan, juga sentuhan tangannya yang mulai membuat dirinya tidak terkendali.


"Apa kau mau melakukannya?" tanya Keyla dengan nada memelas.


"Sampai kapan kamu menyiksaku?" tanya Keyla lagi dan menatap pria di depannya dengan sayu dan berharap ada simpati yang datang padanya.


Pria itu pun menjatuhkan tubuh Keyla ke lantai lalu memandanginya tanpa melakukan apa-apa. "Bersabarlah ...," ucapnya lirih dengan kecupan di pipi kemudian berdiri dan meninggalkan Keyla yang lagi-lagi, ia merasa dikacangi.


"Stevan?!" Keyla berteriak ketika lelaki itu hendak membuka pintu. Stevan menoleh ke arah Keyla dan menjawab, "What?" tanyanya dengan senyum tersungging di bibir.


 Shit!


🍁

1 Comments